gambling X-Steel - Wait

Sunset part 1

Halooo.....
Salam Jogja Istimewa✌️
Kali ini aku mau share salah satu wisata yang berada di jogja, salah satu  pengalaman trip aku di suatu tempat yang bagus banget untuk kamu datengin di waktu senja...okey langsung aja untuk kamu yang baru pertama kali datang ke jogja yang wajib kamu kunjungi ketika senja yaitu pantai parangtritis biasanya disebut dengan paris, pantai ini berada dibantul dan tidak terlalu jauh dari pusat kota, pantai dengan pasir hitam ini ta' kalah cantik dengan pantai pantai yang lain, tentunya dia memiliki kecantikan yang membuat pengunjung terpesona ketika melihat senjanya, disini kalian juga bisa menelusuri pantai dengan berkuda tentu saja dengan menyewanya, ets....jangan hawatir jika kalian ingin masuk ke pantai ini murmer alias murah meriah di jamin ta membuat kantong kalian bolong 😁 cukup dengan 10.000 perorang kalian sudah bisa menikmati keindahan alam dengan sepuasnya, dan jika kalian membawa kendaraan motor cukup 3.000 untuk membayar parkir, cukup hemat bukan 😁

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kirim paket lewat Tiki

Ceritanya abis kirim paket dari jogja buat adikku dikebumen pake tiki yang REG, kirim satu baju ga sampe sekilo klo liat di pengecekan harganya lebih murah pas langsung dilapangan lumayan juga...wkwk 
tempel sleman to sruweng kebumen #25k
Semoga bermanfaat ya infonya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Benteng Vastenburg

Haii....dalam cerita kali ini saya ingin membagikan pengalaman ketika saya pergi ke benteng vastenburg di solo, kenapa saya memilih untuk ke  benteng vastenburg? Salah satunya adalah ingin mengunjungi situs sejarah yang berada di solo, sebelum saya pergi so pasti saya mencari informasi yang terkait dengan lokasi yang ingin saya tuju nah ketika saya mencari-cari informasi mengenai benteng vastenburg saya mendapatkan informasi bahwa benteng vastenburg ini adalah salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi ketika berada di solo dengan harga tiket 2k perorang dan ketika saya sampai di benteng vastenburg ini yang saya rasakan tidak ada kehidupan manusia di dalamnya saya melihat dari kejauhan hanya ada segerombolan hewan entah itu kambing atau rusa dan ternyata pagarnya pun digembok, alhasil saya berfoto di depannya saja....ketika saya bertemu dengan salah satu warga setempat saya berinisiatif untuk bertanya mengenai benteng vastenburg kenapa tidak buka? Dan jawabannya adalah benteng vastenburg memang tidak dibuka untuk umum di buka hanya pada acara-acara tertentu saja. Jadi bisa disimpulkan kalian bisa masuk ke benteng vastenburg ini ketika ada acara tertentu saja.
Terimakasih yang sudah mampir semoga bermanfaat Aamiin 😇

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

evaluasi program uk2


PROPOSAL EVALUASI PROGRAM UMUM
EVALUASI PROGRAM DANA BANTUAN OPERASIOANAL SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGRI MARGOREJO TEMPEL SLEMAN YOGYAKARTA
Dosen Pengampu : Dr. Akif Khilmiyah, M.Ag.




DISUSUN OLEH :
Nama : Ratna Nurjanah
NIM : 20130720178
PAI-D

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015/2016
Latar Belakang
          Menjadi bangsa yang maju tentu merupakan cita-cita yang ingin dicapai oleh setiap negara di dunia. Sudah menjadi suatu rahasia umum bahwa maju atau tidaknya suatu negara di pengaruhi oleh faktor pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu kunci penanggulangan kemiskinan dalam jangka menengah dan jangka panjang. Namun sampai saat ini masih banyak masyarakat miskin yang memiliki keterbatasan akses untuk memperoleh pendidikan bermutu, hal ini disebabkan antara lain karena mahalnya biaya pendidikan.
          Setiap Warga Negara mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan, tetapi kenyataannya yang ada tidak semua Warga Negara memperoleh pendididkan. Salah satu faktor penyebabnya adalah faktor ekonomi. Masyarakat miskin cenderung memiliki tingkat pendidikan yang rendah, sehingga sering sekali terdengar istilah bahwa masyarakat miskin juga bodoh karena ketidakmampuannya memperoleh pendidikan.
          Menurut data yang ada sebanyak 85% anak putus sekolah usia pendidikan dasar melanjutkan hidup dengan menjadi pekerja. Terdapat sekitar 1 juta lebih anak usia pendidikan dasar yang mengalami putus sekolah. Untuk menanggulangi hal tersebut, maka pemerintah membuat suatu usaha kesejahteraan sosial dalam bidang pendidikan guna meningkatkan mutu dan kualitas hidup masyarakat miskin yang cenderung rendah. Dimana hal tersebut diimplementasikan melalui satu program, yakni Program BOS (Bantuan Operasional Sekolah).
         Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dalam penyelenggaraan pendidikan adalah membantu peserta didik untuk mendapatkan pendidikan yang bebas biaya dan bermutu. Masyarakat mempunyai pengharapan yang begitu tinggi dengan adanya pendanaan BOS oleh pemerintah dan pemerintah daerah langsung dengan semestinya dan pihak-pihak yang terkait bertanggung jawab dalam pelaksanaannya.
         Program BOS dalam pemanfaatannya adalah untuk pemerataan dan perluasan akses, program BOS juga merupakan program untuk meningkatkan mutu, relevansi dan daya saing serta untuk tata sekolah, akuntalibitas dan pencitraan publik. Melalui program ini yang terkait dengan pendidikan dasar 9 tahun, setiap pengelola program pendidikan harus memperhatikan hal-hal berikut : 
BOS harus menjadi sarana penting untuk memingkatkan akses dan mutu pendidikan dasar 9 tahun.
Tidak adanya peserta didik miskin yang putus sekolah.
Lulusan SD harus diupayakan keberlangsungan pendidikannya ke SMP.
Kepala sekolah mengajak peserta didik SD yang akan lulus dan berpotensi tidak melanjutkan sekolah ditampung di SMP sementara, apabila terdapat peserta didik SMP yang akan putus sekolah agar diajak kembali ke bangku sekolah.
Kepala sekolah bertanggung jawab mengelola dana BOS secara transparan dan akuntabel.
BOS bukan penghalang bagi peserta didik, orang tua, atau walinya dalam pemberian sumbangan sukarela yang tidak mengikat kepala sekolah.

         Melalui program ini, pemerintah pusat memberikan dana kepada sekolah sekolah  setingkat SD dan SMP untuk membantu mengurangi beban biaya pendidikan yang harus ditanggung oleh orangtua siswa. BOS diberikan kepada sekolah untuk dikelola sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat.
        Namun dari literature dan fakta yang ada bahwa kondisi secara umum menunjukkan bahwa pelaksanaan program BOS belum mampu memberikan layanan pendidikan bagi mesyarakat miskin secara berkualitas. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor dan masalah sebagai berikut; Dana BOS rawan terhadap penyelewengan korupsi, pengalokasian Dana Bos tidak tepat sasaran sehingga Program BOS belum menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi masalah pendidikan di Indonesia. Program BOS belum berpotensi meningkatkan akses masyarakat miskin terhadap pendidikan disebabkan masih terdapat berbagai pemungutan-pemungutan biaya yang sangat membebani siswa. Permasalahan yang selalu dialami oleh masyarakat, meskipun dana BOS telah dikucurkan Pemerintah kepada Sekolah Dasar/sederajad tetap saja setiap tahun ajaran baru /penerimaan murid baru selalu memungut bantuan dana rutin berupa Sumbangan Pembinaan Pendidikan maupun iuran.

Rumusan Masalah
Bagaimana Pelaksanaan Program Bantuan Operasional Sekolah di Sekolah Dasar  Negeri Margorejo?
Apakah penggunaan dana yang telah dikucurkan oleh pemerintah telah dimanfaatkan secara benar dan transparan oleh pihak penerima?

Program Evaluasi
       Program umum yang dievaluasi untuk pemrosesan Dana BOS  ini; pertama,  meningkatkan pendidikan yang mutu untuk SD Negri Margorejo. Kedua, penunjang pendidikan sarana dan prasarana SD Negri Margorejo.

Tujuan Evaluasi Program
Secara umum program BOS bertujuan untuk meningkatkan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 9 tahun yang bermutu. Tujuan umum penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan program Bantuan Operasional Sekolah di SD Negri Margorejo.
Secara khusus program BOS bertujuan untuk membebaskan pungutan bagi seluruh siswa SD/SDLB negri dan SMP/ SMPLB/ SMPT (terbuka) negri terhadap BOS, kecuali pada rintisan sekolah bertarif intetnasional (RSBI) dan sekolah bertarif internasional (SBI). Sumbangan/ pungutan bagi sekolah RSBI dan SBI harus tetap mempertimbangkan fungsi pendisikan sebagai kegiatan nirlaba, sehingga sumbangan/ pungutan tidak boleh berlebih. Membebaskan pungutan seluruh siswa miskin dari seluruh pungutan dalam bentuk apapun, baik disekolah negri maupun swasta. Meringankan biaya operasu sekolah bagi siswa disekolah swasta.
Tujuan khusus adalah untuk mengetahui bagaimana dana BOS dalam meningkatkan akses pendidikan bagi siswa/siswi keluaraga miskin atau tidak mampu di SD Negeri Margorejo.

Manfaat Evaluasi
Manfaat praktisnya sebagai berikut:
Bagi guru, dengan adanya instrumen evaluasi program Bantuan BOS dapat membantu guru dalam mengevaluasi keberhasilan dari pelaksanaan Program BOS di sekolahnya, perencanaan proses belajar mengajar yang baik.
Bagi sekolah, dengan adanya instrumen evaluasi pelaksanaan program BOS dapat diketahui kekurangan dan kelebihan dari program yang telah dilaksanakan di sekolah, sehingga dapat dilakukan adanya perbaikan dalam pelaksanaan BOS berikutnya, dan Pengendalian proses belajar mengajar yang baik, Pengorganisasian proses belajar yang efektif.
Bagi Dinas Pendidikan, Dapat membantu dinas pendidikan dalam melakukan evaluasi terhadap pelakasanaan Program BOS dengan menggunakan instrumen evaluasi program BOS yang standar.

Tinjauan Pustaka
Kebijakan Pendidikan sebagai (bagian) Kebijakan Publik
         Kebijakan publik adalah keputusan-keputusan yang mengikat bagi orang banyak pada tataran strategis atau bersifat garis besar, yang dibuat oleh pemegang otoritas publik. Sebagai keputusan yang mengikat publik maka kebijakan publik haruslah dibuat oleh otoritas politik, yakni mereka yang menerima mandat dari publik atau orang banyak, umumnya melalui suatu proses pemilihan untuk bertindak atas nama rakyat banyak. Dalam kontek negara kita, NKRI, maka pemegang mandat dari publik itu adalah pemerintah RI.
        Bertitik tolak dari konsep itu maka jelaslah bahwa kebijakan pendidikan mestinya menjadi kebijakan publik. Tetapi kenyataannya kebijakan pendidikan baru menjadi bagian dari kebijakan publik. Kenapa?
Berdasarkan Prof. Tilaar, karena kebijakan pendidikan belum menjadi prioritas utama di negeri ini. Dinegeri ini pembangunan masih menjadi prioritas utama; dengan kata lain pendidikan ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan. Dinegara-negara maju, pembangunan tidak lagi menjadi isu, kebijakan pendidikan menjadi kebijakan publik. (Tilaar:2008)
Kebijakan pendidikan adalah strategi untuk mencapai tujuan pendidikan. Hal ini memberikan inspirasi kepada kita hendaknya kebijakan pendidikan harus senantiasa berdasarkan kepada hakikat pendidikan. Hakikat pendidikan adalah membantu peserta didik untuk mencapai pengembangan kepribadian /tingkat kedewasaan yang optimal. Jadi, kebijakan pendidikan yang baik adalah kebijakan yang berpihak kepada kepentingan peserta didik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam bukunya, Tilaar menegaskan bahwa “Kebijakan pendidikan hendaknya diarahkan bagi pemenuhan kebutuhan peserta didik dan bukan kepuasan birokrat”. (Tilaar : 2008).
Kebijakan Pendanaan Pendidikan
        Kebijakan pendanaan pendidikan di Indonesia tertuang dalam PP nomor 48 tahun 2008. Yang dimaksud dana pendidikan adalah sumber daya keuangan yang disediakan untuk menyelenggarakan dan mengelola pendidikan. Sedangkan biaya pendidikan adalah uang yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan pendidikan. Namun demikian, kedua istilah tersebut sering digunakan dalam makna yang sama.
Dana pendidikan merupakan unsur masukan instrumental (insrumental input) yang berpengaruh langsung terhadap proses pendidikan. Proses pendidikan mempunyai pengaruh terhadap output dalam sistem pendidikan. Walaupun tidak berhubungan langsung dengan output atau hasil pendidikan, dana pendidikan merupakan komponen yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan. Dapat dikatakan bahwa sistem pendidikan tidak dapat berjalan dengan optimal tanpa dukungan dana pendidikan.
Pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat (UU Sisdiknas pasal 46 ayat 1). “Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat mengerahkan sumber dana yang ada sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.” (UU Sisdiknas pasal 47 ayat 2). Yang dimaksud masyarakat adalah penyelenggara pendidikan non-pemerintah, peserta didik, orangtua/wali peserta didik, dan pihak lain yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan.

Dalam sistem pendanaan pendidikan ada beberapa katagori biaya. Secara garis besar ada 3 kelompok biaya pendidikan : biaya satuan pendidikan, biaya penyelenggaraan/pengelolaan pendidikan, dan biaya peserta didik. Biaya satuan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, bantuan biaya pendidikan, dan beasiswa. Biaya penyelenggaraan meliputi biaya investasi (lahan dan non-lahan) dan biaya operasi (personalia dan non-personalia).
Penyaluran dan Penggunaan dana pendidikan oleh satuan pendidikan dilaksanakan melalui sistem anggaran pemerintah/pemerintah daerah. Satuan pendidikan menrima dana pendidikan dari pemerintah/pemerintah daerah dalam bentuk hibah. Anggaran belanja untuk melaksanakan fungsi pendidikan pada sektor pendidikan dalam APBN setiap tahun anggaran sekurang-kurangnya 20% dari belanja negara.
Kebijakan BOS
        Bantuan Operasional Sekolah atau BOS diluncurkan berdasarkan Join management Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM) Bidang Pendidikan antara Depdiknas dan Depag.
Seperti telah disinggung dalam paragraf sebelumnya bahwa salah satu unsur dalam pendanaan pendidikan adalah Biaya Satuan Pendidikan (BSP). Salah satu unsur dalam BSP adalah biaya operasional baik personal maupun non-personal.
BOS adalah bantuan operasional sekolah yang diarahkan untuk biaya non-personal. Kebijakan pemberian bantuan ini bertujuan untuk membebaskan biaya pendidikan bagi siswa tidak mampu dan meringankan bagi siswa lain, agar mereka memperoleh layanan pendidikan dasar yang lebih bermutu sampai tamat dalam rangka penuntasan wajar 9 tahun.
Kebijakan ini dilatarbelakangi oleh bertambahnya penduduk miskin akibat pengurangan subsisi BBM. Penduduk miskin ini secara finansial tidak mampu lagi untuk membiayai pendidikan bagi putra-putrinya.

Hal ini sungguh mengancam kesuksesan program wajib belajar 9 tahun yang ditargetkan akan selesai pada tahun 2008. Untuk meningkatkan kemampuan mereka perlu bantuan dana pendidikan. Pemerintah sebagai pemegang otoritas di negeri ini perlu mengambil kebijakan tersebut.
         Sasaran program BOS adalah semua sekolah setingkat SD dan SMP, baik negeri maupun swasta di seluruh Indonesia. Kejar Paket A, Paket B, dan SMP terbuka karena ketiga program tersebut telah memperoleh dana dari pemerintah. Madrasah Diniyah juga tidak menjadi sasaran program BOS karena siswa dari MD tersebut pada umumnya telah terdaftar di sekolah reguler.
Besar dana BOS yang diterima sekolah dihitung berdasarkan jumlah siswa dengan ketentuan :
SD/MI/SDLB/Salafiyah/sekolah agama non islam setara SD : Rp 235.000,- per siswa/per tahun.
SMP/MTs/SMPLB/Salafiyah/sekolah non Islam setara SMP : Rp 324.500,- per siswa/per tahun.
          Kendatipun kebijakan BOS ini berlaku secara nasional, pemerintah memberi jaminan/hak kepada sekolah untuk menolak BOS. Penolakan dapat diterima oleh pemerintah sepanjang mempunyai alasan yang kuat.
   
Landasan Teori
Teori yang digunakan adalah mengacu pada landasan Idil dan Konstitusional Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Landasan Operasional:
UU No 20 tahun 2003 tentang “Sistem Pendidikan Nasional”,
PP No 39 tahun 1991 tentang “Peran Serta Masyarakat”
Landasan hukum kebijakan penyaluran dan pengelolaan dana BOS Tahun 2012          antara lain:
Peraturan Menteri Keuangan No. 201/PMK.07/2011 tentang Pedoman Umum  dan Alokasi BOS Tahun Anggaran  201
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 51/2011 Tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana BOS  dan Laporan Keuangan BOS Tahun Anggaran 2012
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 62 Tahun 2011 Tentang Pedoman Pengelolaan BOS

Kerangka Pikir
       Terselenggaranya program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun menjadikan pemerintah mengharapkan supaya warga Negara Indonesia lebih baik dikemudian. Berdasarkan landasan teori yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dikemukakan kerangka berfikir dalam penelitian ini sebagai berikut: bahwa terdapat  program dana BOS yang akan mempengaruhi belajar siswa. Apakah dengan adanya dana BOS akan memudahkan siswa dalam melakukan wajib belajar dalam 9 tahun  yang sesuai dengan program dana BOS tersebut.

Metopen
Jenis Penelitian
        Jenis penelitian yang digunakan adalah pengembangan yaitu metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut (Sarijo,2011). Produk dalam penelitian ini adalah instrumen evaluasi pelaksanaan program BOS model CIPP.

Lokasi Penelitian
         Dalam evaluasi program ini, lokasi yang dijadikan sebagai objek penelitian tentang  "EVALUASI PROGRAM DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR  NEGRI MARGOREJO TEMPEL YOGYAKARTA"
Prosedur/ Langkah-langkah
Perencanaan Dana BOS SD
         Perencanaan adalah penyusunan anggaran Dana BOS SD yang dilakukan sekolah untuk menetapkan anggaran Dana BOS SD,  meliputi tahap penyusunan RKAS dan penyusunan RAB BOS SD
Pelaksanaan Dana BOS SD
         Pelaksanaan adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh sekolah setelah sekolah menerima dana BOS SD dari pemerintah, kemudian dialokasikan ke seluruh siswa sekolah tersebut dan memfaatkan sesuai dengan Perencanaan Dana BOS SD yang telah dibuat. Pelaksanaan Dana BOS SD ini, terdiri dari penyaluran Dana BOS SD, pengambilan Dana BOS SD, penggunaan Dana BOS SD, pembelanjaan Dana BOS SD, pembukuan Dana BOS SD, pengembalian Dana BOS SD, dan perpajakan terkait Dana BOS SD.
Pengawasan dan Evaluasi Dana BOS SD
         Pengawasan dimaksudkan untuk mewujudkan akuntabilitas dan transparansi pelaksanaan program BOS SD. Pengawasan oleh pihak internal yaitu Komite Sekolah, dan Dinas Pendidikan Kabupaten. Pengawasan eksternal yaitu Dinas Pendidikan Provinsi maupun Pusat. Evaluasi dimaksudkan untuk penentuan alternatif atau pilihan yang tepat dilakukan sekolah dalam pengambilan sebuah keputusan terhadap Pengelolaan Dana BOS SD.
Pelaporan Dana BOS SD
        Pelaporan adalah bentuk pertanggungjawaban yang dibuat oleh sekolah terhadap Pengelolaan Dana BOS SMA yang dilaksanakan oleh satuan pendidikan. Pelaporan Dana BOS SMA berupa laporan lengkap dan laporan ringkas. Laporan tersebut terangkum dalam bentuk hard file dan soft file untuk dilakukan publikasi kepada pemerintah dan/atau masyarakat
Subjek Penelitian
Penentuan subyek penelitian dilakukan untuk mendukung hasil penelitian, maka pemilihan informan dipilihkan orang yang benar-benar mengetahui dan menguasai serta terlibat langsung dengan permasalahan yang sedang diteliti. Subyek penelitian ini adalah Kepala Sekolah, Bendahara BOS SD, Komite Sekolah dan guru yang terkait dalam manajemen program BOS SD. Obyek penelitian ini adalah data yang terkait dengan pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi serta pelaporan.

Teknik Pengumpulan Data
Observasi
Menurut Sukardi (2006: 49), observasi adalah tindakan atau proses pengambilam informasi melalui media pengamatan. Menurut M. Djunaidi Ghony & Fauzan Almanshur (2012:165) observasi merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan dengna ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda, waktu, peristiwa, tujuan, dan perasaan.Dalam penelitian ini observasi dilakukan untuk mengetahui keadaan umum SD Negeri Margorejo. Pada khususnya observasi dilakukan untuk mengamati hasil Pengelolaan Dana BOS SD di SD Negri Margorejo.
Wawancara
Menurut Cholid Narbuko & Abu Achmadi (2013: 83) wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dimana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan. Data yang dihimpun sesuai dengan focus penelitian berupa kata-kata, situasi, dokumentasi dan peristiwa yang diteliti. Wawancara dimaksudkan untuk memperoleh data secara subyektif tentang bagaimana proses penyusunan RKAS, bagaimana proses penyusunan RAB BOS SD, bagaimana proses penyaluran dana BOS SD, bagaimana Pelaksanaan Pengelolaan Dana BOS SD baik yang terkait dengan pengalokasian maupun penggunaan dana BOS SD, dan bagaimana proses evaluasi baik monitoring dan pengawasan, maupun pelaporan penggunaan dana BOS SD. Wawancara dilakukan kepada Kepala Sekolah, Komite Sekolah, Bendahara BOS SD, dan Guru. Wawancara dilakukan untuk mengetahui secara riil Pengelolaan Dana BOS SD di SD Negeri Margorejo.



Dokumentasi
Dokumen sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data dapat dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan. (Lexy J Moleong, 2014: 217). Penggunaan dokumen dalam penelitian ini untuk mengetahui secara obyektif Pengelolaan Dana BOS SD.
Dokumentasi tersebut terdiri dari :
Data mengenai profil SMA Negeri 1 Pejagoan mecakup visi, misi, jumlah siswa, daftar siswa miskin, dan jumlah guru SD Negri Margirejo.
Data Pengelolaan Dana BOS SD yang meliputi pembukuan dana BOS SD, laporan pertanggungjawaban penggunaan dana BOS SD (LPJ), foto-foto transparasi dana BOS SD, dan dokumen lainnya yang relevan serta berkas laporan-laporan yang telah disusun berbagai pihak tentang obyek yang diteliti.
Instrumen
       Ketertarikan untuk melakukan pembuatan model instrumen evaluasi pelaksanaan BOS adalah dana BOS tersebut tidak diberikan langsung kepada siswa akan tetapi diterima dan dikelola oleh sekolah dan program BOS belum pernah dievaluasi, baik oleh lembaga sekolah maupun lembaga lain sehingga sampai saat ini belum mengatahui seberapa manfaat dan cakupan, pemerataan BOS bagi siswa/siswi miskin atau kurang mampu (lihat Surjadi, 2006). Penggunaandana BOS selama ini belumdilakukan evaluasi.
        Evaluasi yang selama ini dilakukan hanya dengan bukti laporan penggunaan dana BOS setiap tri wulan .Dalam melakukan kegiatan evaluasi program perlu ada instrumen untuk untuk mengukur efektifitas program. Instrumen ini digunakan untuk. mengetahui tingkat efektivitas capaian sasaran program BOS di SD Negri Margorejo. Salah satu program evaluasi yang dapat digunakan dalam pembuatan model instrumen evalusi program adalah CIPP (Contex, Input, Process, Product).

         Model evaluasi CIPP adalah model evaluasi yang memandang program yang dievaluasi sebagai sebuah sistem. Model CIPP ini merupakan model evaluasi program yang standar, sehingga cocok digunakan untuk mengevaluasi program bantuan dana BOS. Dari uraian latar belakang masalah, maka penelitian ini dapat dirumuskan masalah dalam penelitin ini adalah: (1) bagaimana evaluasi pelaksanaan program bantuan dana BOS yang selama ini dilakukan di SD Negeri Margorejo? (2) bagaimana mengembangkan instrumen evaluasi pelaksanaan program bantuan dana BOS di SD Negeri Margorejo dengan model CIPP? dan (3)apakah instrumen instrumen evaluasi pelaksanaan program bantuan dana BOS di SD Negeri Margorejo dengan model CIPP yang dikembangkan efektif.
Teknik Analisis Data
       Analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (Boddan dalam Sugiyono, 2013:334). Analisis data dalam penelitian kualitatif mulai dilakukan pada saat proses pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Seperti yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman dalam Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur (2012: 306) analisis data kualitatif menggunakan kata-kata yang selalu disusun dalam sebuah teks yang diperluas atau dideskripsikan.Dalam penelitian ini, analisis data yang dipilih adalah analisis data model Milles dan Huberman, yang meliputi: (1) reduksi data, (2) display/penyajian data, dan (3) mengambil kesimpulan lalu diverifikasi.
Reduksi data
       Menurut Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur (2012: 308),  reduksi data merupakan suatu proses pemilihan, pemusatan, perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari lokasi penelitian. Reduksi data berlangsung secara terus-menerus selama kegiatan penelitian yang berorientasi kualitatif berlangsung.

Display data/penyajian data
Penyajian data merupakan sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Mengamati terhadap penyajian data, peneliti akan dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan berdasarkan atas pemahaman yang didapat peneliti dari penyajian tersebut. Hal ini Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2013:341) mengungkapkan yang paling sering digunakan untuk menyajikan data penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.
Mengambil kesimpulan dan Verifikasi
Kesimpulan harus diverifikasi selama kegiatan berlangsung. Verifikasi dilakukan dengan singkat dan dengan mencari data baru, dapat pula lebih mendalam apabila penelitian dilakukan oleh suatu tim untuk mencapai persetujuan bersama agar lebih menjamin validitas. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih belum jelas dan menjadi kejelasan.













Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi, dkk. 2014, Evaluasi Program Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksar.
Mugiri, Wahyu Lestari, INSTRUMEN EVALUASI PROGRAM DANA BOS MODEL CIPP.
Ramadhansyah, Muhammad, 2013, PENGARUH DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) TERHADAP OPTIMALISASI PROSES BELAJAR MENGAJAR PADA TINGKATAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA DI KOTA SAMARINDA.
YASONNA H. LAOLY, 2014  Nomor 1961, Berita Negara Republik Indonesia.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

evaluasi program


Rancangan Evaluasi untuk Program Umum
A. Judul Kegiatan
    Evaluasi Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di Sd .....

B. Alasan
   Manfaat BOS dalam penyelenggaraan pendidikan adalah membantu peserta didik untuk mandapatkan pendidikan yang bebas biaya dan bermutu. Masyarakat mempunyai pengharapan yang begitu tinggi dengan adanya pendanaan biaya operasional  oleh pemerintah dan pemerintah daerah dapat berlangsung dengan semestinya dan pihak-pihak yang terkait bertanggung jawab dalam pelaksanaannya.
   Program BOS dalam pemanfaatannya adalah untuk pemerataan dan perluasan akses, program BOS juga merupakan program untuk peningkatan mutu, relevansi dan daya saing serta untuk tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik. Melalui program ini yang terkait dengan pendidikan dasar 9 tahun, setiap pengelola program pendidikan harus memperhatikan hal-hal berikut: (1) BOS harus menjadi sarana penting untuk meningkatkan akses dan mutu pendidikan dasar 9 tahun; (2) tidak adanya peserta didik miskin yang putus sekolah; (3) lulusan SD harus diupayakan keberlangsungan pendidikannya ke SMP; (4) kepala sekolah mengajak peserta didik SD yang akan lulus dan berpotensi tidak melanjutkan sekolah ditampung di SMP sementara, apabila terdapat peserta didik SMP yang akan putus sekolah agar diajak kembali ke bangku sekolah; (5) kepala sekolah bertanggung jawab mengelola dana BOS secara transparan dan akutabel; (6) BOS bukan penghalang bagi peserta didik, orang tua, atau walinya dalam pemberian sumbangan sukarela yang tidak mengikat kepada sekolah.

C. Tujuan kegiatan
    Secara umum program BOS bertujuan untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 9 tahun yang bermutu.
     Secara khusus program BOS bertujuan untuk membebaskan pungutan bagi seluruh siswa SD/SDLB negeri dan SMP/SMPLB/SMPT (Terbuka) negeri terhadap biaya operasi sekolah, kecuali pada rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI). Sumbangan/pungutan bagi sekolah RSBI dan SBI harus tetap mempertimbangkan fungsi pendidikan sebagai kegiatan nirlaba, sehingga sumbangan/pungutan tidak boleh berlebih;
Membebaskan pungutan seluruh siswa miskin dari seluruh pungutan dalam bentuk apapun, baik di sekolah negeri maupun swasta;
Meringankan beban biaya operasi sekolah bagi siswa di sekolah swasta.

D. Rumusan Pertanyaan
   1. Bagaimanakah tanggapan pihak penerima atas bantuan operasional sekolah (BOS) baik dari siswa, pihak sekolah, maupun masyarakat?
2. Apakah penggunaan dana yang telah dikucurkan oleh pemerintah telah dimanfaatkan secara benar dan transparan oleh pihak penerima?
3. Bagaimana bentuk pertanggungjawaban penggunaan dana BOS di tingkat sekolah?

E. Metodologi yang digunakan
Penelitian ini termasuk dalam penelitian lapangan yang bersifat studi kasus dengan pendekatan kualitatif deskriptif,

Informasi terkait dengan pertanyaan, masukkan, berbagai sumber antara lain:
a. Observasi
(siswa, orang tua / wali siswa, guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah, masyarakat
b. Berita media massa, baik cetak maupun elektronik.

indikator Dana BOS:
a. Besaran Dana BOS
b. Penggunaan Dana BOS, yang meliputi:
 Pengembangan perpustakaan
 Kegiatan pembelajaran dan ekstra kurikuler siswa
 Kegiatan ulangan dan ujian
 Pembelian bahan-bahan habis pakai
 Perawatan Sekolah
 Pembayaran honorarium bulanan guru honorer dan tenaga
kependidikan honorer.
 Pengembangan profesi guru
 Pembelian alat peraga/ media pembelajaran serta meja dan kursi
belajar
2. Indikator Optimalisasi Proses Belajar Mengajar:
a. Perencanaan proses belajar mengajar yang baik
b. Pengorganisasian proses belajar mengajar yang efektif
c. Pengarahan proses belajar mengajar yang baik
d. Pengendalian proses belajar mengajar yang baik�

F. Prosedur kerja dan langkah- langkah kegiatan
     Program yang baik akan memastikan bahwa setiap pertanyaan, usulan dan keluhan
mendapatkan respon oleh sebab itu disusunlah Prosedur Operasional Standar Pelayanan
Informasi dan Penanganan Pengaduan Masyarakat yang ditujukan untuk:
a. Mengatur alur pertanyaan, usulan, dan pengaduan agar dapat diterima oleh pihak
yang tepat
b. Mengatur pengelolaan tindaklanjut setiap pengaduan yang masuk;
c. Mendokumentasikan proses penanganan pertanyaan, usulan, dan pengaduan; dan
d. Menyediakan informasi yang dapat diakses publik berdasarkan dokumentasi
penanganan yang telah diselesaikan.

    Prosedur Operasional Standar Pelayanan Informasi dan Penanganan Pengaduan
Masyarakat ini merupakan aturan standar yang akan digunakan oleh Tim Manajemen
BOS di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Agar POS ini berjalan baik maka diperlukan
petugas yang memiliki komitmen, kompeten dan menjaga kode etik. Selain daripada itu
dukungan berupa fasilitas komputer, jaringan internet, telepon dan dukungan biaya
operasional. Untuk penyempurnaan pelaksanaan dimasa yang akan datang diharapkan
adanya masukan-masukan dan kerjasama dari berbagai pihak.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Betul

1) Pokok-pokok pendapat dari teori belajar Behavioristik, Cognitive, Humanistik.
A. Behavioristik
Tokoh utama aliran ini ialah J.B Watson. Watson sebenarnya bermula-mula belajar filsafat, tetapi kemudian pindah kedalam lapangan psikologi. Sejak tahun 1812 watson telah menjadi terkenal karenaa penyelidikan-penyelidikannya mengenai proses belajar pada hewan.
-Dasar-dasar pendapat watson bahwa sebagai scince psikologi harus bersifat positif, sehingga obyeknya bukanlah kesadaran dan hal-hal lain yang tak dapat diamati, melainkan haruslah tingkah laku, lebih tegasnya lagi tingkah laku yang pisitif, yaitu tingkah laku yang diobservasi.   
Tingkah laku adalah reaksi organisme sebagai keseluruhan terhadap perangsang dari luar, reaksi tersebut terdiri dari gerakan-gerakan dan perubahan-perubahan jasmani tertentu, jadi dapat diamati secara obyektif. Ada tiga macam teori yaitu
1. Operant conditioning (pembiasaan perilaku respon)
Teori sarbon (stimulus and response bond theory). Tingkah laku yang kompleks ini dapat dianalisis menjadi rangkaian "unit" perangsang dan reaksi (stimulus and response) yang disebut refleks.
Perangsang atau stimulus itu adalah situasi obyektif, yang wujudnya dapat bermacam-macam, seperti misalnya : sinar, bola kasti yang dilemparkan, rumah terbakar, kereta api penuh sesak dan sebagainya.
Response adalah relaksi obyektif dari pada individu terhadap situasi sebagai perangsang, yang wujudnya juga dapat bermacam-macam sekali, seperti misalnya : refleks pattela, memukul bola, menggambil makanan, memutup pintu dan sebagainya.
2. Connectionisme (koneksionnisme)
Pertama-tama adalah teori belajar R.S Bond atau asosiasi. Teori inilah yang pertama kali dicetuskan oleh kelompok Behavioris dengan tokohnya Thomdike. Behavioris mengingatkan agar study mereka benar-benar dapat diminati, seperti halnya dengam ilmu-ilmu lainnya, karena itu mereka tidak mau menggenal atau memperhitungkan hal-hal diluar pengamatan dalam memperlajari dan mengembangkan psikologi belajar. Karena itu menurut mereka belajar akan terjadi kalau ada kotak hubungan antara orang bersangkutan dengan benda-benda yang ada diluar. Ini yang mereka namakan S-R Bond, yaitu S adalah Stimulus dari luar diri seseorang dan R adalah Respon orang bersangkutan, sedangkan Bond adalah Hubungan atau Asosiasi. Sebab itu mereka menyebutkan psikologinya Koneksionisme atau Asosiasisme. Bila seorang anak melihat temannya akan berangkat  kesekolah sebagai suatu stimulus, maka anak ini berhenti dan menunggu teman itu sebagai stimulus, maka anak ini berhenti dan menunggu teman itu sebagai respon dan mereka berangkat bersama-sama kesekolah. Anak ini sudah belajar bahwa berangkat kesekolah sebaiknya bersama-sama dengan teman. Begitu pula sampai disekolah anak-anak disuruh membaca oleh ibu gurunya sebagai stimulus.
3. Classical conditioning (pembiasaan klasik)
a. Teori belajar Disiplin mental Theistik
Theistik berasal dari Psikologi Daya atau Psikologi Fakulti, menurut teori ini individu atau memiliki sejumlah daya mental seperti pikiran, ingatan, perhatian, kemampuan, keputusan, observasi, tanggapan, dan sebagainya, masing-masing daya ini dapat ditingkatkan kemampuannya melalui latihan-latihan. Jadi teori ini memandang mental seprti urat daging yang bisa ditingkatkan kekuatannya melalui latihan-latihan demikian belajar adalah melatih daya.
b. Teori belajar Disiplin mental Humanistik
Bersumber dari aliran psikologi humanistik klasik ciptaan Plato dan Aristoteles. Teori ini sama dengan disiplin mental theistik diatas, yaitu mana kala daya-daya itu dilatih, mereka akan semakin kuat, maka individu bersangkutan dengan mudah dapat memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. Bedanya adalah proses pelatihan, kalau teori diatas melatih bagian demi bagian daya atau potensi anak. Maka disiplin mental humanistik menekankan secara utuh. Sebab itu pun lebih menekan pendidikan umum. Mereka berpendapat kalau seseorang menguasai sesuatu yang bersifat umum, maka dengan mudah bisa ditransfer atau diterapkan kepada hal-hal yang bersifat khusus.
c. Teori belajar Naturalis atau Aktualisasi Diri
Berpangkal fari psikologi Naturalis Romantik yang dipimpin oleh Roussean. Sama halnya dengan kedua teori diatas, teori naturalis inipun memandang setiap anak memiliki sejumlah potensi atau kemampuan, potensi-potensi ini juga harus dikembangkan, tetapi bukan oleh pendidikan dengan cara melatih, melainkan oleh anak itu sendiri, sebab itu teori ini disebut juga teori aktualisasi diri agar anak-anak dapat berkembang sendiri dengan baik, pendidikan perlu menciptakan situasi yang permisif atau rileks hanya dalam situasi seperti inilah anak-anak dapat berkembang secara bebas seperti halnya dengan makhluk-makhluk lainnya, maka naturalis berada pada perkembangan secara alami dialam bebas.
d. Teori belajar Apersepsi
Teori ini berasal dari psikologi struktur Ciptaan Herbart. Sebab itu dinamai pula Herbatisme psikologi ini memandang bahwa jiwa manusia merupakan suatu struktur, struktur ini bisa berubah dan bertambah manakah orang bersangkutan belajar. Pertumbuhan ini dapat melalui asosiasi antara atruktur yang sudah ada dengan hal-hal yang dipelajari. Berarti belajar adalah memperbanyak asosiasi-asosiasi sehingga berbentuk struktur baru dalam jiwa anak.
Langkah-langkah belajar memurut Herbart :
1. Pendidikan harus mengadakan persiapan dengan cermat
2. Pendidikan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga anak-anak merasakan jelas memahami pelajaran itu, yang memudahkan asosiasi-asosiasi baru berbentuk
3. Asosiasi-asosiasi baru berbentuk antara materi yang dipelajari dengan struktur jiwa atas apersepsi anak yang telah ada
4. Mengadakan generasi, pada saat ini terbentuk suatu struktur baru didalam jiwa anak
5. Mengaplikasikan pengetahuan yang baru didapat agar struktur terbentuk semakin kuat.
-Teori belajar klasik, walaupun umumnya sudah tua, untuk hal-hal tertentu masih bisa dipakai.

B. Cognitive
Teori Cognitive - Goesralt - Field, rumpun dari ketiga adalah Cognitive - Goesralt - Field. Kalau rumpun Behavioristik bersifat indikator (menekan unsur-unsur) maka cognitive ini bersifat keseluruhan dan keterpaduan.
1. Teori Cognitive dikembangkan oleh para ahli psikologi cognitive teori ini berbeda dengan Behavioristik, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan bukan respon. Teori ini menekan pada pristiwa mental, bukan hubungan stimulus-respon. Prilaku juga penting sebagai indikator, tetapi yang lebih penting adalah berpikir. Dalam kaitannya dengan berpikir ini, bahwa pada manusia terbentuk struktur mental atau organisasi mental. Pengetahuan terbentuk melalui proses menganasiasian pengetahuan baru dengan struktur yang telah ada setelah pengetahuan baru tersebut diinterprestasikan oleh struktur yang ada tersebut.
Hal lain yang juga sangat penting dalam teori cognitive adalah, bahwa individu itu aktif, konstruktif dan berencana, bukan pasif menerima artimulus dari lingkungan. Menurut para ahli cognitive, individu merupakan partisipan aktif dalam proses memperoleh dan menggunakan pengetahuan, individu berpikir secara aktif dalam membentuk wawasan tentang kenyataan, memilih aspek-aspek penting dari pengalaman untuk disimpan dalam ingatan, atau digunakan dalam pemgelolahan masalah.
2. Teori Goestalt berkembang dijerman dengan pendirinya yang utama adalah Max Wertheimer. Tokoh-tokoh lainnya adalah Walfgang Kohler, Kurt Koffkn, dan Kurt Lewin,  Goestalt bahasa jerman yang artinya kurang lebih konfigurasi, pola, kesatuan, keseluruhan. Memang psikologi Goestalt menekan keseluruhan. Keseluruhan lebih dari jumlah bagian-bagian keseluruhan membuat satu kesatuan yang bermakna, menurut Goestalt belajar harus dimulai dari keseluruhan, baru  kemudian kepala bagian-bagian belajar Goestalt menekankan  pemahaman atau insigiht. Suatu keseluruhan terdiri atas bagian-bagian yang mempunyai hubungan yang bermakna satu sama lain dalam belajar siswa harus memahami makna hubungan antara satu atau bagian dengan bagian lainnya suatu hukum yang terkenal daru teori Goestalt.  Yaitu hukum pragnanz yang kurang lebih berarti teratur, seimbang, harmonis. Belajar adalah mencari dan mendapatkan pragnanz, menemukan keteraturan, keharminisan dari sesuatu. Ada enam ciri belajar menurut Ernest Hilgard  yaitu,
1. Pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar
2. Pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu
3. Pemahaman tergantung kepada pengaturan situasi
4. Pemahaman dilalui oleh usaha coba-coba
5. Belajar dengan pemahaman dapat diulang
6. Suatu pahaman dapat diaplikasikan bagi pemahaman situasi lain
3. Teori medan atau Field Theory merupakan salah satu teori yang termasuk rumpunan Cognitive -  Goestalt - Field. Teori ini sama dengan Goestalt menekan keseluruhan dan kesatupaduan. Memurut teori medan individu selalu berbeda dalam suatu medan atau ruang hidup.
Medan hidup menurut Kurt Lewin
Motif - Kegiatan - Hambatan - Tujuan
Dalam hidup ini ada sesuatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi untuk pencapaiannya selalu ada berier atau hambatan. Individu memiliki satu atau sejumlah dorongan dan berusaha mengatasi hambatan untuk mencapai tujuan tersebut. Apabila individu telah nerhasil mencapai tujuan, maka masuk kedalam medan atau lapangan psikologi baru yang didalamnya berisi tujuan baru dengan hambatan-hambatan baru pula. Demikian seterusnya individu keluar dari suatu bedan dan masuk kemedan psikologi berikutnya. Memurut teori ini belajar adalah berusaha mengatasi hambatan-hambatan untuk memcapai tujuan.

C. Humannistik

2. Iya sampai saat ini masih relevan,  prinsip- prinsip belajar teori tersebut untuk  pendidikan sekarang karena teori- teori yang banyak dikemukakan oleh para akhlinya.

3. Prinsip belajar dalam islam
Rasulullah SAW bersabda: “Mencari ilmu (belajar) wajib hukumnya bagi setiap orang Islam”. Dan pada kesempatan lain beliau pun pernah menganjurkan, agar manusia mencari ilmu meski berada di negeri orang (Cina) sekalipun; meski dari manapun datangnya. Hadis tentang belajar dan yang terkait dengan pencarian ilmu  banyak disebut dalam al-Hadis, demikian juga dalam Al-Qur’an al-Karim. Hal ini merupakan indikasi, bahwa betapa belajar dan mencari ilmu itu sangat penting artinya bagi umat manusia. Dengan belajar manusia dapat mengerti akan dirinya, lingkungannya dan juga Tuhan-nya. Dengan belajar pula manusia mempu menciptakan kreasi unik dan spektakuler yang berupa teknologi.

Belajar dalam pandangan Islam memiliki arti yang sangat penting, sehingga hampir setiap saat manusia tak pernah lepas dari aktivitas belajar. Keunggulan suatu umat manusia atau bangsa juga akan sangat tergantung kepada seberapa banyak mereka menggunakan rasio, anugerah Tuhan untuk belajar dan memahami ayat-ayat Allah SWT. Hingga dalam al-Qur’an dinyatakan Tuhan akan mengangkat derajat orang yang berilmu ke derajat yang luhur (lihat : Qs. Al- Mujadilah : 11).

Apalagi dalam konsep Islam  terdapat keyakinan yang menegaskan, bahwa belajar  merupakan kewajiban dan berdosa bagi yang meninggalkannya. Keyakinan demikan ini begitu membentuk dalam diri umat yang beriman, sehingga  mereka memiliki etos belajar yang tinggi dan penuh semangat serta mengharapkan “janji luhur” Tuhan  sebagaimana yang difirmankan dalam ayat-Nya

2. Pengerrian kata- kata kunci
a. Pendidikan : Pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin terjadi didalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda. Mungkin pula terjadi dengan sengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup. (John Dewey)Pendidikan adalah proses yang terus menerus (Abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi mahluk manusia yang telah berkembangan secara fisik dan mental yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanivestasi dalam alam sekitar intelektual dan kemanusiaan dari manusia. (H. Horne)

Berdasarkan definisi dari para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan proses pembaharuan makna pengalaman yang terus menerus, terjadi didalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda mungkin juga terjadi secara dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan sosial.

b. Pelatihan : Pelatihan atau training sebagai suatu kegiatan yang bermaksud untuk memperbaiki dan mengembangkan sikap, tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dari karyawan sesuai dengan keinginan perusahaan. Pelatihan yang dimaksudkan adalah pelatihan dalam pengertian yang luas tidak terbatas hanya untuk mengembangkan keterampilan semata. (Netisimito, 1996:35)Pelatihan sebagai proses sistematis dimana karyawan mempelajari pengetahuan (Knowledge), keterampilan (Skill), Kemampuan (Ability) atau prilaku terhadap tujuan pribadi organisasi. (Carrell dan Kuzmits 1982:282)Pelatihan berarti menuntun dan mengarahkan perkembangan dari peserta pelatihan melalui pengetahuan, keahlian dan sikap yang diperoleh untuk memenuhi standar tertentu. (Drummond, 1990:63)

Berdasarkan definisi dari para ahli diatas tentang pelatihan, maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah suatu proses kegiatan yang dimaksudkan untuk memperbaiki sikap, tingkahlaku, keterampilan serta pengtahuan baik itu dari karyawan atau peserta pelatihan untuk memenuhi standar (standar sikap, tingkahlaku, keterampila serta pengetahuan yang ditetapkan perusahaan) tententu guna mencapai tujuan perusahaan.

c. Pengembangan: Pengembangan adalah proses peningkatan ketrampilan teknis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan latihan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masa kini maupun masa depan.

d. Pemberdayaan : Pemberdayaan berasal dari kata “daya” yang mendapat awalan ber- yang menjadi kata “berdaya” artinya memiliki atau mempunyai daya. Daya artinya kekuatan, berdaya artinya memiliki kekuatan.

Pemberdayaan artinya membuat sesuatu menjadi berdaya atau mempunyai daya atau mempunyai kekuatan. Pemberdayaan dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan dari empowerment dalam bahasa inggris.

Pemberdayaan atau empowerment adalah proses membangun dedikasi dan komitmen yang tinggi sehingga organisasi itu bisa menjadi sangat efektif dalam mencapai tujuan-tujuannya dengan mutu yang tinggi. Dalam organisasi yang telah diberdayakan akan tercipta hubungan di antara orang-orangnya yang saling berbagi kewenangan, tanggung-jawab, komunikasi, harapan-harapan, dan pengakuan serta penghargaan.

e. Desain : Ada beberapa Pengertian Desain Kurikulum menurut para ahli, diantaranya adalah :
1) Menurut Oemar Hamalik (1993) pengertian Desain adalah suatu petunjuk yang memberi dasar, arah, tujuan dan teknik yang ditempuh dalam memulai dan melaksanakan kegiatan. Fred Percival dan Henry Ellington (1984)

2) Menurut Nana S. Sukmadinata (2007:113) desain kurikulum adalah menyangkut pola pengorganisasian unsur-unsur atau komponen kurikulum. Penyusunan desain kurikulum dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi horizontal dan vertikal. Dimensi horizontal berkenaan dengan penyusunan dari lingkup isi kurikulum. Sedangkan dimensi vertikal menyangkut penyusunan sekuens bahan berdasarkan urutan tingkat kesukaran.

3) Menurut Longstrteet (1993) Desain kurikulum ini merupakan desain kurikulum yang berpusat pada pengetahuan (the knowledge centered design) yang dirancang berdasarkan struktur disiplin ilmu, oleh karena itu model desain ini dinamakan juga model kurikulum subjek akademis yang penekanannya diarahkan untuk pengembangan itelektual siswa. 

Dari uraian diatas dapat diambil ke. simpulan bahwa Desain kurikulum merupakan suatu pengorganisasian tujuan, isi, serta proses belajar yang akan diikuti siswa pada berbagai tahap perkembangan pendidikan. Dalam desain kurikulum akan tergambar unsur-unsur dari kurikulum, hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya, prinsip-­prinsip pengorganisasian, serta hal-hal yang diperlukan dalam pelaksa­naannya

f. Strategi : strategi adalah pencapaian tujuan, sehingga penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Namun sebelumnya perlu dirumuskan suatu tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya.

Beberapa macam strategi pembelajaran  

Menurut Sanjaya (2007 : 177 – 286) ada beberapastrategi pembelajaranyang harus dilakukan oleh seorang guru :
1. Strategi pembelajaran ekspositori
2. Strategi pembelajarab inquiry
3. Strategi pembelajaran berbasis masalah
4. Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir

g. Pendekatan : Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains (2.) Pendekatan filosifi dan (3) pendekatan religi (Uyoh Sadulloh, 1994).

1. Pendekatan sains

Pendekatan sains yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya. Cara kerja pendekatan sains dalam pendidikan yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam.

2. Pendekatan Filosofi

Pendekatan filosofi yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains. 

3. Pendekatan Religi
Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains (2.) Pendekatan filosifi dan (3) pendekatan religi (Uyoh Sadulloh, 1994).

1. Pendekatan sains

Pendekatan sains yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya. Cara kerja pendekatan sains dalam pendidikan yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam.

2. Pendekatan Filosofi

Pendekatan filosofi yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains. 

3. Pendekatan Religi

Pendekatan religi yaitu suatu pendekatan untuk menyusun teori-teori pendidikan dengan bersumber dan berlandaskan pada ajaran agama. Di dalamnya berisikan keyakinan dan nilai-nilai tentang kehidupan yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk menentukan tujuan, metode bahkan sampai dengan jenis-jenis pendidikan.

Cara kerja pendekatan religi berbeda dengan pendekatan sains maupun filsafat dimana cara kerjanya bertumpukan sepenuhnya kepada akal atau ratio, dalam pendekatan religi, titik tolaknya adalah keyakinan (keimanan). Pendekatan religi menuntut orang meyakini dulu terhadap segala sesuatu yang diajarkan dalam agama, baru kemudian mengerti, bukan sebaliknya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dsain

1) Pokok-pokok pendapat dari teori belajar Behavioristik, Cognitive, Humanistik.
A. Behavioristik
Tokoh utama aliran ini ialah J.B Watson. Watson sebenarnya bermula-mula belajar filsafat, tetapi kemudian pindah kedalam lapangan psikologi. Sejak tahun 1812 watson telah menjadi terkenal karenaa penyelidikan-penyelidikannya mengenai proses belajar pada hewan.
-Dasar-dasar pendapat watson bahwa sebagai scince psikologi harus bersifat positif, sehingga obyeknya bukanlah kesadaran dan hal-hal lain yang tak dapat diamati, melainkan haruslah tingkah laku, lebih tegasnya lagi tingkah laku yang pisitif, yaitu tingkah laku yang diobservasi.   
Tingkah laku adalah reaksi organisme sebagai keseluruhan terhadap perangsang dari luar, reaksi tersebut terdiri dari gerakan-gerakan dan perubahan-perubahan jasmani tertentu, jadi dapat diamati secara obyektif. Ada tiga macam teori yaitu
1. Operant conditioning (pembiasaan perilaku respon)
Teori sarbon (stimulus and response bond theory). Tingkah laku yang kompleks ini dapat dianalisis menjadi rangkaian "unit" perangsang dan reaksi (stimulus and response) yang disebut refleks.
Perangsang atau stimulus itu adalah situasi obyektif, yang wujudnya dapat bermacam-macam, seperti misalnya : sinar, bola kasti yang dilemparkan, rumah terbakar, kereta api penuh sesak dan sebagainya.
Response adalah relaksi obyektif dari pada individu terhadap situasi sebagai perangsang, yang wujudnya juga dapat bermacam-macam sekali, seperti misalnya : refleks pattela, memukul bola, menggambil makanan, memutup pintu dan sebagainya.
2. Connectionisme (koneksionnisme)
Pertama-tama adalah teori belajar R.S Bond atau asosiasi. Teori inilah yang pertama kali dicetuskan oleh kelompok Behavioris dengan tokohnya Thomdike. Behavioris mengingatkan agar study mereka benar-benar dapat diminati, seperti halnya dengam ilmu-ilmu lainnya, karena itu mereka tidak mau menggenal atau memperhitungkan hal-hal diluar pengamatan dalam memperlajari dan mengembangkan psikologi belajar. Karena itu menurut mereka belajar akan terjadi kalau ada kotak hubungan antara orang bersangkutan dengan benda-benda yang ada diluar. Ini yang mereka namakan S-R Bond, yaitu S adalah Stimulus dari luar diri seseorang dan R adalah Respon orang bersangkutan, sedangkan Bond adalah Hubungan atau Asosiasi. Sebab itu mereka menyebutkan psikologinya Koneksionisme atau Asosiasisme. Bila seorang anak melihat temannya akan berangkat  kesekolah sebagai suatu stimulus, maka anak ini berhenti dan menunggu teman itu sebagai stimulus, maka anak ini berhenti dan menunggu teman itu sebagai respon dan mereka berangkat bersama-sama kesekolah. Anak ini sudah belajar bahwa berangkat kesekolah sebaiknya bersama-sama dengan teman. Begitu pula sampai disekolah anak-anak disuruh membaca oleh ibu gurunya sebagai stimulus.
3. Classical conditioning (pembiasaan klasik)
a. Teori belajar Disiplin mental Theistik
Theistik berasal dari Psikologi Daya atau Psikologi Fakulti, menurut teori ini individu atau memiliki sejumlah daya mental seperti pikiran, ingatan, perhatian, kemampuan, keputusan, observasi, tanggapan, dan sebagainya, masing-masing daya ini dapat ditingkatkan kemampuannya melalui latihan-latihan. Jadi teori ini memandang mental seprti urat daging yang bisa ditingkatkan kekuatannya melalui latihan-latihan demikian belajar adalah melatih daya.
b. Teori belajar Disiplin mental Humanistik
Bersumber dari aliran psikologi humanistik klasik ciptaan Plato dan Aristoteles. Teori ini sama dengan disiplin mental theistik diatas, yaitu mana kala daya-daya itu dilatih, mereka akan semakin kuat, maka individu bersangkutan dengan mudah dapat memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. Bedanya adalah proses pelatihan, kalau teori diatas melatih bagian demi bagian daya atau potensi anak. Maka disiplin mental humanistik menekankan secara utuh. Sebab itu pun lebih menekan pendidikan umum. Mereka berpendapat kalau seseorang menguasai sesuatu yang bersifat umum, maka dengan mudah bisa ditransfer atau diterapkan kepada hal-hal yang bersifat khusus.
c. Teori belajar Naturalis atau Aktualisasi Diri
Berpangkal fari psikologi Naturalis Romantik yang dipimpin oleh Roussean. Sama halnya dengan kedua teori diatas, teori naturalis inipun memandang setiap anak memiliki sejumlah potensi atau kemampuan, potensi-potensi ini juga harus dikembangkan, tetapi bukan oleh pendidikan dengan cara melatih, melainkan oleh anak itu sendiri, sebab itu teori ini disebut juga teori aktualisasi diri agar anak-anak dapat berkembang sendiri dengan baik, pendidikan perlu menciptakan situasi yang permisif atau rileks hanya dalam situasi seperti inilah anak-anak dapat berkembang secara bebas seperti halnya dengan makhluk-makhluk lainnya, maka naturalis berada pada perkembangan secara alami dialam bebas.
d. Teori belajar Apersepsi
Teori ini berasal dari psikologi struktur Ciptaan Herbart. Sebab itu dinamai pula Herbatisme psikologi ini memandang bahwa jiwa manusia merupakan suatu struktur, struktur ini bisa berubah dan bertambah manakah orang bersangkutan belajar. Pertumbuhan ini dapat melalui asosiasi antara atruktur yang sudah ada dengan hal-hal yang dipelajari. Berarti belajar adalah memperbanyak asosiasi-asosiasi sehingga berbentuk struktur baru dalam jiwa anak.
Langkah-langkah belajar memurut Herbart :
1. Pendidikan harus mengadakan persiapan dengan cermat
2. Pendidikan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga anak-anak merasakan jelas memahami pelajaran itu, yang memudahkan asosiasi-asosiasi baru berbentuk
3. Asosiasi-asosiasi baru berbentuk antara materi yang dipelajari dengan struktur jiwa atas apersepsi anak yang telah ada
4. Mengadakan generasi, pada saat ini terbentuk suatu struktur baru didalam jiwa anak
5. Mengaplikasikan pengetahuan yang baru didapat agar struktur terbentuk semakin kuat.
-Teori belajar klasik, walaupun umumnya sudah tua, untuk hal-hal tertentu masih bisa dipakai.

B. Cognitive
Teori Cognitive - Goesralt - Field, rumpun dari ketiga adalah Cognitive - Goesralt - Field. Kalau rumpun Behavioristik bersifat indikator (menekan unsur-unsur) maka cognitive ini bersifat keseluruhan dan keterpaduan.
1. Teori Cognitive dikembangkan oleh para ahli psikologi cognitive teori ini berbeda dengan Behavioristik, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan bukan respon. Teori ini menekan pada pristiwa mental, bukan hubungan stimulus-respon. Prilaku juga penting sebagai indikator, tetapi yang lebih penting adalah berpikir. Dalam kaitannya dengan berpikir ini, bahwa pada manusia terbentuk struktur mental atau organisasi mental. Pengetahuan terbentuk melalui proses menganasiasian pengetahuan baru dengan struktur yang telah ada setelah pengetahuan baru tersebut diinterprestasikan oleh struktur yang ada tersebut.
Hal lain yang juga sangat penting dalam teori cognitive adalah, bahwa individu itu aktif, konstruktif dan berencana, bukan pasif menerima artimulus dari lingkungan. Menurut para ahli cognitive, individu merupakan partisipan aktif dalam proses memperoleh dan menggunakan pengetahuan, individu berpikir secara aktif dalam membentuk wawasan tentang kenyataan, memilih aspek-aspek penting dari pengalaman untuk disimpan dalam ingatan, atau digunakan dalam pemgelolahan masalah.
2. Teori Goestalt berkembang dijerman dengan pendirinya yang utama adalah Max Wertheimer. Tokoh-tokoh lainnya adalah Walfgang Kohler, Kurt Koffkn, dan Kurt Lewin,  Goestalt bahasa jerman yang artinya kurang lebih konfigurasi, pola, kesatuan, keseluruhan. Memang psikologi Goestalt menekan keseluruhan. Keseluruhan lebih dari jumlah bagian-bagian keseluruhan membuat satu kesatuan yang bermakna, menurut Goestalt belajar harus dimulai dari keseluruhan, baru  kemudian kepala bagian-bagian belajar Goestalt menekankan  pemahaman atau insigiht. Suatu keseluruhan terdiri atas bagian-bagian yang mempunyai hubungan yang bermakna satu sama lain dalam belajar siswa harus memahami makna hubungan antara satu atau bagian dengan bagian lainnya suatu hukum yang terkenal daru teori Goestalt.  Yaitu hukum pragnanz yang kurang lebih berarti teratur, seimbang, harmonis. Belajar adalah mencari dan mendapatkan pragnanz, menemukan keteraturan, keharminisan dari sesuatu. Ada enam ciri belajar menurut Ernest Hilgard  yaitu,
1. Pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar
2. Pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu
3. Pemahaman tergantung kepada pengaturan situasi
4. Pemahaman dilalui oleh usaha coba-coba
5. Belajar dengan pemahaman dapat diulang
6. Suatu pahaman dapat diaplikasikan bagi pemahaman situasi lain
3. Teori medan atau Field Theory merupakan salah satu teori yang termasuk rumpunan Cognitive -  Goestalt - Field. Teori ini sama dengan Goestalt menekan keseluruhan dan kesatupaduan. Memurut teori medan individu selalu berbeda dalam suatu medan atau ruang hidup.
Medan hidup menurut Kurt Lewin
Motif - Kegiatan - Hambatan - Tujuan
Dalam hidup ini ada sesuatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi untuk pencapaiannya selalu ada berier atau hambatan. Individu memiliki satu atau sejumlah dorongan dan berusaha mengatasi hambatan untuk mencapai tujuan tersebut. Apabila individu telah nerhasil mencapai tujuan, maka masuk kedalam medan atau lapangan psikologi baru yang didalamnya berisi tujuan baru dengan hambatan-hambatan baru pula. Demikian seterusnya individu keluar dari suatu bedan dan masuk kemedan psikologi berikutnya. Memurut teori ini belajar adalah berusaha mengatasi hambatan-hambatan untuk memcapai tujuan.

C. Humannistik

2. Iya sampai saat ini masih relevan,  prinsip- prinsip belajar teori tersebut untuk  pendidikan sekarang karena teori- teori yang banyak dikemukakan oleh para akhlinya.

3. Prinsip belajar dalam islam
Rasulullah SAW bersabda: “Mencari ilmu (belajar) wajib hukumnya bagi setiap orang Islam”. Dan pada kesempatan lain beliau pun pernah menganjurkan, agar manusia mencari ilmu meski berada di negeri orang (Cina) sekalipun; meski dari manapun datangnya. Hadis tentang belajar dan yang terkait dengan pencarian ilmu  banyak disebut dalam al-Hadis, demikian juga dalam Al-Qur’an al-Karim. Hal ini merupakan indikasi, bahwa betapa belajar dan mencari ilmu itu sangat penting artinya bagi umat manusia. Dengan belajar manusia dapat mengerti akan dirinya, lingkungannya dan juga Tuhan-nya. Dengan belajar pula manusia mempu menciptakan kreasi unik dan spektakuler yang berupa teknologi.

Belajar dalam pandangan Islam memiliki arti yang sangat penting, sehingga hampir setiap saat manusia tak pernah lepas dari aktivitas belajar. Keunggulan suatu umat manusia atau bangsa juga akan sangat tergantung kepada seberapa banyak mereka menggunakan rasio, anugerah Tuhan untuk belajar dan memahami ayat-ayat Allah SWT. Hingga dalam al-Qur’an dinyatakan Tuhan akan mengangkat derajat orang yang berilmu ke derajat yang luhur (lihat : Qs. Al- Mujadilah : 11).

Apalagi dalam konsep Islam  terdapat keyakinan yang menegaskan, bahwa belajar  merupakan kewajiban dan berdosa bagi yang meninggalkannya. Keyakinan demikan ini begitu membentuk dalam diri umat yang beriman, sehingga  mereka memiliki etos belajar yang tinggi dan penuh semangat serta mengharapkan “janji luhur” Tuhan  sebagaimana yang difirmankan dalam ayat-Nya

2. Pengerrian kata- kata kunci
a. Pendidikan : Pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin terjadi didalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda. Mungkin pula terjadi dengan sengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup. (John Dewey)Pendidikan adalah proses yang terus menerus (Abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi mahluk manusia yang telah berkembangan secara fisik dan mental yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanivestasi dalam alam sekitar intelektual dan kemanusiaan dari manusia. (H. Horne)

Berdasarkan definisi dari para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan proses pembaharuan makna pengalaman yang terus menerus, terjadi didalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda mungkin juga terjadi secara dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan sosial.

b. Pelatihan : Pelatihan atau training sebagai suatu kegiatan yang bermaksud untuk memperbaiki dan mengembangkan sikap, tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dari karyawan sesuai dengan keinginan perusahaan. Pelatihan yang dimaksudkan adalah pelatihan dalam pengertian yang luas tidak terbatas hanya untuk mengembangkan keterampilan semata. (Netisimito, 1996:35)Pelatihan sebagai proses sistematis dimana karyawan mempelajari pengetahuan (Knowledge), keterampilan (Skill), Kemampuan (Ability) atau prilaku terhadap tujuan pribadi organisasi. (Carrell dan Kuzmits 1982:282)Pelatihan berarti menuntun dan mengarahkan perkembangan dari peserta pelatihan melalui pengetahuan, keahlian dan sikap yang diperoleh untuk memenuhi standar tertentu. (Drummond, 1990:63)


Berdasarkan definisi dari para ahli diatas tentang pelatihan, maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah suatu proses kegiatan yang dimaksudkan untuk memperbaiki sikap, tingkahlaku, keterampilan serta pengtahuan baik itu dari karyawan atau peserta pelatihan untuk memenuhi standar (standar sikap, tingkahlaku, keterampila serta pengetahuan yang ditetapkan perusahaan) tententu guna mencapai tujuan perusahaan.

c. Pengembangan: Pengembangan adalah proses peningkatan ketrampilan teknis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan latihan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masa kini maupun masa depan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Design Downloaded from Ratna Nurjannah | Ratna Nurjannah | Kicenks | Haitami.