1) Pokok-pokok pendapat dari teori belajar Behavioristik, Cognitive, Humanistik.
A. Behavioristik
Tokoh utama aliran ini ialah J.B Watson. Watson sebenarnya bermula-mula belajar filsafat, tetapi kemudian pindah kedalam lapangan psikologi. Sejak tahun 1812 watson telah menjadi terkenal karenaa penyelidikan-penyelidikannya mengenai proses belajar pada hewan.
-Dasar-dasar pendapat watson bahwa sebagai scince psikologi harus bersifat positif, sehingga obyeknya bukanlah kesadaran dan hal-hal lain yang tak dapat diamati, melainkan haruslah tingkah laku, lebih tegasnya lagi tingkah laku yang pisitif, yaitu tingkah laku yang diobservasi.
Tingkah laku adalah reaksi organisme sebagai keseluruhan terhadap perangsang dari luar, reaksi tersebut terdiri dari gerakan-gerakan dan perubahan-perubahan jasmani tertentu, jadi dapat diamati secara obyektif. Ada tiga macam teori yaitu
1. Operant conditioning (pembiasaan perilaku respon)
Teori sarbon (stimulus and response bond theory). Tingkah laku yang kompleks ini dapat dianalisis menjadi rangkaian "unit" perangsang dan reaksi (stimulus and response) yang disebut refleks.
Perangsang atau stimulus itu adalah situasi obyektif, yang wujudnya dapat bermacam-macam, seperti misalnya : sinar, bola kasti yang dilemparkan, rumah terbakar, kereta api penuh sesak dan sebagainya.
Response adalah relaksi obyektif dari pada individu terhadap situasi sebagai perangsang, yang wujudnya juga dapat bermacam-macam sekali, seperti misalnya : refleks pattela, memukul bola, menggambil makanan, memutup pintu dan sebagainya.
2. Connectionisme (koneksionnisme)
Pertama-tama adalah teori belajar R.S Bond atau asosiasi. Teori inilah yang pertama kali dicetuskan oleh kelompok Behavioris dengan tokohnya Thomdike. Behavioris mengingatkan agar study mereka benar-benar dapat diminati, seperti halnya dengam ilmu-ilmu lainnya, karena itu mereka tidak mau menggenal atau memperhitungkan hal-hal diluar pengamatan dalam memperlajari dan mengembangkan psikologi belajar. Karena itu menurut mereka belajar akan terjadi kalau ada kotak hubungan antara orang bersangkutan dengan benda-benda yang ada diluar. Ini yang mereka namakan S-R Bond, yaitu S adalah Stimulus dari luar diri seseorang dan R adalah Respon orang bersangkutan, sedangkan Bond adalah Hubungan atau Asosiasi. Sebab itu mereka menyebutkan psikologinya Koneksionisme atau Asosiasisme. Bila seorang anak melihat temannya akan berangkat kesekolah sebagai suatu stimulus, maka anak ini berhenti dan menunggu teman itu sebagai stimulus, maka anak ini berhenti dan menunggu teman itu sebagai respon dan mereka berangkat bersama-sama kesekolah. Anak ini sudah belajar bahwa berangkat kesekolah sebaiknya bersama-sama dengan teman. Begitu pula sampai disekolah anak-anak disuruh membaca oleh ibu gurunya sebagai stimulus.
3. Classical conditioning (pembiasaan klasik)
a. Teori belajar Disiplin mental Theistik
Theistik berasal dari Psikologi Daya atau Psikologi Fakulti, menurut teori ini individu atau memiliki sejumlah daya mental seperti pikiran, ingatan, perhatian, kemampuan, keputusan, observasi, tanggapan, dan sebagainya, masing-masing daya ini dapat ditingkatkan kemampuannya melalui latihan-latihan. Jadi teori ini memandang mental seprti urat daging yang bisa ditingkatkan kekuatannya melalui latihan-latihan demikian belajar adalah melatih daya.
b. Teori belajar Disiplin mental Humanistik
Bersumber dari aliran psikologi humanistik klasik ciptaan Plato dan Aristoteles. Teori ini sama dengan disiplin mental theistik diatas, yaitu mana kala daya-daya itu dilatih, mereka akan semakin kuat, maka individu bersangkutan dengan mudah dapat memecahkan berbagai masalah yang dihadapi. Bedanya adalah proses pelatihan, kalau teori diatas melatih bagian demi bagian daya atau potensi anak. Maka disiplin mental humanistik menekankan secara utuh. Sebab itu pun lebih menekan pendidikan umum. Mereka berpendapat kalau seseorang menguasai sesuatu yang bersifat umum, maka dengan mudah bisa ditransfer atau diterapkan kepada hal-hal yang bersifat khusus.
c. Teori belajar Naturalis atau Aktualisasi Diri
Berpangkal fari psikologi Naturalis Romantik yang dipimpin oleh Roussean. Sama halnya dengan kedua teori diatas, teori naturalis inipun memandang setiap anak memiliki sejumlah potensi atau kemampuan, potensi-potensi ini juga harus dikembangkan, tetapi bukan oleh pendidikan dengan cara melatih, melainkan oleh anak itu sendiri, sebab itu teori ini disebut juga teori aktualisasi diri agar anak-anak dapat berkembang sendiri dengan baik, pendidikan perlu menciptakan situasi yang permisif atau rileks hanya dalam situasi seperti inilah anak-anak dapat berkembang secara bebas seperti halnya dengan makhluk-makhluk lainnya, maka naturalis berada pada perkembangan secara alami dialam bebas.
d. Teori belajar Apersepsi
Teori ini berasal dari psikologi struktur Ciptaan Herbart. Sebab itu dinamai pula Herbatisme psikologi ini memandang bahwa jiwa manusia merupakan suatu struktur, struktur ini bisa berubah dan bertambah manakah orang bersangkutan belajar. Pertumbuhan ini dapat melalui asosiasi antara atruktur yang sudah ada dengan hal-hal yang dipelajari. Berarti belajar adalah memperbanyak asosiasi-asosiasi sehingga berbentuk struktur baru dalam jiwa anak.
Langkah-langkah belajar memurut Herbart :
1. Pendidikan harus mengadakan persiapan dengan cermat
2. Pendidikan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga anak-anak merasakan jelas memahami pelajaran itu, yang memudahkan asosiasi-asosiasi baru berbentuk
3. Asosiasi-asosiasi baru berbentuk antara materi yang dipelajari dengan struktur jiwa atas apersepsi anak yang telah ada
4. Mengadakan generasi, pada saat ini terbentuk suatu struktur baru didalam jiwa anak
5. Mengaplikasikan pengetahuan yang baru didapat agar struktur terbentuk semakin kuat.
-Teori belajar klasik, walaupun umumnya sudah tua, untuk hal-hal tertentu masih bisa dipakai.
B. Cognitive
Teori Cognitive - Goesralt - Field, rumpun dari ketiga adalah Cognitive - Goesralt - Field. Kalau rumpun Behavioristik bersifat indikator (menekan unsur-unsur) maka cognitive ini bersifat keseluruhan dan keterpaduan.
1. Teori Cognitive dikembangkan oleh para ahli psikologi cognitive teori ini berbeda dengan Behavioristik, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalah mengetahui (knowing) dan bukan respon. Teori ini menekan pada pristiwa mental, bukan hubungan stimulus-respon. Prilaku juga penting sebagai indikator, tetapi yang lebih penting adalah berpikir. Dalam kaitannya dengan berpikir ini, bahwa pada manusia terbentuk struktur mental atau organisasi mental. Pengetahuan terbentuk melalui proses menganasiasian pengetahuan baru dengan struktur yang telah ada setelah pengetahuan baru tersebut diinterprestasikan oleh struktur yang ada tersebut.
Hal lain yang juga sangat penting dalam teori cognitive adalah, bahwa individu itu aktif, konstruktif dan berencana, bukan pasif menerima artimulus dari lingkungan. Menurut para ahli cognitive, individu merupakan partisipan aktif dalam proses memperoleh dan menggunakan pengetahuan, individu berpikir secara aktif dalam membentuk wawasan tentang kenyataan, memilih aspek-aspek penting dari pengalaman untuk disimpan dalam ingatan, atau digunakan dalam pemgelolahan masalah.
2. Teori Goestalt berkembang dijerman dengan pendirinya yang utama adalah Max Wertheimer. Tokoh-tokoh lainnya adalah Walfgang Kohler, Kurt Koffkn, dan Kurt Lewin, Goestalt bahasa jerman yang artinya kurang lebih konfigurasi, pola, kesatuan, keseluruhan. Memang psikologi Goestalt menekan keseluruhan. Keseluruhan lebih dari jumlah bagian-bagian keseluruhan membuat satu kesatuan yang bermakna, menurut Goestalt belajar harus dimulai dari keseluruhan, baru kemudian kepala bagian-bagian belajar Goestalt menekankan pemahaman atau insigiht. Suatu keseluruhan terdiri atas bagian-bagian yang mempunyai hubungan yang bermakna satu sama lain dalam belajar siswa harus memahami makna hubungan antara satu atau bagian dengan bagian lainnya suatu hukum yang terkenal daru teori Goestalt. Yaitu hukum pragnanz yang kurang lebih berarti teratur, seimbang, harmonis. Belajar adalah mencari dan mendapatkan pragnanz, menemukan keteraturan, keharminisan dari sesuatu. Ada enam ciri belajar menurut Ernest Hilgard yaitu,
1. Pemahaman dipengaruhi oleh kemampuan dasar
2. Pemahaman dipengaruhi oleh pengalaman belajar yang lalu
3. Pemahaman tergantung kepada pengaturan situasi
4. Pemahaman dilalui oleh usaha coba-coba
5. Belajar dengan pemahaman dapat diulang
6. Suatu pahaman dapat diaplikasikan bagi pemahaman situasi lain
3. Teori medan atau Field Theory merupakan salah satu teori yang termasuk rumpunan Cognitive - Goestalt - Field. Teori ini sama dengan Goestalt menekan keseluruhan dan kesatupaduan. Memurut teori medan individu selalu berbeda dalam suatu medan atau ruang hidup.
Medan hidup menurut Kurt Lewin
Motif - Kegiatan - Hambatan - Tujuan
Dalam hidup ini ada sesuatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi untuk pencapaiannya selalu ada berier atau hambatan. Individu memiliki satu atau sejumlah dorongan dan berusaha mengatasi hambatan untuk mencapai tujuan tersebut. Apabila individu telah nerhasil mencapai tujuan, maka masuk kedalam medan atau lapangan psikologi baru yang didalamnya berisi tujuan baru dengan hambatan-hambatan baru pula. Demikian seterusnya individu keluar dari suatu bedan dan masuk kemedan psikologi berikutnya. Memurut teori ini belajar adalah berusaha mengatasi hambatan-hambatan untuk memcapai tujuan.
C. Humannistik
2. Iya sampai saat ini masih relevan, prinsip- prinsip belajar teori tersebut untuk pendidikan sekarang karena teori- teori yang banyak dikemukakan oleh para akhlinya.
3. Prinsip belajar dalam islam
Rasulullah SAW bersabda: “Mencari ilmu (belajar) wajib hukumnya bagi setiap orang Islam”. Dan pada kesempatan lain beliau pun pernah menganjurkan, agar manusia mencari ilmu meski berada di negeri orang (Cina) sekalipun; meski dari manapun datangnya. Hadis tentang belajar dan yang terkait dengan pencarian ilmu banyak disebut dalam al-Hadis, demikian juga dalam Al-Qur’an al-Karim. Hal ini merupakan indikasi, bahwa betapa belajar dan mencari ilmu itu sangat penting artinya bagi umat manusia. Dengan belajar manusia dapat mengerti akan dirinya, lingkungannya dan juga Tuhan-nya. Dengan belajar pula manusia mempu menciptakan kreasi unik dan spektakuler yang berupa teknologi.
Belajar dalam pandangan Islam memiliki arti yang sangat penting, sehingga hampir setiap saat manusia tak pernah lepas dari aktivitas belajar. Keunggulan suatu umat manusia atau bangsa juga akan sangat tergantung kepada seberapa banyak mereka menggunakan rasio, anugerah Tuhan untuk belajar dan memahami ayat-ayat Allah SWT. Hingga dalam al-Qur’an dinyatakan Tuhan akan mengangkat derajat orang yang berilmu ke derajat yang luhur (lihat : Qs. Al- Mujadilah : 11).
Apalagi dalam konsep Islam terdapat keyakinan yang menegaskan, bahwa belajar merupakan kewajiban dan berdosa bagi yang meninggalkannya. Keyakinan demikan ini begitu membentuk dalam diri umat yang beriman, sehingga mereka memiliki etos belajar yang tinggi dan penuh semangat serta mengharapkan “janji luhur” Tuhan sebagaimana yang difirmankan dalam ayat-Nya
2. Pengerrian kata- kata kunci
a. Pendidikan : Pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin terjadi didalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda. Mungkin pula terjadi dengan sengaja dan dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup. (John Dewey)Pendidikan adalah proses yang terus menerus (Abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi mahluk manusia yang telah berkembangan secara fisik dan mental yang bebas dan sadar kepada tuhan, seperti termanivestasi dalam alam sekitar intelektual dan kemanusiaan dari manusia. (H. Horne)
Berdasarkan definisi dari para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan proses pembaharuan makna pengalaman yang terus menerus, terjadi didalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda mungkin juga terjadi secara dilembagakan untuk menghasilkan kesinambungan sosial.
b. Pelatihan : Pelatihan atau training sebagai suatu kegiatan yang bermaksud untuk memperbaiki dan mengembangkan sikap, tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dari karyawan sesuai dengan keinginan perusahaan. Pelatihan yang dimaksudkan adalah pelatihan dalam pengertian yang luas tidak terbatas hanya untuk mengembangkan keterampilan semata. (Netisimito, 1996:35)Pelatihan sebagai proses sistematis dimana karyawan mempelajari pengetahuan (Knowledge), keterampilan (Skill), Kemampuan (Ability) atau prilaku terhadap tujuan pribadi organisasi. (Carrell dan Kuzmits 1982:282)Pelatihan berarti menuntun dan mengarahkan perkembangan dari peserta pelatihan melalui pengetahuan, keahlian dan sikap yang diperoleh untuk memenuhi standar tertentu. (Drummond, 1990:63)
Berdasarkan definisi dari para ahli diatas tentang pelatihan, maka dapat disimpulkan bahwa pelatihan adalah suatu proses kegiatan yang dimaksudkan untuk memperbaiki sikap, tingkahlaku, keterampilan serta pengtahuan baik itu dari karyawan atau peserta pelatihan untuk memenuhi standar (standar sikap, tingkahlaku, keterampila serta pengetahuan yang ditetapkan perusahaan) tententu guna mencapai tujuan perusahaan.
c. Pengembangan: Pengembangan adalah proses peningkatan ketrampilan teknis, teoritis, konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan. Pendidikan dan latihan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan pekerjaan masa kini maupun masa depan.
d. Pemberdayaan : Pemberdayaan berasal dari kata “daya” yang mendapat awalan ber- yang menjadi kata “berdaya” artinya memiliki atau mempunyai daya. Daya artinya kekuatan, berdaya artinya memiliki kekuatan.
Pemberdayaan artinya membuat sesuatu menjadi berdaya atau mempunyai daya atau mempunyai kekuatan. Pemberdayaan dalam bahasa Indonesia merupakan terjemahan dari empowerment dalam bahasa inggris.
Pemberdayaan atau empowerment adalah proses membangun dedikasi dan komitmen yang tinggi sehingga organisasi itu bisa menjadi sangat efektif dalam mencapai tujuan-tujuannya dengan mutu yang tinggi. Dalam organisasi yang telah diberdayakan akan tercipta hubungan di antara orang-orangnya yang saling berbagi kewenangan, tanggung-jawab, komunikasi, harapan-harapan, dan pengakuan serta penghargaan.
e. Desain : Ada beberapa Pengertian Desain Kurikulum menurut para ahli, diantaranya adalah :
1) Menurut Oemar Hamalik (1993) pengertian Desain adalah suatu petunjuk yang memberi dasar, arah, tujuan dan teknik yang ditempuh dalam memulai dan melaksanakan kegiatan. Fred Percival dan Henry Ellington (1984)
2) Menurut Nana S. Sukmadinata (2007:113) desain kurikulum adalah menyangkut pola pengorganisasian unsur-unsur atau komponen kurikulum. Penyusunan desain kurikulum dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi horizontal dan vertikal. Dimensi horizontal berkenaan dengan penyusunan dari lingkup isi kurikulum. Sedangkan dimensi vertikal menyangkut penyusunan sekuens bahan berdasarkan urutan tingkat kesukaran.
3) Menurut Longstrteet (1993) Desain kurikulum ini merupakan desain kurikulum yang berpusat pada pengetahuan (the knowledge centered design) yang dirancang berdasarkan struktur disiplin ilmu, oleh karena itu model desain ini dinamakan juga model kurikulum subjek akademis yang penekanannya diarahkan untuk pengembangan itelektual siswa.
Dari uraian diatas dapat diambil ke. simpulan bahwa Desain kurikulum merupakan suatu pengorganisasian tujuan, isi, serta proses belajar yang akan diikuti siswa pada berbagai tahap perkembangan pendidikan. Dalam desain kurikulum akan tergambar unsur-unsur dari kurikulum, hubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya, prinsip-prinsip pengorganisasian, serta hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaannya
f. Strategi : strategi adalah pencapaian tujuan, sehingga penyusunan langkah-langkah pembelajaran, pemanfaatan berbagai fasilitas dan sumber belajar semuanya diarahkan dalam upaya pencapaian tujuan. Namun sebelumnya perlu dirumuskan suatu tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya.
Beberapa macam strategi pembelajaran
Menurut Sanjaya (2007 : 177 – 286) ada beberapastrategi pembelajaranyang harus dilakukan oleh seorang guru :
1. Strategi pembelajaran ekspositori
2. Strategi pembelajarab inquiry
3. Strategi pembelajaran berbasis masalah
4. Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir
g. Pendekatan : Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains (2.) Pendekatan filosifi dan (3) pendekatan religi (Uyoh Sadulloh, 1994).
1. Pendekatan sains
Pendekatan sains yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya. Cara kerja pendekatan sains dalam pendidikan yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam.
2. Pendekatan Filosofi
Pendekatan filosofi yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains.
3. Pendekatan Religi
Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains (2.) Pendekatan filosifi dan (3) pendekatan religi (Uyoh Sadulloh, 1994).
1. Pendekatan sains
Pendekatan sains yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya. Cara kerja pendekatan sains dalam pendidikan yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam.
2. Pendekatan Filosofi
Pendekatan filosofi yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains.
3. Pendekatan Religi
Pendekatan religi yaitu suatu pendekatan untuk menyusun teori-teori pendidikan dengan bersumber dan berlandaskan pada ajaran agama. Di dalamnya berisikan keyakinan dan nilai-nilai tentang kehidupan yang dapat dijadikan sebagai sumber untuk menentukan tujuan, metode bahkan sampai dengan jenis-jenis pendidikan.
Cara kerja pendekatan religi berbeda dengan pendekatan sains maupun filsafat dimana cara kerjanya bertumpukan sepenuhnya kepada akal atau ratio, dalam pendekatan religi, titik tolaknya adalah keyakinan (keimanan). Pendekatan religi menuntut orang meyakini dulu terhadap segala sesuatu yang diajarkan dalam agama, baru kemudian mengerti, bukan sebaliknya.









0 komentar:
Posting Komentar