gambling X-Steel - Wait

Analisis

UJI KOMPETENSI IV
TARIKH DIMADRASAH DAN SEKOLAH
(ANALISIS BUKU SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM KELAS VII)

KOMPONEN EVALUASI
1. Proses Evaluasi
-Analisis
Pada setiap bab disajikan evaluasi mulai dari awal bab sampai dengan akhir bab yang diberikan baik dalam bentuk mereview materi sebelumnya, mengkaitkan materi -materi yang ada, penugasan sampai dengan soal- soal yang harus dikerjakan oleh peserta didik.
-Uraian
tertuang dalam kolom yang berisi (pintar menganalisis), (ayo berpikir), dan (evaluasi materi) yang tersedia disetiap akhir bab

-Analisis
Evaluasi tidak diintegrasikan dengan mata pelajaran mata pelajaran lain
-Uraian
(-)

2. Cangkupan Evaluasi
-Analisis
Mencangkup asesmen kognitif
-Uraian
Disetiap bab disediakan evaluasi kognitif dalam bentuk pilihan ganda dan essay

-Analisis
Mencangkup assesmen keterampilan
-Uraian
Assesmen keterampilan berupa keterampilan berdiskusi dwngan kelompok dan mempresentasikan hasil diskusi didepan kelas. Tertuang dalam kolom +pintar menganalisis) yang tersedia setiap bab

-Analisis
Mencangkup assesmen afektif
-Uraian
Tertuang dalam kolom (ayo berpikir) yang tersedia disetiap akhir bab. Assesmen sikap ini berupa sikap tang dapat diteladani dari berbagai peristiwa sejarah



-Analisis
Mengukur tingkat pencapaian kompetensi mata pelajaran secara individu dan mata pelajaran- mata pelajaran yang lain
-Uraian
Evaluasi pada setiap bab dan /atau keseluruhan bab merupakan tagihan yang memgukur tingkat pencapaian kompetensi mata pelajaran secara individu dan juga mata pelajaran yang lain

-Analisis
Evaluasi yang diberikan pada bab dan / atau keseluruhan bab tidak dipadukan dengan kegiatan evaluasi dari mata pelajaran - mata pelajaran yang intergrasikan
-Uraian
(-)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMAHAMAN AGAMA PADA SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SD MUHAMMADIYAH AMBARKETAWANG 2

A. Latar Belakang :
-Pendidikan ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (grafika, 2006 : 3)

  Di sebutkan dalam (Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomer 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional) bab IV pasal 5 ayat 1 "dinyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu warga negara yang mempunyai kelainan fisik, emosional mental, intelektual atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus". Hal ini menunjukan bahwa anak yang memiliki kelainan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak pula memperoleh kesempatan yang sama dengan anak yang lainnya (anak normal) dalam pendidikan. (Sulihandari : 1).

- Anak berkebutuhan khusus terkadang tidak diterima disekolah-sekolah umum. Tetapi sekolah ini menerima siswa berkebutuhan khusus untuk berhak memperoleh kesempatan yang sama dengan anak lainnya (anak normal) dalam pendidikan. Pada tahun ajaran 2014 SD. Muhammadiyah Ambarketawang 2 menerima siswa yang berlatar belakang anak berkebutuhan khusus yang berada dikelas satu, SD. Muhammadiyah Ambarketawang 2 merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang telah menerapkan pendidikan inklusif yaitu memadukan peserta didik yang berkebutuhan khusus dengan peserta didik normal pada umumnya untuk belajar bersama melalui pendidikan inklusif, anak berkebutuhan khusus dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki potensi anak melalui pendidikan sekolah.

-Namun, pada dasarnya pengertian pendidikan inklusif tidak terbatas dapat mengakomodir siswa difabel, akan tetapi juga anak jalanan, pekerja anak, etnis minoritis, dan anak dari golongan marjinal lainnya. Disekolah ini mereka memperoleh haknya sama seperti yang lainnya, yang normal dalam mendapatka  pengajaran dan pendidika , begitu pula dalam pembelajaran pendidikan agama islam (PAI).

-Dalam mengajar, peserta didik yang berkebutuhan khusus tidaklah semudah mengajar pesrta didik normal pada umumnya. Guru PAI diharapkan mampu untuk memberikan pelayanan pada peserta didik yang membutuhkan pelayanan khusus oleh karna itu guru harus peka terhadap peserta didiknya, disini guru harus bersikap profesional dalam menghadapi peserta didik yang beragam seperti adanya modifikasi dalam pembelajaran baik itu metode, materi, evaluasi. Selain itu juga perlu adanya penyesuaian penataan lingkungan belajar pada anak.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penelitian kemukakan diatas peneliti mengambil beberapa rumusan masalah yaitu :
1. Bagaimana metode guru PAI dalam pemahaman agama pada siswa berkebutuhan khusus di SD Muhammadiyah Ambarketawang 2?
2. Bagaimana metode pemahaman agama guru PAI dalam pemahaman agama pada siswa berkebutuhan khusus di SD. Muhammadiyah Ambarketawang 2?
3. Bagaimana strategi guru PAI dalam pemahaman agama pada siswa berkebutuhan khusus di SD. Muhammadiyah Ambarketewang 2?
4. Apa faktor penghambat guru PAI dalam pemahaman agama pada siswa berkebutuhan khusus di SD. Muhammadiyah Ambarketawang 2?

C. Tujuan Penelitian

Sejalan dengan permasalahan diatas maka secara khusus bertujuan untuk :
1. Untuk nendeskripsikan "Strategi Guru PAI dalam pemahaman agama pada siswa berkebutuhan khusus di SD Muhammadiyah Ambarketawang 2".
2. Guna memaparkan faktor pendukung dan penghambat pada "Strategi Guru PAI dalam pemahaman agama pada siswa berkebutuhan khusus di SD Muhammadiyah Ambarketawang 2".

D. Manfaat Penelitian

a. Kegunaan Teoritis
1. Untuk memperkaya penelitian dibidang pendidikan khususnya pada  strategi Guru PAI dalam pemahaman agama pada siswa berkebutuhan khusus.

b. Kegunaan Praktis
1. Bagi acuan  guru sebagai masukan betapa pentingnya PAI untuk siswa berkebutuhan khusus.

E. Metopen

Metode yang digunakan dalam penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam penelitian lapangan yang bersifat studi kasus dengan pendekatan kualitatif deskriptif,  ditinjau dari cara taraf pembahasan, maka penelitian ini terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah keadaan atau peristiwa sebagaimana adanya sehingga bersifat untuk menggungkapkan fakta (Suharsimi Arikunto, 2010 :102). Pada hakekatnya penelitian lapangan ini merupakan metode untuk menemukan secara spesifik dan realis tentang apa yang sedang terjadi pada suatu saat di tengah-tengah keadaan masyarakat dengan tujuan memecahkan masalah praktis dalam masyarakat (Mardalis, 2006 :28)
Menurut Bodgan dan Taylor (1975:5) mendefinisikan” metodologi kualitatif ” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Menurut mereka pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu atau organisasi kedalam variabel atau hipotesis , tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari kebutuhan.
2. Subjek Penelitan
Subjek atau informan adalah orang yang berhubungan langsung dalam memberikan tentang kondisi dan situasi sesuai dengan latar belakang atau objek penelitian. Dalam penentuan subjek atau informan, peneliti mengambil sample dengan menggunakan metode porposif sampling, yaitu cara mengambil sample secara teliti berdasarkan karakteristik-karakteristik tertentu, yang dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini subjek penelitian adalah guru yang mengajar dan siswa yg memiliki berkebutuhan khusus.
3. Teknik pengumpulan data
Dalam penelitian ini peneliti menguunakan beberapa teknik atau cara untuk memperoleh dan mengumpulkan data di lokasi penelitian. Teknik pengumpulan data tersebut antara lain :
a. Metode Observasi
Metode observasi yaitu metode pengumpulan data dengan cara pengamatan dan pencatatan data secara sistematik atau fenomena yang diteliti (Soetrisno Hadi,2004:11)
Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yang mudah dipahami dan diamati secara langsung. Selain itu metode observasi digunakan untuk mengetahui rencana guru dalam meningkatkan pemahaman agama pada siswa berkebutuhan khusus dalam belajar pendidikan agama Islam. Selain itu metode ini digunakan untuk mengetahui dan menganalisis seberapa besar motivasi belajar anak untuk memahami pendidikan agama islam.
b. Metode Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan tersebut dilakukan oleh dua pihak yaitu, pewawancara (interview) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interview) yang memebrikan jawaban atas pertanyaan. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang diteliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Metode ini digunakan untuk mendapatkan data dari kepala sekolah yang berkaitan dengan metode yang digunakan guru untuk pemahaman agama pada siswa berkebutuhan khusus.
c. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah notulen, rapat dan sebagainya, di gunakan untuk memperoleh data tentang dokumen-dokumen ( Suharsimi Arikunto, 2010:118)
Dokumentasi disini digunakan untuk mengambil catatan tentang nilai PAI anak yang bersekolah di sekolah umum dan disekolah yang muslim.
4. Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat di temukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.   
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan studi kasus menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Untuk lebih lanjutnya penelitian ini bermaksud untuk melukiskan secara lengkap dan akurat tentang fenomena sosial,sehingga penelitian ini menggunakan desain penelitian deduktif. Yakni studi untuk menemukan fakta-fakta dengan interprestasi yang tepat. Kesimpulan yang dihasilkan berbentuk deskriptif yang merupakan hasil akhir dan proses analisi data yang diperolah dalam penelitian. Dalam penelitian ini data peneletian menekankan pada teknik pengumpulan data obseravsi dan wawancara.
5. Langkah-langkah
Langkah-langkah yang dilakukan guru PAI dalam pelaksanaan pembelajaran PAI diantaranya :
1. Pra intruksional
Tahap ini tahap sebelum pembelajaran dimulai dengan berdo'a, dilanjutkan dengan guru melakukan absensi, selanjutnya guru memberikan apersepsi, setelah itu siswa berkebutuhan khusus ditempatkan dibangku paling depan.
2. Intruksional
Pada tahap ini merupakan tahap inti dari serangkaian aktifitas pembelajaran yang dilakukan guru dengan peserta didik dalam mencapai suatu tujuan yang termuat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, dalam pelaksanaan pembelajaran guru PAI melakukan pendekatan dengan peserta didik serta menggunakan beberapa metode, tahapnya sebagai berikut :
-Pertama, guru menuliskan materi dipapan tulis, dan menjelaskannya. Selanjutnya siswa menyalinnya kedalam buku masing-masing, namun bagi anak berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan, maka guru membantu, metode ini digunakan guru pada awal pembelajaran dan digunakan pada mata pelajaran PAI.
-Kedua siswa membaca satu persatu didepan, metode ini dilakukan agar peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran tidak bersifat satu arah, malainkan ada feed back dengan peserta didik.
-Ketiga, demontrasi metode ini merupakan metode interaksi edukatif yang sangat efektif dalam membantu peserta didik untuk mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran, metode ini biasanya digunakan pada materi pokok atau pokok bahasan yang membutuhkan praktek seperti materi pelaksanaan sholat, pelaksanaan haji dan lainnya.
-Keempat, cerita metode ini merupakan metode yang diterapkan oleh semua guru mata pelajaran PAI sebagaimana upaya untuk mengembangkan pola pikir peserta didik, metode ini dinilai efektif dalan meningkatkan motivasi siswa dalam menguasai materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Kemudian guru memberikan pertanyaa  kepada siswa, dan lebih sering pertanyaan diberikan kepada anal berkebutuhan khusus.
3. Penutup
Tahap ini guru PAI memberikan atau kesimpulan tentang pembelajaran yang sudah disampaikan sebelumnya kegiatan pembelajaran diakhiri guru memberikan beberapa pekerjaan rumah kepada siswa, kemudian pembelajaran di akhiri dengan membaca do'a bersama-sama. (Widiastuti, 64-66)

F. Landasan Teori

Secara terperinci definisi PAI sebagai "proses arah dan bimbingan untuk mewujudkan manusia seutuhnya : akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya sehingga mereka siap menjalani kehidupan dengan baik dimanapun dan kapanpun berdasarkan nilai-nilai islam" (qardlawi, 1980: 157).

Secara epistemologis, pendidikan islam diletakan pada dasar-dasar ajaran islam dan seluruh perangkat kebudayaannya. Dasar-dasar pembentukan dan pengembangan pendidikan islam yang pertama dan utama adalah Al-Qur'an dan Sunnah. Dalam pendidikan islam, sunnah Nabi mempunyai dua fungsi yaitu:
1. Menjelaskan sistem pendidikan islam yang terdapat dalam Al-Qur'an yang umumnya masih bersifat global.
2. Menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah bersama sahabat, perilakunya terhadap anak-anak, dan pendidikan keimanan yang pernah dilakukannya. (sarjono, 2005: 4).

Pelajaran pertama dalam islam adalah pada ketika jibril datang menemui Nabi Muhammad SAW, yang sedang berada di gua hira. Dalam pengajarannya jibril meminta kepada Nabil SAW untuk membaca dan mengikuti apa yang dibacakan kepadanya. Surat Al-Alaq ayat 1 - 5 merupakan bukti bahwa kemunculan islam ditandai dengan pengajaran dan pendidikan sebagai pondasi utama selain iman, islam dan ihsan (rahman: 02)
Pelajaran PAI merupakan pembelajaran agama islam yang terdapat di sekolah umum. Kewajiban pihak sekolah untuk memberi pelajaran agama kepada siswa baik untuk anak berkebutuhan khusus maupun anak normal. Salah satu solusinya yaitu melalui pendidikan inklusif, pelaksanaan pembelajaran PAI disekolah inklusif melalui identifikasi, assesment atau pengukuran, penyusunan program yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik yang bersangkutan. Pelaksanaan pembelajaran PAI baik anak berkebutuhan khusus diberi pelayanan individu yaitu anak berkebutuhan khusus sering didekati dan di berpertanyaan agar tidak tertinggal dengan siswa normal lainnya dan untuk mengoptimalkan dengan diberi jam tambahan sepulang sekolah. Evaluasi pembelajaran PAI dilakukan bersama dengan anak normal yang lain dengan waktu dan soal yang sama. Faktor pendukung yaitu dukungan orang tua siswa, komite sekolah, dan pemerintah, faktor penghambat dalam pelaksanaan pembelajaran PAI yaitu kesadaran tentang pentingnya pendidikan bagi anak berkeburuhan khusus yang relatif kurang, solusinya sekolah mensosialisasikan pentingnya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus mengadakan pelatihan dan pengembangan bakat minat (widiastuti : xi).

Pendidikan merupakan hak dan kewajiban bagi setiap individu untuk memanfaatkan semua potensi yang dimilikinya. Maka sangat wajar apabila pendidikan memiliki potensi penting dalan setiap kehidupan manusia. Dalam ajaran islam juga mengutamakan tentang keimanan dan ilmu pengetahuan, hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al - Mujaadilah ayat 11 yang artinya : Hai orang- orang yang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu : "berlapang- lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kepalangan untukmu dan apabila diakatakan : "Berdirilah kamu" maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang- orang yang beriman diantara mu dan orang- orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dalam ayat diatas mengisyaratkan bahwa Allah memerintahkan hambanya untuk menuntut ilmu, itu artinya pendidikan menduduki posisi yang sangatlah penting. Demikian pula dengan pendidikan agama juga sangat penting, karena merupakan kebutuhan setiap individu terutama dalam hal ibadah dalam kehidupan sehari- hari (widiastuti : 1-2)

PAI adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikan dapat memahami dan mengamalkan ajaran PAI serta menjadikan sebagaimanapun dengan hidup (why of life) (daradjat, 2011: 86)

Pendidikan inilah yang menjadi terobosan terbentuknya pelayanan pendidikan inklusif adalah pendidikan pada sekolah umum yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang memerlukan pendidikan khusus pada sekolah umum dalam kesatuan yang sistematik (amart, 2010 : 90).

Program pemerintah berupa layanan pendidikan inklusif memungkinkan anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh ilmu pengetahuan disekolah umum sebagaimana yang diperoleh anak normal. Program inklusif tersebut anak berkebutuhan khusus disekolahkan besama dengan anak normal disekolah reguler, sehingga diharapkan anak berkebutuhan khusus memiliki rasa percaya diri dan akhirnya mereka dapat mandiri, sehingga anak - anak mormal akan terdidik dan belajar toleransi anatar sesama manusia (widuastuti: 04).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PPL PM2

BAGIAN 1 : PENDAHULUAN
-Pengertian
   Administrasi sekolah adalah segala upaya bersama untuk memanfaatkan sumber-sumber personal ataupun material yang efektif dan juga efisien supaya menunjang tercapainya tujuan pendidikan sekolah dengan optimal. Adapun prinsip umum dari administrasi sekolah yaitu administrasi sekolah sifatnya lebih praktis dan fleksibel, sehingga bisa dilaksanakan sesuai berdasarkan kondisi maupun situasi yang nyata di sekolah. Sementara fungsinya untuk sumber informasi dalam meningkatkan pengelolaan pendidikan dan juga dalam kegiatan belajar mengajar. 

Pada dasarnya Administrasi sekolah  sendiri terbagi menjadi beberapa komponen, beberapa di antaranya adalah :

Administrasi kesiswaan

Administrasi ini dilakukan supaya transformasi siswa bisa menjadi lulusan yang di inginkan oleh tujuan pendidikan yang sudah di tetapkan dan bisa berlangsung dengan efektif serta efisien. Adapun administrasi kesiswaan berhubungan dengan pembinaan siswa di sekolah hingga siswa menyelesaikan pendidikan melalui suasana yang kondusif dalam proses belajar mengajar. Sementara untuk fungsinya adalah merencanakan jumlah siswa yang bisa diterima dalam tahun ajaran baru, mengetahui secara pasti kondisi siswa dan memberikan masukan kepada RAPBS. Selain itu kegiatan yang dijalani dalam administrasi sekolah adalah penerimaan siswa, pembinaan siswa dan juga tamat belajar.

Administrasi sarana dan prasarana

Sarana dan prasarana di sini berkaitan dengan semua benda yang bergerak ataupun tidak bergerak yang dibutuhkan untuk menunjang proses belajar mengajar. Adapun kegiatan dari administrasi sarana dan prasarana adalah merencanakan kebutuhan, mengadakan sarana dan prasarana pendidikan, menyimpan sarana dan prasarana pendidikan, inventarisasi sarana dan prasarana.

Administrasi personal

Yang dimaksud personal pendidikan di sini yaitu golongan petugas yang membidangi baik itu kegiatan edukatif maupun non-edukatif. Personal edukatif adalah mereka yang memiliki tanggung jawab di dalam proses belajar mengajar seperti guru dan juga konselor, sedangkan untuk personal non-edukatif yaitu para petugas tata usaha maupun para penjaga atau para pesuruh sekolah.

Administrasi keuangan

Komponen di sini adalah ketatausahaan serta tindakan keuangan yang di dalamnya meliputi perencanaan, pencatatan data, pelaporan, pelaksanaan dan juga tanggung jawab keuangan..

Administrasi kurikulum

Di samping melakukan pencatatan pelaksanaan kurikulum nasional juga memberikan deskripsi sajian pokok bahasan di setiap mata pelajaran tiap semester, menyediakan jabaran kurikulum masing-masing pelajaran, menyediakan kurikulum untuk pegangan para pengajar maupun merencanakan pelaksanaan pembelajaran di setiap pelajaran dalam tingkatan kelas.

Selain beberapa Administrasi sekolah di atas, ada pula administrasi humas yang mana majunya SDM suatu wilayah tidak hanya tergantung pada pendidikan saja, melainkan juga masyarakat di daerah tersebut. Oleh sebab itu semakin tinggi partisipasi masyarakat, maka akan semakin maju pula SDM daerah tersebut. Jadi sebaiknya masyarakat dilibatkan secara langsung dalam pembangunan pendidikan

- Unsur-unsur Administrasi Pendidikan

Ada delapan unsur-unsur administrasi pendidikan yang terkait satu sama lain untuk mencapai tujuan yang disepakati. Kedelapan unsur-unsur tersebut adalah:

1. Organisasi

Organisasi melibatkan suatu kegiatan mengelompokkan dan menyusun kerangka kerja sekaligus jalinan hubungan kerjasama diantara para pekerja dalam suatu wadah bagi segenap usaha mencapai tujuan tertentu.

2. Manajemen

Manajemen berhubungan dengan kegiatan yang berfunsi merencanakan, mengorganisasikan, membina, membimbing, menggerakkan, dan mengawali sekelompok orang, serta mengerahkan segenap fasilitas kerja agar tujuan kerjasama yang telah ditentukan dapat tercapai dengan baik.

3. Komunikasi

Komunikasi merupakan kegiatan menyampaikan berita sekaligus pemberian ide dan gagasan dari seseorang kepada orang lain, yang bersifat timbal balik antara pimpinan dengan pimpinan dan antara pimpinan dengan bawahan, baik secara formal maupun nonformal, untuk mewujudkan usaha kerja sama.

4. Informasi

Informasi terkait dengan kegiatan menghimpun, mencatat, mengolah, menggendakan, menyebarkan, dan menyimpan berbagai keterangan objektif yang diperlukan dalam usaha kerja sama.

5. Personalia

Personalia berhubungan dengan kegiatan mengatur dan mengurus penggunaan tenaga kerja dalam usaha kerjasama.

6. Keuangan

Keuangan melibatkan kegiatan mengatur dan mengola penggunaan segi pembiyayaan sekaligus pertanggung jawaban keuangan dalam usaha kerjasama.

7. Perbekalan

Perbekalan terkait dengan kegiatan merencanakan, mengurus, dan mengatur penggunaan peralatan, keperluan kerja dalam usaha kerjasama.

8. Hubungan masyarakat

HUMAS berkaitan dengan kegiatan menciptakan dan dukungan yang baik dari lingkungan masyarakat sekitarnya terhadap usaha kerjasama.

-Dasar-dasar Administrasi

Administrasi akan berhasil baik apabila didasarkan atas dasar- dasar yang tepat. Dasar diartikan sebagai suatu yang fundamental yang dapat dipergunakan sebagai landasan dan pedoman bertindak dalam kehidupan bermasyarakat.

Berikut ini akan dipaparkan beberapa dasar yang perlu diperhatikan agar administrator dapat mencapai sukses dalam tugasnya.terdapat banyak dasar administrasi,antara lain:

a. Prinsip efisiensi.

Seorang administrasi akan berhasil dalam tugasnya bilamana dia efisien dalam menggunakan semua sumber tenaga dana dan fasilitas yang ada.

b.Prinsip pengelolaan

Administrator akan memperoleh hasil yang paling efektif dan efisien melalui oarang-orang lain dengan jalan melakukan pekerjaan manajemen, yakni merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan dan mengontrol.

c.Prinsip pengutamaan tugas pengeloaan

Jika disertai pekerjaan manajemen dan operatif dalam waktu yang sama, seseorang administrasi cenderung untuk memberikan prioritas pertama pada pekerjaan operatif. Administrator harus mampu menghindari kecendurangan negatif ini, sebab bila ia terlalu sibuk dengan tugas-tugas operatif, maka pekerjaan pokoknya yaitu pengelolaan akan terbengkalai.

d. Prinsip kepemimpinan yang efektif

Seorang administrator yang berhasil dalam tugasnya apabila dia menggunakan gaya kepemimpinan yang efektif, yakni yang memperhatikan dimensi-dimensi hubungan antar manusia, dengan pelaksanaan tugas dan dimensi situasi (sikon yang ada).

e. Prinsip kerjasama

Seseorang administrator akan berhasil baik dalam tugasnya bila ia mampu mengembangkan kerjasama di antara orang-orang yang terlibat, baik secara horisontal maupun secara vertikal.

- Peraturan perundang-undangan
Peraturan Menteri Pendidikan      Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2008 Tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah

Berdasarkan Pasal 1 Permdiknas No 24 Tahun 2008 dinyatakan bahwa (1)  Standar  tenaga  administrasi  sekolah/madrasah mencakup kepala tenaga administrasi, pelaksana urusan, dan petugas layanan khusus sekolah/ madrasah. (2)  Untuk  dapat  diangkat  sebagai  tenaga administrasi sekolah/madrasah, seseorang wajib memenuhi standar tenaga administrasi sekolah/ madrasah yang berlaku secara nasional. (3)  Standar  tenaga  administrasi  sekolah/ madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)  tercantum pada Lampiran Peraturatn Menteri ini.

Pasal 2 Permdiknas No 24 Tahun 2008 dinyatakan bahwa Penyelenggara  sekola h/madrasah  dapat menetapkan  perangkapan  jabatan  tenaga administrasi  pada  sekolah/madrasah  yang diselenggarakannya.

Pasal 3 Permdiknas No 24 Tahun 2008 dinyatakan Penyelenggara sekolah/madrasah wajib menerapkan standar  tenaga  administrasi  sekolah/madrasah sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ini, selambat-lambatnya (lima) tahun setelah Peraturan Menteri ini ditetapkan.

Berikut ini beberapa penjelasan penting yang termuat dalam Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2008 Tentang Standar Tenaga Administrasi Sekolah/Madrasah

Tenaga administrasi sekolah/madrasah terdiri atas kepala  tenaga  administrasi  sekolah/madrasah, pelaksana urusan, dan petugas layanan khusus.

1. Kepala Tenaga Administrasi SD/MI/SDLB

Kepala tenaga administrasi SD/MI/SDLB dapat diangkat  apabila  sekolah/  madrasah  memiliki lebih dari 6 (enam) rombongan belajar. Kualifikasi kepala tenaga administrasi SD/MI/SDLB adalah sebagai berikut:

a.  Berpendidikan minimal lulusan SMK atau yang sederajat, program studi yang relevan dengan pengalaman kerja sebagai tenaga administrasi sekolah/madrasah minimal 4 (empat) tahun.

b. Memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi sekolah/madrasah  dari  lembaga  yang ditetapkan oleh pemerintah.

2. Kepala Tenaga Administrasi SMP/MTs/SMPLB  Kepala  tenaga  administrasi  SMP/MTs/SMPLB berkualifikasi sebagai berikut:

a.  Berpendidikan minimal lulusan D3 atau yang sederajat, program studi yang relevan, dengan pengalaman kerja sebagai tenaga administrasi sekolah/ madrasah minimal 4 (empat) tahun.

b. Memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi sekolah/madrasah  dari  lembaga  yang ditetapkan oleh pemerintah.

3. Kepala  Tenaga  Administrasi  SMA/MA/SMK/MAK/SMALB

Kepala tenaga administrasi SMA/MA/SMK/MAK/SMALB berkualifikasi sebagai berikut:

a.  Berpendidikan  S1  program  studi  yang relevan  dengan  pengalaman  kerja  sebagai tenaga  administrasi  sekolah/madrasah minimal 4 (empat) tahun, atau D3 dan yang sederajat, program studi yang relevan, dengan pengalaman kerja sebagai tenaga administrasi sekolah/madrasah  minimal  8  (delapan) tahun.

b. Memiliki sertifikat kepala tenaga administrasi sekolah/madrasah  dari  lembaga  yang ditetapkan oleh pemerintah.

4. Pelaksana Urusan Administrasi Kepegawaian  Berpendidikan minimal lulusan SMA/MA/SMK/MAK atau yang sederajat, dan dapat diangkat apabila jumlah pendidik dan tenaga kependidikan minimal 50 orang.

5. Pelaksana Urusan Administrasi Keuangan

Berpendidikan  minimal  lulusan  SMK/MAK, program studi yang relevan, atau SMA/MA dan memiliki sertfikat yang relevan.

6. Pelaksana  Urusan  Administrasi  Sarana  dan Prasarana

Berpendidikan minimal lulusan SMA/MA/SMK/MAK atau yang sederajat.

7. Pelaksana  Urusan  Administrasi  Hubungan Sekolah dengan Masyarakat

Berpendidikan minimal lulusan SMA/MA/SMK/MAK atau yang sederajat, dan dapat diangkat apabila sekolah/madrasah memiliki minimal 9 (sembilan) rombongan belajar.

8. Pelaksana Urusan Administrasi Persuratan dan Pengarsipan

Berpendidikan  minimal  lulusan  SMK/MAK, program studi yang relevan.

9. Pelaksana Urusan Administrasi Kesiswaan   

Berpendidikan minimal lulusan SMA/MA/SMK/ MAK atau yang sederajat dan dapat diangkat apabila sekolah/madrasah memiliki minimal 9 (sembilan) rombongan belajar.

10.Pelaksana Urusan Administrasi Kurikulum

Berpendidikan  minimal  lulusan  SMA/MA/SMK/MAK  atau  yang  sederajat  dan  diangkat apabila sekolah/madrasah memiliki minimal 12 rombongan belajar.

11.Pelaksana Urusan Administrasi Umum untuk SD/MI/SDLB

Berpendidikan  minimal  SMK/MAK/SMA/MA atau yang sederajat.

12.Petugas Layanan Khusus

a.  Penjaga Sekolah/Madrasah

Berpendidikan  minimal  lulusan  SMP/MTs atau yang sederajat.

b. Tukang Kebun

Berpendidikan  minimal  lulusan  SMP/MTs atau yang sederajat dan diangkat apabila luas lahan kebun sekolah/madrasah minimal 500 m2 .

c.  Tenaga Kebersihan

Berpendidikan  minimal  lulusan  SMP/MTs atau yang sederajat.

d. Pengemudi

Berpendidikan minimal lulusan SMP/MTs atau yang sederajat, memiliki SIM yang sesuai, dan diangkat apabila sekolah/madrasah memiliki kendaraan roda empat.

e.  Pesuruh

Berpendidikan  minimal  lulusan  SMP/MTs atau yang sederajat.

-Pentingnya administrasi pembelajaran
Bagi guru, keberadaan administrasi mengajar merupakan sebuah kewajiban yang harus dimiliki guru. Bagi guru kelengkapan administrasi mengajar tersebut merupakan senjata guna melaksanakan tugas dan kewajibannya. Administrasi sendiri berarti usaha dan kegiatan yang meliputi penetapan tujuan serta penetapan cara-cara penyelenggaraan pembina organisasi. Jadi dalam hal ini administrasi mengajar adalah seperangkat kelengkapan yang telah ditetapkan guna mengajar.
Administrasi mengajar atau ada yang menyebut perangkat pembelajaran merupakan bagian yang penting dari sebuah proses pembelajaran. Namun tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak guru yang tidak memiliki perangkat pembelajaran saat mengajar. Bahkan administrasi mengajar tersebut hanya sebatas formalitas belaka.
1. Sebagai Pedoman Pembelajaran
Keberadaan administrasi mengajar merupakan pedoman bagi guru, dalam hal ini memberikan arahan bagi seorang guru tentang kegiatan apa yang harus dilakukan, termasuk kapan melakukannya kegiatan apa yang harus dilakukan, termasuk kapan melakukannys kegiatan tersebut, bagaimana melakukannya. Administrasi mengajar tersebut sudah tertera perencanaan pembelajaran yang akan dilkukan oleh guru, pelaksanaannya, pengevaluasi serta tindak lanjutnya.
2. Sebagai Standar Minimal Kinerja Guru
Mengajar merupakan kegiatan yang terencana dan terstruktur secara sistematis, sehingga semua kegiatan yang dilakukan oleh guru melaksanakan kewajibannya dalam proses belajar mengajar, harus terstruktur dan teradministrasi secara baik, sebagai laporan kepada anak didik sekaligus kepada orang tua wali murid.
Sehingga dengan berpedoman administrasi mengajar, maka semua kegiatan yang dilakukan oleh guru terdektesi. Ketika kepala sekolah atau pengawas atau bahkan guru itu sendiri ingin mengukur kinerjanya, maka dengan melihat adminstrasi yang mereka miliki semua dapat dilihat. Keberadaan adminstrasi mengajar tersebut dijadikan alat untuk mengevaluasi kinerjanya, sejauh mana administrasi yang telah mereka susun dapat terlaksana, sehingga ada peningkatan.
3. Peningkatan Kinerja Guru
Dengan diberlakukan UU Guru dan Dosen, serta diberlakukannya sertifikasi guru adalah kelengkapan administrasi guru. Sehingga dengan kelengkapan administrasi mengajar tersebut akan mampu meningkatkan kinerja guru
4. Alat Evaluasi Kinerja Guru
Salah satu alat evaluasi kinerja guru dapat dilihat dari kelengkapan administrasi mengajarnya. Pelaksanaan supervise pengajaran yang pertama adalah melihat kelengkapan administrasi mengajarnya.
Sehingga dengan kelengkapannya adminstrasi guru dapat terlihat kinerja yang mereka lakukan. Bagaimana mungkin guru dapat melaksanakan kinerjanya dengan baik kalau dia sendiri tidak punya data tentang apa yang akan mereka rencanakan, apa yang akan mereka lakukan serta apa yang telah mereka kerjakan. Jadi dengan keberadaan administrasi mengajar akan meningkat pula kinerja guru tersebut.

BAGIAN 2 : HASIL OBSERVASI DAN PEMBAHASAN
-Gambaran umum sekolah
       Di SD Muhammadiyah Ambarketawang2 meeupakan sekolah umum yang berdasarkan islami. Untuk itu dalam proses belajar mengajar khususnya pelajaran Agama Islam, SD Muhammadiyah Ambarketawang 2 berusaha memberikan pelajaran Agama yang sangat baik dan benar menurut Rasulullah SAW sebagaimana beliaulah tuntunan umat islam.
       SD Muhammadiyah amabarketawang 2 tarletak dilingkungan yang aman dan nyaman jauh daru kebisingan. Gedung SD Muhammadiyah Ambarketawang 2 dibangun berlantai 2 yang nyaman dan sehat untuk proses belajar mengajarnya, halaman terbuka dan lapangan untuk bermain siswa.
   Berbagai macam kegiatan extra kulikulernya seperti dram band, tapak suci, pramuka dan lain lain.

   -Gambaran umum kegiatan pembelajaran
   Sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar setiap warga SD Muhammadiyah Ambarketawang 2 diwajibkan melakukan sholat dhuha berjama'ah baik guru-gurunya maupun siswa siswinya.
   Kegiatan belajar mengajar langsung dibimbing ileh guru kelas dan ada beberapa guru mata pelajaran seperti  Agama, Penjaskes, dan Bahasa Inggris.
   Sarana prasarananya  di SD Muhammadiyah Ambarketawang 2 belum memadahi sehingga para guru atau tenaga didik harus lebih extra dalam mengembangkan pembelajaran dengan  rujuan menjadikan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.
-Uraian mengenai hal-hal yang berkaitan penerapan administrasi pembelajaran oleh guru
   Guru mempunyai tugas yaitu tugas administrasi guru yang Menyusun program pembelajaran (menyusun program tahunan, menyusun program semester, menyusun silabus dan menyusun RPP), Melaksanakan program pembelajaran (daftar nama dan daftar hadir peserta didik, menyusun jurnal pembelajaran, catatan harian/kasus), Melaksanakan evaluasi pembelajaran (menyusun program evaluasi, menyusun instrumen evaluasi, dokumen soal (bank soal), dokumen nilai), Menyusun pelaksanaan program perbaikan (memyusun dam melaksanakan program perbaikan/pengayaan, menyusun program khasus untuk kebutuhan khusus) dan alhamdulillah di SD Muhammadiyah Ambarketawang 2, sudah baik dalam penerapan dan pelaksanaannya dalam program-program yang ada.

Daftar pustaka :
bdkpalembang.kemenag.go.id/pentingnya-administrasi-mengajar-bagi-kinerja-guru

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Evaluasi pendidikan

TEKNIK PENGELOLAHAN DAN PENGUBAHAN (KOMVERSI) SKOR HASIL TES HASIL BELAJAR MENJADI NILAI
1. Perbedaan antara Skor dan Nilai

Sebelum sampai pada pembicaraan tentang teknik pengelolaan dan pengubahan (konversi) skor mentah hasil tes hasil belajar menjadi nilai standar, perlu dijelaskan terlebih dahulu tentang perbedaan antara skor dan nilai. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa kadang-kadang orang menganggap bahwa hasil skor itu mempunyai pengertian yang sama dengan nilai; padahal pengertian seperti itu belum tentu benar.
Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (=memberikan angka) yang diperoleh dengan jalan menjumlahkan angka-angka bagi setiap butir item yang oleh testee telah dijawab dengan betulnya. Contoh berikut ini kiranya akan memperjelas pernyataan diatas.
Misalkan tes hasil belajar dalam bidang studi bahasa inggris menyajikan lima butir soal tes uraian dimana untuk setiap butir soal yang dijawab dengan betul diberikan bonot 10. Siswa bernama Fatimah, untuk kelima butir soal tes uraian tersebut memberikan jawaban sebagai berikut:
-Untuk butir soal nomor 1 dapat dijawab dengan sempurna, sehingga kepadanya diberikan skor 10.
-Untuk butir soal nomer 2 dapat dijawab betul separohnya, sehingga skor yang diberikan kepada siswa tersebut adalah 5.
-untuk butir soal nomer 3, hanya sekitar seperempat bagiannya saja yang dapat dijawab dengan betul, sehingga diberikan skor 2,5.
-Untuk butir soal nomer 4 dijawabbetul sekitar separohnya, sehingga diberikan skor 5.
-Untuk butir soal nomer 5 dijawab betul sekitar tiga seperempatnya, sehingga diberikan skor 7,5.
dengan demikian untuk kelima butir soal tes uraian tersebut, siswa bernama fatimah tersebut mendapatkan skor sebesar = 10 + 5 + 2,5 + 5 + 7,5 = 30. Angka 30 disini belum dapat disebut nilai, sebab angka 30 itu masih merupakan skor mentah (raw score), yang untuk dapat disebut nilai masih memerlukan pengelolahan atau pengubahan (= konversi).
Contoh lainnya:
misalkam tes hasil belajar dalam bidang studi Ushul Fiqh menyajikan 40 bitir soal tes obyektif dengan ketentuan bahwa untuk setiap butir soal yanh dijawab dengan betul diberikan bobot 2. Dengan demikian secara ideal atau secara teoritik apabila seorang testee dapat menjawab dengan betul 40 butir soal tersebut, maka testee yersebut akan memperoleh skor sebesar 40 × 2 = 80 ini disebut Skor Maksimum Ideal (SMI).
Adapunn yang dimaksud dengan nilai adalah angka (bisa juga huruf), yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor yang lainnya,
2. Pengelolaan dan Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Hasil Belajar Menjadi Nilai Standar (Standard Score)
Ada dua hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi skor standar atau nilai, yaitu :
1. Bahwa dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu ada dua cara yang dapat ditempuh, yaitu :
a. Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dilakukan dengan mengacu atau mendasarkan diri pada kriterium atau criterion (=Patokan). Cara ini dikenal dengan istilah criterion refrenced evaluation, yang dalam dunia pendidikan di tanah air kita sering fi kenal dengan istilah pernilaian ber-Acuan Patokan (disingkat PAP).
b. Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dilakukan dengan mengacu atau mendasarkan diri pada norma atau kelompok. Cara ini dikenal dengan istilah norm referenced evaluation, dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah penilaian ber-Acuan Normaa (disingkat PAN), atau penilaian ber-Acuan Kelompok (disingkat PAK).
2. Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dapat memggunakan berbagai macam skala, seperti : skala lima (stanfive), yaitu nilai standar bersekala lima atau yang sering dikenal dengan istilah nilai huruf A, B, C, D, dan F., Skala sembilan (stanine), yaitu nilai standar bersekala sembilan dimana rentangan nilainya mulai dari 1 sampai dengan 9 (tidak ada nilai 0 dan tidak ada nilai 10), Skala sebelas (stanel = standard eleven = eleven points scale, yaitu rentangan nilai mulai dari 0 sampao dengan 10), z score (nilai standar z), dan T score (nilai standar T).
a. Pengolahan dan Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Hasil Belajar Menjadi Nilai Standar dengan Mendasarkan Diri atau Mengacu pada Kriterium (Criterion Referenced Evaluation)
1) Hal-hal yang harus dipelajari oleh testee (murid, siswa, mahasiswa) adalah mempunyai struktur hierarkis tertentu, dan bahwa masing-masing taraf dikuasai secara baik sebelum testee tadu maju atau sampai pada taraf selanjutnya.
Contoh:
Dalam mempelajari mata kuliah Statistik pendisikan, untuk sampai pada pemahaman tentang "t" test", mahasiswa terlebih dahulu harus memahami konsep dasar tentang Standard Error of Mean (SE M). Konsep dasar tentang standard error of mean itu tidak mungkin dapat dipahami secara baik sebelum mahasiswa mempelajari konsep dasar tentang deviasi standar (standard deviation).
2) Evaluator atau tester (dalam hal ini guru, dosen dan lain-lain) dapat mengidentifikasikan masing-masing taraf itu sampai tuntas, atau setidak-tidaknya mendekati tuntas, sehingga dapat disusun alat pengukurnya.
Contoh :
Dalam mencari (menghitung) nilai rata-rata hitung (arithmetic mean), dapat dilakukan identifikasi sebagai berikut :
a. Apakah pembuatan tabel disteribusi frekuensi dari data kuantitatif yang akan dihitung rata-rata hitungnya itu sudah betul?
b. jika tabel distribusi frekuensi sudah betul, apakag tidak terdapat kekeliruan dalam menetapkan midpoint bagi setiap interval nilainya?
Demikianlah seterusnya......
Apabila dalam penentuan nilai hasil tes hasil belajar itu digunakan acuan kriterium  (menggunakan PAP), maka hal ini mengandung arti bahwa nilai yang digunakan akan diberika kepada testee itu harus didasarkan pada standar mutlak (standard absolut). artinya, pemberian nilai kepada testee itu dilaksanakan dengan jalan membandingkan antara skor mentah hasil tes yang dimiliki oleh masing-masing individu testee, dengan skor maksimum ideal (SMI) yang mungkin dapat dicapai oleh testee, kalau saja seluruh soal tes dapat dijawab dengan betul.
3) Evaluator atau tester (dalam hal ini guru, disen dan lain-lain) dapat mengidentifikasikan masing-masing taraf itu sampai tuntas, atau setidak-tidaknya mendekati tuntas, sehingga dapat disusun alat pengukurnya.
Contoh:
Dalam  mencari (menghitung) nilai rata-rata hitung (artihmetic mean), dapat dilakukan identifikasi sebagai berikut:
a) Apakah pembuatan tabel disteribusi frekuensi dari data kuantitatif yang akan dihitung rata-rata hitungnya itu sudah betul?
b) jika tabel distribusi frekuensi sudah betul, apakah tidak terdapat kekeliruan dalam menetapkan midpoint bagi setiap interval nilainya?
Demikianlah seterusnya......
Apabila dalam penentuan nilai hasil tes hasil belajar itu digunakan acuan kriterium  (menggunakan PAP), maka hal ini mengandung arti bahwa nilai yang digunakan akan diberika kepada testee itu harus didasarkan pada standar mutlak (standard absolut). artinya, pemberian nilai kepada testee itu dilaksanakan dengan jalan membandingkan antara skor mentah hasil tes yang dimiliki oleh masing-masing individu testee, dengan skor maksimum ideal (SMI) yang mungkin dapat dicapai oleh testee, kalau saja seluruh soal tes dapat dijawab dengan betul.
Disamping itu, karena penentuan nilai seorang testee dilakukan dengan jalan membandingkan skor mentah hasil tes dengan skor maksimum idealnya, maka penentukan nilai yang beracuan pada kriterium ini juga sering dikenal dengan istilah penentuan nilai secara ideal, atau penentuan nilai secara teoritik, atau penentuan nilai secara das sollen. Dengan istilah "teoritik" dimaksudkan disini, bahwa: secara teoritik seorang siswa berhak atas nilai 100-misalnya- apabila kwseluruhan butir soal tes dapat dijawab dengan betul oleh siswa tersebut. Atau : seorang peserta tes hanya dapat diberikan nilai 50, sebab hanya 50% saja dari keseluruhan butir item tes hasil belajar yang dapat dijawab dengan betul. Dengan demikian maka dalam penentuan nilai yang beracuan pada kriterium, sebelum tes hasil belajae dilaksanakan, patokan itu sudah dapat disusun (tanpa menunggu selesainya pelaksanaan).
Contoh:
Seoranf dosen merencanakan tes hasil belajar dalam bidang studi  Nahwu Sharif. Soal-soal yang dikeluarkan dalam tes tersebut terdiri atas 75 butir soal tes obyektif dan 1 butir soal tes uraian dengan rincian sebagai berikut:
Berdasarkan rincian butir-butir soal tersebut diatas dapatlah kita ketahui bahwa Skor Maksimum Ideal (SMI) dari tes hasil belajar tersebut adalah =120.
Misalkan tes hasil belajar bidang stufi Nahwu Sharaf itu diikuti oleh 80 orang siswa dan dalam test tersebut ke-80 orang siswa itu berhasil meraih skor-skor hasil tes sebagai berikut :
Apabila skor-skor mentah hasil tes obyektif yang dicapai oleh 80 orang siswa Madrasah 'Aliyah tersebut dalam penentuan nilai standarnya digunakan standar mutlak, maka rumus yang digunakan adalah :
Nilai = Skor Mentah × 100
            -
             Skor Maksimum Ideal
Di atas telah dikemukakan bahwa skor maksimum ideal dari tes hasil belajar bidang studi Nahwu Sharaf itu adalah 120. Dengan demikian, apabila skor-skor mentah yang tertera pada Daftar 7.1 diatas kita olah dan kita ubah atau kita konversikan menjadi nilai standar, maka nilai-nilai standar yang berhasil dicapai oleh masing-masing individu/ siswa adalah seperti dapat diperiksa pada Daftar 7.2.
Seperti dapat diamati pada Daftar 7.2 diatas, maka dengan menggunakan standar mutlak, maka "nasib" seorang siswa mutlak ditentukan oleah dirinya sendiri secara individual, tanpa melibatkan atau mempertimbangkan sama sekali skor-skor yang dicapai oleh siswa lain-lainnya. Tinggi dan rendahnya nilai yang dicapai oleh masing-masing individual siswa mutlak ditentukan oleh standar yang sudah ditentukan.
Kalau saja nilai-nilai yang berhasil dicapai oleh 80 orang siswa MAN tersebut ditransfer atau "duterjemahkan" menjadi nilai huruf dengan patokan : Nilai 80 ke atas = A; 66-79=B; 56-65= C; 46-55 = D dan 45 kebawah = E, maka dari 80 orang siswa yang mengikuti tes hasil belajar tersebut tidak ada seorang pun yang mendapat nilai A, yang mendapat nilai B bahwa 2 orang (2,5%), nilai C dicapai oleh 8 orang siswa (10,0%), sedang sisanya, yaitu 70 orang (87,5%) nilainya adalah D dan E (D = 33 orang atau 41,25% dan E = 37 orang atau 46,25%). Dari kenyataan seperti inilah maka orang sering menyatakan bahwa penentuan nilai dengan menggunakan standar absolut itu "terlalu kejam" dan "tidak manusia

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Otoriter

-Pola Asuh Otoriter
Menurut santrock (2011) pola asuh otoriter adalah gaya membatasi dan menghukum ketika orang tua memaksa anak-,anaknya untuk mengikuti arah mereka dan menghormati pekerjaan serta upaya mereka.
Hurlock (1980) menjelaskan bahwa penetapan pola asuh otoriter sebaiknya disiplin orang tua serta yang bersifat disiplin trsdisional. Dalam disiplin yang otoriter orang tua nenetapkan peraturan-peraturan dan memberi tahu anak bahwa ia harus mematuhi peraturan tersebut. Anak tudak diberikan penjelasan mengapa harus patuh dan tidak diberi kesempatan mengemukakan pendapat meskipun peraturan yang ditetapkan tidak masuk akal.

-Aspek/Unsur Pola Asuh Otoriter
Eratnya kaitan atau dengan hubungan antara kecerdasan emosi dan kemandirian anak dapat dilihat melalui aspek-aspek operasional keduanya. Pertama pada aspek kemandirian yaitu mengambil inisiatif dan mengendalikan kegiatan. Aspek ini akan dapat dipenuhi oleh individu yang mempunyai kemampuan membina hubungan, mengenali emosi diri sendiri dan orang lain serta mempunyai motivasi. Kedua pada aspek memberdayakan kemampuan yang dimiliki akan dapat dipenuhi oleh individu yang mempunyai motovasi untuk berkarya dan mengelola emosi. Ketiga pada anak aspek menghargai hasil karya diri sendiri akan dapat dipenuhi oleh individu yang mempunyai motovasi untuk berkarya.

-Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Pola Asuh Otoriter
Antara lain faktor intelektual yang merupakan bagiaan dari faktor eksternal meliputi lingkungan, karakteristik sosial, kualitas informasi orang tua dan anak serta status pekerjaan ibu.

Sumber : Persona, jurnal psikologi indonesia januari 2014, vol 1. 3  No.01, hal 1-8.
Oleh Nur Istiqomah Hidayati

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

RIVIEW JURNAL

Judul : PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN PAI MELALUI PEMBINAAN BERBASIS TUTORIAL MENUJU TERCIPTANYA KAMPUS UPI RELIGIUS.
penulis : Aceng Kosasih, Fahrudin, Saepul Anwar
Tahun : 2009
Halaman/ vol : 1-5/ 9
1). Metopen : Kualitatif
2). Isi :
A. Latar Belakang
Pendidilan menjadi kebutuhan yang primer, karna dengan arus globalisasu yang semakin pesat, menusia harus dapat mengikuti perkembangan zaman. Salah satu yang harus ditempuh adalah dengan belajar,  tujuan pendidikan tidak hanya mengejar kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga mengarah pada semakin dekatnya anak didik demgan Sang pencipta, maka emberian Pendidikan Agama Islam (PAI) mulai dari Sd sampai PT mutlak diperlukan, mengingat PAI memiliki karakterristik sebagai berikut :
a. Secara umum PAI merupakan pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran dasar Agama Islam yang terdapat dalam Al-Qur'an dan sunnah.
b. Prinsip-prinsip dasar PAI tertuang dalam tiga kerangka dasar ajaran Islam, yaitu Aqidah, Syari'ah dan akhlak.
c. Mata kuliah PAI tidak hanya mengantarkan mahasiswa untuk menguasai berbagai ajaran Islam, tetapi yang terpenting ialah begaimana mahasiswa dapat mengamalkam ajaran-ajaran itu kedalam kehiduoan sehari-hari.
d. Tujuan diberikan mata kuliah PAI ialah membentuk mahasiswa yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam berakhlakul karimah.
Maka dalam pembelajaran PAI tidak boleh hanya sekedar transfer informasi tentang (ajaran islam) dari dosen k majasiswa, tapi harus menjadi suatu proses pembentukan karakter. Memgingat PAI di PT mempunyai misi Terbinanya mahasiswa yang beriman, bertakwa, berilmu, dan berakhlak mulia serta menjadikan ajaran islam sebagai landasan berpikir dan berprilaku dan pengembangan profesi. UPI sebagai Universitas yang memiliki moto pembelajaran PAInya dengan menjadikan pembinaan keagamaan sebagai bagaian dari tugas tersetrukturata kuliah PAI, yakno dengan menyelenggarakan program tutorial selama satu semester bagi mahasiswa yang mengontrak PAI.
B. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan merumuskan model penyelenggaraan Program Tutorial di UPI, yang meliputi :
1. Tujuan yang akan dicapainya.
2. Materi-materi (Topik-topik) yang sesuai dengan yang diminati dan dibutuhkan untuk dipelajari oleh mahasiswa.
3. Metode yang diterapkannya.
4. Media yang disiapkan dalam pembelajarannya.
5. Model evaluasi yang diterapkannya.

C. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini diorientasikan untuk mengkaji tentang "Pengembangan Model Pembelajaran PAI Melalui Pembinaan Keagamaan Berbasis Tutorial Menuju Terciptanya Kampus UPI Religius". Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode deskriptip dab analisis dokumenter (content analysis).
Dalam penelitian ini untuk menemukan teori-teori yang baku yang digunakan sebagai petunjuk arah dalan menganalisis data yang ditemukan, kemudian dikatagorisasi dan ditafsirkan dengan menggunakan perspektif pendidikan Islam dalam rangka pengembangan model pembelajaran PAI melalui pembinaan keagamaan berbasis Tutorial di UPI digunakan analisis dokumenter atay disebut juga analis ini (content analysis).

D. Hasil
1. Tujuan Tutorial PAI
Program Tutorial UPI berbentuk karena rasa haus yang dimiliki oleh para mahasiswa muslim yang aktif di Masjid al-Furqan sebagai masjid kampus IKIP Bandung (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, yang kini berubah nama menjadi Universitas Pendidikam Indonesia alias UPI) yang masih merasakan kurangnya sarana syiar islam didalam kampus tersebut.
Awal berdirinya kegiatan yang dilakukan olwh Program Tutirial hanya berupa pengajian atau ta'lim yang di lakukan pada waktu duha (pukul 08.00 - 10.00 WIB). Sampai saat ini pun bentuk pengajian ini masih dilakukan, dan namanya pun masih sama : Kuliah Duha.
Pada perkembangan berikutnya, program ini telah mandiri dengan terus mengembangkan sayap dakwahnya melalui program- program ataupun kegiatan dakwah lainnya.
Mengapa bernama Program Tutorial? Karena Program ini memang tidak hanya berisi mentoring atau juga tidak seperti halnya lembaga dakwah kampus (walaupun pada kenyataannya Program Tutorial pun bergerak diranah dakwah) yang sasaran atau kegiatan dakwahnya justru lebih luas.
Walaupun secara maknawi antara tutorial dengan mentoring memiliki kesamaan definisi, namun Program Tutorial lebih mengarahkan kegiatannya pada aspek pembinaan keislaman secara lebih luas.
Program Tutorial PAI UPI memiliki beberapa tujuan ummum berikut :
a. Program wajib Kegiatan Bimbingan Keagamaan untuk mahasiswa peserta mata kuliah PAI di UPI sebagai pengayaan pengalamaan, pengalamaan, dan penggairan kembali akan nilai - nilai ajaran Islam yang pernah dimiliki serta dikembangkannya dalam wawasan kehidupan mahasiswa.
b. Mengembangkan dan meningkatkan Ukhuwah Islamiyah yang dikenal dalan salah satu amal islami, sebagai sebuah bentuk amalan yang dapat mewujudkan terciptanya persatuan dan kesatuan, yang dalam hal ini dapat pula dijadikan sarana untuk terciptanys integrasi mahasiswa muslim di UPI
c. Membangun sumber daya manusia yang mempunyai jiwa kepeloporan dan kemampuan yang unggul dalam upaya pengembangan UPI yang memiliki motto imliah, edukatif, dan religius.
2. Materi- Materi Tutorial PAI
Menurut Shafjan Taftajani, materi yang di bahas pada kegiatan tutorial berkaitan dengan pemahaman dn pengalaman ajaran agama Islam, yaitu :
a. Aqidah Islam, yakni hal-hal yang berkaitan dengan keimanan kepada Allah, serta implementasinya dalam kehidupan sosial.
b. Ibadah, yakbi materi yang berkaitan dengan tata cara pelaksanaan ibadah khusus (ritual), seperti salat dan puasa, serta berbagai ibadah sunnah.
c. Akhlak, yakni materi yang berkaitan dengan tata cara hubungan yang baik antara sesama manusia, alam, dan dengan Allah.
3. Metode dan Media Tutorial PAI
a. Kuliah General
Kuliah General atau yang lebih dikenal dengan kuliah duha, adalah kajian keislaman kontemporer yang dilakukan secara general/ klasik dalam masjid kampus.
b. Mentoring
Mentoring merupakan sebuah model pembinaan yang dilakukan secara dalam sebuah kelompok kecil.
c. Model
Model Outbound digunakan karena pendidikan atau pembinaan yang dilakukan tutorial tidak hanya terhenti pada aspek kognitif dan afektif saja, tetapi juga sampai pada tahapan psikomotorik.
d. Dakwah Berbasis Kelas/ Bina Kader (Binder)
Bina Kader atau lebih dikenal sebagai Binder, yang terintegrasikan dengan Program Tutorial merupakan salah satu usaha dalammenciptakan perubahan suasana kampus seperti yang di harapkan bersama yaitu menciptakan kampus yang religius.
e. Tutorial Online
Pemanfaatan teknologi internet sebagai sebuah jaringan universal, dengan berbagai aplikasi yang berjalan diatasnya, memungkinkan untuk penyelenggaraan tutorial secara online, sehingga demgan demikian akan membuka peluang bagi mahasiswa baik peserta maupun tutor untuk memperluas kesempatan belajar Islam secara mendalam.
f. Bukti Sosial
Bentuk sosial yang telah dilakukan oleh peserta Program Tutorial atau tutee adalah dengan mwnjadi kakak asuh pada program adik asuh, dengan menyisihkan uang saku setiap pekan sebagai sadaqah bagi adik asuh dalam menempuh pendidikan formal mereka.
g. Tutorial Terpadu
Kegiatan ini tidak dilakukan seperti kegiatan tutorial reguler, ini merupakan kegiatan tawaran bagi peserta yang ingin memperdalam wawasan keislamannya sesuai minat kebutuhan.
4. Evaluasi Tutorial PAI
a. Evaluasi Kurikulum
Desain evaluasi yang sibuat untuk mengevaluasi kurikulum kuliah duha, mentoring, pembinaan tutor dan membinaan kader kelas adalah berupa penyebaran angket terhadap populasi (tutee, tutor, dan tutee kader kelas) dengan menggambil sample dari setiap kelompok mentoring. Hasil evaluasi akan direkomendasikan untuk pengembangan program.
b. Evaluasi Peserta
Evaluasi kegiatan tutorial terhadap para tutee meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dilakukan selama masa tutorial berlangsung dan pada akhir kegiatan.

3. Komentar (+) dan (-)
Secara konten  keseluruhan jurnal ini sudah terliat baik, lengkap dan jelas  dalam hal mendeskripsikan apa yang ingin disampaikan oleh peneliti, karena penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan metode kualitatif yakni dengan metode deskriptif. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis isi. adapun tahap pelaksanaannya yang meliputi observasi lapangan, wawancara, dan study leteratur, dan member check dan pelaporan.
Deskripsi yang detail dan mendalam tentang kasus merupakan segi struktural, meskipun dalam penelitian kualitatif narasi yang disampaikan berdasarkan dengan kebutuhan penelitian.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KULIAH AHKLAQ

BAB I
PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN AKHLAQ
secara etimologis (lughatan) akhlaq (Bahasa Arab) adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. berakar dari kata khalaqa yang berarti menciptakan, sakar dengan kata khaliq (pencipta), mahluk (yang diciptakan) dan khalq (penciptaan).
B. SUBER AKHLAQ
-sumber akhlaq atau baik buruknya Al-qur'an dan sunnah.
-hati nurani dan akal serta pandangan masyarakat, dapat menjadi sumber baik dan buruk, namun terkadang spekulatif, relatif dan subyektif.
C. RUANG LINGKUP AKHLAQ
1. Akhlaq Pribadi (al-akhlaq, al-fardiyah)
2. Akhlaq Berkeluarga (al-akhlaq, al-usariyah)
3. Akhlaq Bermasyarakat (al-akhlaq, al-ijtima'iyyah)
4. Akhlaq Bernegara (al-akhlaq ad-daulah)
5. Akhlaq Beragama (al-ahklaq ad-diniyyah)
D. KEDUDUKAM DAN KEISTIMEWAAN AKHLAQ DALAM ISLAM
1. Rasulullah SAW menepatkan penyempurnaan akhlaq yang mulia sebagai misi pokok Risalah Islam.
2. Akhlaq merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam.
3. Akhlaq yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat.
4. Rasulullah SAW menjadikan baik buruknya akhlaq seseorang sebagai ukuran kualitas imannya.
5. Islam menjadikan akhlaq yang baik sebagai bukti dan buah dari ibadah kepada Allah SWT.
6. Nabi Muhammad SAW selalu berdo'a agar Allah SWT membaikan akhlaq beliau.
7. Didalam Al-Qur'an banyak tetdapat ayat-ayat yang selalu berhubungan dengan akhlaq.
E. CIRI-CIRI AKHLAQ DALAM ISLAM
1. Akhlaq Rabbani ialah memiliki nilai mutlak, bukan moral yang kondusional dan situasional.
2. Akhlaq Manusiawi ialah sesuai dwngan fitrah kemanusiaan.
3. Akhlaq Universal ialah mencangkup segala aspek hidup manusia, baik vertikal maupun horizontal.
4. Akhlaq Keseimbangan ialah antara hewan dan malaikat serta akal dan nafsu.
5. Akhlaq Realistik ialah mempertahankan realitas kehidupan.

BAB II
AKHLAQ TERHADAP ALLAH SWT
A. TAQWA
Mengukuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
-Buah dari Taqwa
1. mendapatkan sikap furqan
2. mendapatkan limpahan berkah dari langit dan bumi
3. mendapatkan jalan keluar dari kesulitan
4. mendapatkan rezeki tanpa diduga-duga
5. mendapatkan kemudahan dalam urusannya
6. menerima penghapusan dan pengampunan dosa serta mendapatkan pahala yang besar
B. CINTA DAN RIDHA
Cinta adalah kesadaran diri dari perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada apa yang dicintainya dengan penuh semangat dan rasa kaaih sayang sejalan dengan cinta, seorang muslim haruslah dapat bersikap ridha dengan segala aturan dan keputusan Allah SWT.
C. IKHLAS
Ikhlas ialah berbuat tampa pamrih, hanya semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT.
-Tiga unsur keikhlasan
1. Niat yang ikhlas
2. Beramal dengan sebaik-baiknya
3. Pemanfaatan hasil usaha dengan tepat
-Riya Menghapus Amalan
Lawan kata dari ikhlas adalah riya yaitu melakukan sesuatu bukan karena Allah, tetapi hanya ingin dipuji atau pamrih lainnya.
D. KHAUF DAN RAJA'
Khauf dan Raja' atau takut dan harap adalah sepasang sikap batin yang harus dimiliki serta seimbang oleh setiap muslim.
E. TAWAKAL
ialah membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala sesuatunya kepada-Nya. Tawakal harus diawali dengan kerja keras dan usaha maksimal (ikhtiar).
F. SYUKUR
ialah memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya.
G. MURAQABAH
Muraqabah yang bertaubat kepada Allah SWT adalah oarang yang kembali dari sesuatu menuju sesuatu, dari larangan-Nya menuju pwrintah-Nya.
-lima dimensi taubat
1. Menyadari kesalahan
2. Menyesali kesalahan
3. Memohon ampun kepada Allah SWT
4. Berjani tidak akan mengulanginya
5. Menutupi masa lalu dengan amal shaleh

BAB III
AKHLAQ TERHADAP RASULULLAH SAW
A. MENCINTAI DAN MEMULIAKAN RASUL
Bentuk lain dari menghormati dan memuliakan Rasul SAW adalah tidak berbicara keras dihadapan beliau (QS. Al-Huhurat 49:2)
B. MENGIKUTI DAN MENAATI RASUL
Mengikuti Rasulullah adalah salah satu buktikecintaan seseorang hamba terhadap Allah SWT. (QS. Ali-Imran 3:31)
C. MENGUCAPKAN SHALAWAT DAN SALAM
Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mengucapkan shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad SAW. (QS. Al-Ahzab 33:56)

BAB IV
AKHLAQ PRIBADI
A. SHIDIQ
Shidiq berarti benar atau jujur, lawan kata dari dusta atau bohong
-Bentuk-bentuk shidiq
1. Benar Perkataan
2. Benar Pergaulan
3. Benar Kemauan
4. Benar Janji
5. Benar Kenyataan
-Bentuk-bentuk Kebohongan
1. Khianat
2. Mungkar Janji
3. Kesaksian Palsu
4. Fitnah
5. Gunjung
B. AMANAH
Amanah berarti memelihara titipan dan mengembalikannya kepada pemiliknya dalam bentuk semula, dan lawan kata dari amanah adalah khianat.
-Bentuk-bentuk amanah
1. memelihara ritipan dan mengembalikannya seperti semula
2. menjaga rahasia
3. tidak menyalah gunakan jabatan
4. menunaikan kewajiban dengan baik
5. memelihara semua nikmat yang diberikan Allah
C. ISTIQOMAH
ialah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun memghadapi berbagai macam tantangan dan godaan.
D. IFFAH
ialah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan, merusak dan menjatuhkannya.
E. MUJAHADAH
adalah mencurahkan segala kemampuan untuk melepaskan diri dari segala hal yang menghambat pendekatan diri terhadap Allah SWT, baik hambatan yang bersifat internal dan maupun eksternal.
F. SYAJA'AH
artinya berani lawan kata dari syaja'ah adalah jubun yaitu penakut.
-Bentuk-bentuk keberanian
1. kebenaran menghadapi musuh dalam peperangan
2. keberanian menyatakan kebenaran
3. keberanian untuk mengemdalikan diri tetkala marah sekalipun dia mampu melampiaskannya sebagaimana yang sudah disebut diatas.
-sumber keberanian
1. rasa takut kepada Allah SWT
2. lebih memcintai akhirat dari pada dunia
3. tidak takut mati
4. tidak ragu-ragu
5. tidak menomor satukan kekuatan materi
6. tawakal dan yakin akan pertolongan Allah
7. hasil pendidikan
G. TAWADHU'
ialah rendah hati, lawan dari sombong atau takabur.
keutamaan Tawadhu sikap tawadhu tidak akan membuat derajat seseorang menjadi rendah malah dia akan dihormati dan dihargai.
H. MALU
Malu adalah sifat atau prasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik. malu adalah salah satu refleksi iman, bahkan malu san iman akan selalu hadir bersama-sama.
I. SABAR
Sabar berarti memahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karna mengharap ridho Allah lawan kata dari sabar adalah al-jaza'u yang berarti gelisah.
-Macam-macam sabar
1. sabar menerima cobaan
2. sabar dari keinginan hawa nafsu
3. sabar dalam taat kepada Allah SWT
4. sabar dalam berdakwah
5. sabar dalam perang
6. sabar dalam pergaulan
J. PEMAAF
Pemaaf adalah sikap suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sesikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas. rindakan memberi maaf sebaiknya diikuti dengan tindakan berlapang dada dan lawan daru sifat pemaaf adalah dendam yaitu memelihara rasa permusuhan didalam hati dan menunggu keswmoatan untuk membalas.

BAB V
AKHLAQ DALAM BERKELUARGA
A. BIRRUL WALIDAIN
Birrul walidain adalah berbuat kebajikan kepada kedua orang tua. (QS. Al-Isra 17:23)
B.HAK KEWAJIBAN DAN KASIH SAYANG SUAMI ISTERI
-empat kriteria milih pasangan hidup
1. karena harta
2. keturunan
3. kecantikan
4. agamanya
-Hak-hak bersama suami isteri
1. Hak Tamattu'Badani
2. Hak Saling Mewarisi
3. Hak Nasib Anak
-Kewajiban suami terhadap isteri
1. Mahar
2. Nafkah
3. Ihsan al-asyarah
4. Membimbing dan mendidik keagamaan isteri
-Kewajiban isteri kepada suami
1. Patuh pada suami
2. Ihsan al-asyarah
C. KASIH SAYANG DAN TANGGUNG JAWAB ORANG TUA TERHADAP ANAK
1.Hubungan tanggung jawab
2. Hubungan kasih sayang
3. Hubungan masa depan
-Empat Tipologi Anak
1. anak sebagai perhiasan hidup dunia
2. anak sebagai ujian
3. anak sebagai musuh
4. anak sebagai cahaya mata
D. SILATURRAHMI DENGAN KARIB TERDEKAT
hubungan baik penuh kasih sayang antara sesama kari  kerabat yang asal usulnya berasal dari satu rahim.
-manfaat silarrahim
1. mendapatkan rahmat, nikmat dan ihsan dari Allah SWT
2. masuk surga jauh dari neraka
3. lapang rezeki dan panjang umur
dan tidak di anjurkan untuk memuruskan tali silaturrahim (QS. Muhammad 47:22-23)

BAB VI
AKHLAQ BERMASYARAKAT
A. BERTAMU DAN MENERIMA TAMU
Bertamu: Sebelum memasuki rumah seseorang, hendaklah yang bertamu terlebih dahulu meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuni rumah (QS. An-Nur 24:27)
Menerima tamu: menerima tamu dan memuliakan tamu tanpa membeda-bedakan status sosial mereka adalah salah satu sifat terpuji yang sangat dianjurkan dalam islam.
B. HUBUNGAN BAIK DENGAN MASYARAKAT
Kewajiban sosial sesama muslim
1. Menjawab salam
2. Mengunjungi orang sakit
3. Mengiringkan jenazah
4. Mengabulkan undangan
5. Menyauti orang bersin
D. PERGAULAN MUDA MUDI
-Berjabat tangan, sebaiknya ucap salam diikuti dengan berjabat tangan, dan harus silakukan dengan keikhlasan yang tercermin dari cara bersalaman.
-Khalawah, yang dimaksud adalah kedua-duanya antara pria dan wanita yang tidak punya hubungan suami isteri dan tidak pula mahram tanpa ada orang ketiga.
E. UKHUWAH ISLAMIYAH
ialah sebuah sitilah yang dianjurkan persaudaraan antara sesama muslim diseluruh dunia tanpa melihat perbedaan warna kulit, bahasa, suku, bangsa, dan kewarganegaraan. (QS. Al-Hujurat ayat 10)
-menegakan dan membina ukhuwah islamiyah (QS. Al-Hujuray 49:11)
1. Ta'aruf
2. Tafahum
3. Ta' awun
4. Takaful

BAB VII
AKHLAQ BERNEGARA
A. MUSYAWARAH
ialah sesuatu yang sangat penting guna menciptakan peraturan didalam masyarakat manapun. (QS. Al-Baqarah 2:233)
-Beberapa sikap musyawarah
1. lemah lembut
2. pemaaf
3. mogon ampunan Allah SWT
B. MENEGAKAN KEADILAN
keadilan dapat diartikan dengan memberikan hak seimbang dengan kewajiban atau memberikan seseorang susuai dengan kebutuhan. (QS. Al-A'raf 7:29)
-Keadilan dalam segala hal
1. adil terhadap diri sendiri (QS. An-Nisa 4:135)
2. adil terhadap isteri dan anak-anak (QS. An-Nisa 4:3)
3. adil terhadap mendamaikan perselisihan (QS. Al-Hujurat 49:9)
4. adil dalam berkata (QS. Al-An'am 6:152)
5. adil terhadap musuh sekalipun (QS. Al-Maidah 5:8)
C. AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR
Perintah dan kedudukan amar ma'ruf nahi munkar (QS. Al-Imram 3:104)
D. HUBUNGAN PEMIMPIN DAN YANG DIPIMPIN
Al-Qur'an menjelaskan bahwa Allaj SWT adalah pemimpin orang-orang yang beriman (QS. Al-Baqarah 2:257)
-Kriteria pemimpin
1. Beriman kepada Allah SWT
2. Mendidrikan shalat
3. Membayar zakat
4. Selalu tunduk patuh kepada Allah SWT
Kepatuhan kepada pemimpin perbedaan kepatuhan itu di isyaratkan oleh Allah SWT (QS. An-Nisa 4:59)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menunjukan nilai-nilai positif dari husnudzan dalam fenomena kehidupan

A. Pengertian Husnudzan
    Ada dua istilah yang sering kita dengar, yaitu husnudzan dan su'udzan. Dzan itu sendiri sering juga diartikan ragu karena mengandung unsur keraguan, ketidak pastian, bisa benar bisa salah. Berperasangka baik itu husnudzan dan berperasangka jelek disebut su'udzan.
     Salah satu ajaran, moral islam adalah baik sangka (husnudzan). Artinya baik sangka, lawan katanya adalah su'udzan yang artinya berburuk sangka. Berbaik sangka dan berburuk sangka merupakan bisikan jiwa, yang dapat diwujudkan melalui pelaku yaitu ucapan dan perbuatan. Perilaku husnudzan termasuk akhlak terpuji karena akan mendatangkan manfaat.

B. Bentuk-bentuk Husnudzan
    1. Husnudzan kepada Allah
        Sikap husnudzan terhadap Allah SWT. Hukumnya wajib dan akan sangat mendukung proses pemantapan jiwa kepemimpinan manusia, bahkan akan melahirkan sikap tawadhu dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
       2. Husnudzan kepada Diri Sendiri
           Husnudzan terhadap diri sendiri bisa berarti kita harus mempunyai penilaian terbaik terhadap diri kita.
         3. Husnudzan kepada sesama
             Kita tidak boleh terburu-buru berperasangka jelek kepada orang lain sebelum semuanya jelas.
      
C. Contoh Nilai Positif dari Husnudzan
     1. Husnudzan kepada Allah
- Selalu optimis terhadap apa yang ia lakukan karena iya yakin Allah SWT akan membantunya.
- Selalu teguh, sabar, dan percaya diri bahwa urusannya pasti berhasil.
- Senantiasa bertawakal dan berdo'a kepada Allah SWT supaya diberi pertolongan-Nya.
- Tidak mudah putus asa, tetap berusaha dan oabtang menyerah.
- Jika terlanjur berbuat dosa segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT.
      2. Husnudzan kepada diri sendiri
- Pantang menyerah dan gigih
- Tudak putus asa dalam melakukan urusannya.
- Berinisiatif " merupakan sikap yang dilakukan tanpa perintah dari orang lain untuk mengerjakannya". Contoh : kreatif dan tidak mudah putus asa.
- Rela berkorban
    3. Husnudzan kepada sesama
- Merupakan sikap yang dilakukan dengan sesama muslim agar tercipta keamanan dan ketentraman dengan selalu berperasangka baik kedepannya. Sikap ini ditunjukan dengan rasa senang, berpikir positif, menjaga hak-hak orang lain, membebaskan umat beragama untuk beribada, dan saling menghargai antar sesamanya.

D. Dampak positif dari Husnudzan
- Hubungan persaudaraan lebih harmonis atau lebih baik.
- Terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama manusia.
- Selalu bahagia atas kebahagiaan orang lain.
- Meningkat kadar keimanannya.
- Selalu mendapat pertolongan dan kemudahan hidup dari Allah SWT.
- Husnuudzan akan mendatangkan ketentraman lahir batin.
- Orang yang memiliki sikap husnudzan kepada Allah SWT, menunjukan bahwa ia telah memiliki jiwa yang takwa, sabar, tabah dan tawakal.
- Orang yang memiliki sikap husnudzan kepada Allah SWT akan senantiasa dicintai oleh Allah SWT, karena ia senantiasa menerima apa saja yang telah dilimpahkan kepadanya.
- Orang yang memiliki husnudzan kepada sesama manusia akan senantiasa dicintai oleh sesama, karena orang lain tidak pernah dirugikan oleh dirinya.
- Sikap husnudzan akan menjauhkan seseorang dari perbuatan keluh kesah, iri, dengki, memfitnah, mengadu domba, dendam dan menggunjing.

Referensi :
   A. Ilyas Ismail, pintu-pintu kebaikan, ( Jakarta : PT. RajaGrafindo persada  2001).
    Rif'at Syauqi Nawawi, keperibadian Qur'ani, (Jakarta : Amzah, 2011).
     Abdurrohim, Usman, Noek Aenul Latifah Fuad Thahari. 158 membiasakan akhlak terpuji husnudzan. Direktur Jenderal Pendidikan Islam. Jakarta, 02 april 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Analisis Qur'an dan Hadits untuk SMA/MA sederajat kelas X

A. Pendahuluan
     Pendidikan Agama Islam mempunyai peran yang amat penting dalam membentuk karakter dan perilaku peserta didik. Melalui pendidikan agama islam diharapkan siswa akan terbentuk menjadi pribadi yang bertaqwa, berwibawa, dan berakhlak mulia.
     Setelah satu aspek yang diajarkan dalam pendidikan agama islam adalah sumber aturan dalam agama itu tersendiri yaitu Al-Qur'an dan Hadits. Dilingkungan sekolah aspek ini tertuang dalam mata pelajaran Al-Qur'an dan Hadits, karena seperti yang kita ketahui disekolah-sekolah materi-materi pendidikan agama islam dibagi kedalam beberapa bagian sehingga bisa dibahas lebih mendalam. Begitu pula dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur'an dan Hadits akan dibahas serta lebih mendalam, dalan mata pelajaran Al-Qur'an dan Hadits.
       Menyadari betapa pentingnya fungsi mata pelajaran pendidikan Al-Qur'an dan Hadits bagi peserta didik maka penulis berkeinginan untuk menganalisis buku teks yang menjadi pegangan guru dalam mengajar. Dalam makalah ini penulis akan menganalisis buku teks pendidian Al-Qur'an dan Hadits kelas X Madrasah Aliah.
      Hasil analisus buku dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Adapun kesalahan-kesalahan atau kekurangan-kekurangannya harus diperbaiki dan diperkaya dengan materi-materi Al-Qur'an dan Hadits dari sumber lain untuk menghasilkan buku pegangan yang lebih baik kedepannya.

B. Profil Buku
     Buku yang akan dianalisis berjudul Al-Qur'an dan Hadits untuk Madrasah Aliah kelas X buku ini ditulis oleh berbagai pihak dibawah koordinasi kementerian Agama dan dipergunakan dalam penerapan kurikulum 2013. Buku ini merupakan "Dokumen Hidup" yang senantiasa diperbaiki, diperbaharui dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika perubahan zaman. Masukan yang menbangun dari berbagai kalangan diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku.
     Buku ini diterbitkan. Direktorat Pendidikan Madrasah, Direktorat Jendral Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia. Cetakan ke-1, 2004, yang memiliki sampul berwarna abu-abu kombinasi hitan dan putih. Setelah itu pada sampul terdapat gambar Al-Qur'an yang terbuka. Buku tersebut terdiri dari 140 halaman ditambah 11 halaman depan (mulai dari cover, sampul sampai dengan daftar isi).
      Buku diawali dengan sembutan dari dinas pendidikan, kata pengantar, daftar isi, daftar silabis kemudian baru masuk pasa materi pertama yaitu keutamaan orang berilmu, adapun daftar materi dari buku ini adalah:
Semester Ganjil : Bab 1 materi Al-Quran Kitab-ku. Bab 2 materi Betapa Otentiknya Kitab-ku. Bab 3 materi Tujuan dan Fungsi Kitab-ku. Bab 4 materi Pokok-pokok isi Kitab-ku. Bab 5 materi Manusia Sebagai Hamba Allah dan Khalifah diBumi.
Semester Genap : Bab 6 materi Memahami Hadits, Sunnah, Khabar dan Atsar. Bab 7 materi Menahami Unsur-unsur Hadits. Bab 8 materi Betapa Bermacam-macam sunnah Nabi-ku. Bab 9 materi Memahami Hadits dari Segi Kualitasnya. Bab 10 materi Indahnya Ikhlas dalam Beribadah.
      Dalam setiap materi yang disajikan gambar-gambar yang disesuaikan dengan materi, menurut penulis hal ini nerupakan kelebihan buku karena dengan adanya gambar-gambar tersebut siswa bisa menjadi lebih tertarik untuk membacanya.

C. Analisis Materi
    Dalam makalah ini penulis akan menganalisis materi dari berbagai segi. Diantaranya adalah segi bahasa, tulisan, abalisis kesesuaian materi, analisis terjemah, mufrodat dan terjemah bebas. Analisis kesuaian kisah teladan dengan materi, analisis evaluasi belajar.
    1. Bahasa
        Penulis banyak menemukan kesalahan bahasa yang digunakan dalam kalimat-kalimat buku ini. Kata dalam kalimat sering terjadi,
        -Misalnya terdapat Bab-4 pada halaman 58 alenia ke-1 : yang ditebarkan oleh Yang Maha Tunggal untuk menarik kaum pria dan wanita yang tersesat didalam dunia ini agar kembali kepada sumber Illahi mereka. Kata "Yang Maha Tunggal" dialenia tersebut seharusnya ditulis "Tuhan Yang Maha Esa atau Allah SWT.
          -Terdapat pula pada Bab-5 halaman 68 alenia ke-1 dengan demikian dan gemblang dialenia tersebut seharusnya ditulis dengan "jelas atau mudah dimengerti".
      2. Analisis Tulisan
Sama seperti halnya pada aspek bahasa, aspek tulisan dalam buku Al-Quran dan Hadits MA (madrasah aliah) untuk kelas X ini sudah sangat baik, baik itu tulisan arab maupun latin sangat jelas dan mudah dibaca didalam buku ini. Banyak terdapat istilah arab yang ditulis dengan huruf latin meskipun begitu, buku ini tidak dilengkapi dengan transliterasi arab-indonesia yang biasanya terdapat diawal buku. Hal ini menimbulkan ketidak jelasan, apakah istilah arab tersebut dibaca panjang atau pendek.
Contohnya  :
-terdapat pada Bab-1, halaman 10 kata sebagaimana termaktub dalam ayat ini, seharusnya ditulis termasuk.
-terdapat pada Bab-5 halaman 69 kata dapat menangkap pesan menlalui pendengaran itu, seharusnya ditulis dengan melalui.

3. Analisis Kesesuaian Materi
       Secara keseluruhan, materi yang disampaikan sudah sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai misalnya saja pada Bab-1 standar kompetensinya yaitu Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Sesuai standar kompetensi tarsebut maka materi yang disampaikan yaitu memahami agama yang dianutnya
      Kekurangannya terletak pada Kompetensi Dasar. Dalam buku Al-Qur'an dan Hadits madrasah aliah untuk kelas X ini, komprtensi dasarnya hanya meliputu membaca, mengartikan dan memahami. Hal ini mengartikan bahwa, kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh peserta didik hanya sampai pada ranah kognitif tingkat pengetahuan (knowladge) dan nemahami (comprehension) padahal, setidaknya peserta didik harus mencapai tingkat (aplication) dimana siswa mampu menguraikan penerapan suatu konsep.

4. Analisa Terjemah Mufrodat dan Terjemah Bebas
     Buku Al-Qur'an dan Hadits madrasah aliah kelas X menyediakan terjemahan mufrodat yang dapat memudahkan siswa dalam memahami atau menghafalkan suatu ayat atau hadits. Menurut pendapat penulis secara keseluruhan terjemah mufrodat dalam buku ini sudah cukup bagus.

5. Analisa Kesesuaian Kisah Teladan dengan Materi
    Yang sedang dibahas ada yang kurang dari materi yang disampaikan seperti terdapat pada Bab-10 halaman 129 yang berjudul tentang indahnya ikhlas dalam beribadah. Akan tetapi pembahasannya mari mamahami Al-Qur'an dan Hadits.
     Menurut penulis kisah ini tidak sesuai dengan tema yang sedang dibahas. Pembahasan ini kurang relevan demgan tema yang dibahas. Sedangkan materi yang dibahas adalah indahnya ikhlas dalam beribadah.

6. Analisis Evaluasi Belajar
    Evaluasi yang digunakan dalam buku ini masih rendah. Instrumen yang dipakai masih moniton. Dari bab-1 sampai bab akhir evaluasinya yang diberikan hampir sama. Apalagi untuk sub bab tugasnya, semuanya berisi perintah menulis dan menterjemahkan ayat. Walaupun itu diberikan untuk memenuhi standar kompetensi mungkin soal dapat dibuat berbeda walaupun intinya sama. Sehingga siswa tidak merasa bosan. Uji kompetensi pada buku ini juga masih belum dapat digunakan untuk mengukur penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan, disamping sangqt monoton dan tidak adany variasi soal juga karena evaluasu yang diberika langsung dihubungkan dengan kejadian dalam kehidupan nyata. Seperti  sisa- mengingat-ingat dalam mencatat amal sholeh yang pernah dilakukan dengam ikhlas.
     Dengan tugas seperti ini tentu akan sulit untuk melakukan penilaian. Penulis juga menemukan kesalahan lain. Seperti yang telah diketahui bahwa suatu instrumen evaluasi akan donilai baik bersifar representatif, obyektif, variatuf, valid dan praktis dari sisi repsentatif. Di katakan demikian karena butir-butir soal yanf dapat mewakili materi-materinya yang telah di sampaikan.
      Akan tetapi instrumen evaluasi dalam buku Al-Qur'an dan Hadits madrasah aliah untuk kelas X hanya mewakili per-satu bab materi yang telah disampaikan. Artinya tets obyektifitaanya, menurut pendapat penulis seluruh soal tets sudah objektif. Soal-soal yang ada mengukur penguasaan siswa mengenai materi yang diajarkan buku pada materi yang tidak diajarkan.
     Kemudian dari sisi variasinya, evaluasi dalam buku ini masih kurang variatif, hal ini dapat dilihat dalam variasi soal yang hanya menggunakan 3 (tiga) jenis soal, yakni menuliskan terjemahan bahasa indonesia, uraian dan essy, seharusnya evaluasi yang disajikan bisa lebih bervariatif misalnya dengan mencantumkan bentuk soal objektif yang lain yaitu multiple choice, fill in test, matching test, completion test.
7. Kesimpulan
    Dari analisis diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa dalam biku Al-Qur'an dan Hadits MA (Madrasah Aliah) untuk kelas X :
    1. Terdapat beberapa kesalahan bahasa dan tulisan.
    2. Kompetensi dasar yang hanya sampai pada tingkat mahami.
    3. Terdapat kisah teladan yang tidak sesuai dengan materi.
    4. Terdapat beberapa kesalahan dalam instrumen evaluasi belajar.

Daftar Pustaka
Syam nur, Al-Qur'an Hadits Madrasah Aliah kelas X. Jakarta : kementerian Agama Republik Indonesia 2014.
    

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MEDIA DAN TEKNOLOGI

TEKNOLOGI
Pendidikan dan latihan selalu cenderung lebih tergantung pada penemuan dari pada terhadap disain, dan oleh karna itu di dalam proses mengajar telah ditekankan pentingnya seni dan keterampilan. Nemun demikian, waktu telah berubah dan sekarang dipandang penting suatu pendekatan yang lebih sistematis untuk proses belajar dan mengajar. Dalam masa-masa lampau, gagasan atau fikiran selalu hidup lebih lama dari orang , tetapi sekang ini, orang hidup lebih lama dari kebanyakan gagasan. Seperti dikatakan Bono (1964) “teknologi telah mempercepat banyak hal sehingga gagasan atau fikiran mungkin harus diubah dalam satu generasi, dari pada antara beberapa generasi. Namun,kebudayaan dan kependidikan kita senantiasa berkepentingan dengan pembuatan gagasan-gagasan, dan bukan dengan usaha untuk mengubahnya”. Sesungguhnya kita hidup dalam suatau abad yang ditandai dengan ketidak pastian dan ketidaksinambungan (lihat Drucker, 1969), di mana keterampilan yang didasarkan pada mekanisasi secara berangsur-angsur diganti dengan keterampilan yang disarankan kepada teknologi informasi dan pengetahuan. Untuk menyiapkan diri dalam menghadapi peranan baru, pendidikan dan latihan memerlukan suatu kerangan konseptual yang baru atas mana keputusan-keputusan yang berhubungan dengan perubahan dan inovasi dapat diambil.
 Hakikat teknologi pendidikan dan latihan
Dalam beberapa tahun saja, telah muncul dan berkembang teknologi pendidikan dan latihan yang sebenarnya, yang memberikan kerangka penting untuk merencanakan dan mengorganisasikan sumber-sumber belajar, dalam rangka mewujudkan tujuan belajar atau tingkat pencapaian tingkah laku tertentu. Argyris (1964) menyatakan bahwa efektivitas setiap jenis organisasi tergantung pada kemempuannya untuk mencapai  tiga maksud penting yaitu:
1.      Untuk mencapai tujuannya
2.      Untuk mempertahankan dirinya secara internal
3.      Untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan
Teknologi pendidikan berkepentingan dengan masalah-masalah yang di jumpai dalam konteks pendidikan dan latihan, dengan ciri digunakan pendekatan sistematik untuk organisasi sumber-sumber belajar. Walaupun perkembangan teknologi pendidikan tidaj dalam seluruhnya dijelaskan sebagai munculnyasuatu teori yang baru dalam ilmu pendidikan atau psikologi, namun benih –benihnya terlihat dngan jelasdalam prinsip-prinsipperkembangan belajar secara berprogama.
Ø  Dua macam teknologi pendidikan
Istilah “teknologi pendidikan”, yang juga meliputi teknologi latihan, biasanya mempunyai dua arti yang amat berbeda, tergantung pada siapa yang membahasnya dan bagai mana konteks perdebatannya. Karena itu penting dibedaka kedua arti tersebut, yang mana masing-masing mempunyai asosiasi dan konsekuensi yang berbeda. Lumsdaine (1964) menyarankan bahwa keduanya dapat dibedakan sebagai teknologi pendidikan(1) dan teknologi pendidikan(2) sebagai berikut:
1.      Teknologi pendidikan ini pada pokoknya adalah suatu pendekatan perangkat keras (hardware approach), yang menekankan pentingnya alat bantu mengajar, dan asal-usulnya terletak dalam aplikasi ilmu fisika kedalam system pendidikan dan latihan. Konsep ini mendomonasikan ebanyakan leteratur tentang teknologi pendidikan. 
2.      Teknologi pendidikan ini pada dasarnya adalah suatu pendekatan perangkat lunak (software approach), menunjukan kepada aplikasi prinsip-prinsip belajar untuk pembentukan tingkah laku yang langsung dan disengaja.

 Sistem belajar
Guru menggunaka pendekatan klasik ini memang peranannya sebagai seorang penjaga yang berusaha mencapai tujuannya dengan jalan memberikan motivasi, mengawasi, dan mengubah tingkah laku murid melalui beberapa teknik mengajar dan biasanya menggunakan kapur dan percakapan. Pendekatnnya adalah terpusat pada tugas.
1.      Teknologi pendidikan adalah aplikasi prinsip-prinsip teknologi dewasa ini dalam teori dan pelaksanakan pendidikan sehingga memungkinkan guru-guru untuk meningkatkan efektivitasnya secara menyeluruh, dan membantu mereka untuk berhubungan dengan murid yang menjadi semakin banyak jumlahnya.
2.      Menunjuk kepada aplikasi prinsip-prinsip ilmu tingkah laku saat ini terhadap teori dan pelaksanaan pendidikan sehingga dapat menjamin bahwa bahan-bahan belajar adalah menyenangkan, memberikan ganjaran dan hasil.

 Teori mengajar
Teknologi pendidikan yang mengkombinasikan pendekatan perangkat keras dan perangkat lunak dari dua mecam teknologi lainnya, merupakan suatu jembatan antara teori dan praktik pendidikan. Akibatnya, terdapat suatupermulaan timbulnya suaru teori umum mengajar, suatu pedoman untuk ilmu memdidik, sehingga kita tidak lagi menjadi terlalu tergantung pada suatu teori belajar. Tentu setiap teori tingkah laku yang memadahi harus sanggup digunakan untuk mengajar dan belajar, apa bila mengajar dianggap sebagai “dependent variable” atau kondisi yang tidak dimanipulasikan.
 Sebagai suatu rangkaian startegi yang harus diambil dan dilaksanakan oleh guru dan instruktur. Perubahan yang amat sederhana dan amat jelas dalam pendekatan tersebut mungkin guru berhubungan dengan keseluruhan kelasyang sampai sekarang diabaikan oleh para ahli teori belajar, dan juga memungkinkan adanya suatu ilmu atau sains dan seni tentang mengajar dengan menggunakan prinsip-prinsip teknologi.
Guru dilihat sebagai pengelola sumber belajar, berperan untuk memilih atau memutuskan diantara berbagai stategi mengajar dan belajar, teknologi pendidikan memberikan kerangka konseptual yang perlu untuk pendekatan baru ini, dan membantu memecahkan masalah-masalah yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan system pendidikan dan latihan untuk mempertahankan, menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan untuk menyesuaikan dan mengelola pengetahuan.

MEDIA
 Pemilihan media
Dalam metodologi mengajarkan ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan media pendidikan sebagai alat bantu mengajar. Sedangkan penilaian adalan alat untuk mengakat atau menentukan tariff tercapai tidaknya tujuan pelajaran.
Ada beberapa jenis media pendidikan yang bias digunakan dalam proses pengajaran.
1. Media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagian atau diagram, poster dan kartun. Yakni media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar.
2. Media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat (solid model) model penampang, model susun dan model kerja.
3.    Media proyeksi seperi slide, film, dan penggunaan OHP.
4.   Penggunaan lingkungan sebagai media pendidikan.

 Factor-faktor yang perlu dipertimbangakn terhadap pemilihan media pendidikan
1.      Relevansi pengadaan media pendidikan edukatif
2.      Kelayakan pengadan media pendidikan edukatif
3.      Kemudahan pengadaan media pendidkan edukatif
Berdasarkan ketiga factor tersebut, maka dalam memberikan prioritas pengadaan media pendidikan perlu diadakan pengukuran untuk ketiga factor tersebutsesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan di sekolah.
Pemilihan sekaligus pemanfaatan media perlu memperbaiki kriteria sebagai berikur:
1.      Tujuan yaitu: media hendaknya menunjang tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.
2.      Keterpaduan yaitu: tepat dan berguna bagi pemahaman bahan yang dipelajari.
3.      Keadaan peserta didik yaitu: kemampuan daya piker dan daya tangkap peserta didik dan besar kecilnya kelemanan peserta didik perlu dipertimbangkan.
4.      Ketersediaan yaitu: pemilihan perlu memperhatikan ada/ tidak media tersedia diperpustakanan/ disekolah serta mudah sulitnya diperoleh.
5.      Mutu teknis yaitu: media harus memiliki kejelasan dan kualitas yang baik.
6.      Biaya, hal ini merupakan pertimbangan bahwa biaya yang dikeluarkan apakah seimbang dengan hasil yang dicapai serta ada kesesuaian atau tidak.

 Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pendidikan untuk mempertinggi kualitas pengajaran:
1. Guru perlu memiliki pemahaman media pendidikan antara lain jenis dan manfaat media pendidikan.
2.  Siswa, guru terampil membuat media pendidikan. Sederhana untuk keperluan pengajaran, terutama media dan dimensi atau media.
3. Garfish, dan beberapa media tiga dimensi, dan media proyeksi,pengetahuan dan keterampilan dalam melalui keefektifan penggunaan media dalam proses pengajaran.

 Dalam hubungannya dengan penggunaan media pada waktu berlangsung pelajaran setidak-tidaknya digunakan guru pada situasi sebagai berikut:
1.   Bahan pengajaran yang dijelaskan guru kurang dipahami siswa.
2.   Terbatasnya sumber pengajaran.
3. Guru tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pengajaran melalui penuturan kata-kata (verbal) akibat terlalu lelah disebabkan telah mengajar cukup lama.
4.      Perhatia siswa terhadap pengajaran sedah berkurang akibat kebosanan mendengarkan uraian guru.


Daftar pustaka:
Harjianto. 2003. Perencanaan pengajaran.jakarta. Cv. Rineka cipta
 Davies. Ivor K. 1987. Pengelolaan belajar. Jakarta. Cv. Rajawali

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Design Downloaded from Ratna Nurjannah | Ratna Nurjannah | Kicenks | Haitami.