gambling X-Steel - Wait

MEDIA DAN TEKNOLOGI

TEKNOLOGI
Pendidikan dan latihan selalu cenderung lebih tergantung pada penemuan dari pada terhadap disain, dan oleh karna itu di dalam proses mengajar telah ditekankan pentingnya seni dan keterampilan. Nemun demikian, waktu telah berubah dan sekarang dipandang penting suatu pendekatan yang lebih sistematis untuk proses belajar dan mengajar. Dalam masa-masa lampau, gagasan atau fikiran selalu hidup lebih lama dari orang , tetapi sekang ini, orang hidup lebih lama dari kebanyakan gagasan. Seperti dikatakan Bono (1964) “teknologi telah mempercepat banyak hal sehingga gagasan atau fikiran mungkin harus diubah dalam satu generasi, dari pada antara beberapa generasi. Namun,kebudayaan dan kependidikan kita senantiasa berkepentingan dengan pembuatan gagasan-gagasan, dan bukan dengan usaha untuk mengubahnya”. Sesungguhnya kita hidup dalam suatau abad yang ditandai dengan ketidak pastian dan ketidaksinambungan (lihat Drucker, 1969), di mana keterampilan yang didasarkan pada mekanisasi secara berangsur-angsur diganti dengan keterampilan yang disarankan kepada teknologi informasi dan pengetahuan. Untuk menyiapkan diri dalam menghadapi peranan baru, pendidikan dan latihan memerlukan suatu kerangan konseptual yang baru atas mana keputusan-keputusan yang berhubungan dengan perubahan dan inovasi dapat diambil.
 Hakikat teknologi pendidikan dan latihan
Dalam beberapa tahun saja, telah muncul dan berkembang teknologi pendidikan dan latihan yang sebenarnya, yang memberikan kerangka penting untuk merencanakan dan mengorganisasikan sumber-sumber belajar, dalam rangka mewujudkan tujuan belajar atau tingkat pencapaian tingkah laku tertentu. Argyris (1964) menyatakan bahwa efektivitas setiap jenis organisasi tergantung pada kemempuannya untuk mencapai  tiga maksud penting yaitu:
1.      Untuk mencapai tujuannya
2.      Untuk mempertahankan dirinya secara internal
3.      Untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan
Teknologi pendidikan berkepentingan dengan masalah-masalah yang di jumpai dalam konteks pendidikan dan latihan, dengan ciri digunakan pendekatan sistematik untuk organisasi sumber-sumber belajar. Walaupun perkembangan teknologi pendidikan tidaj dalam seluruhnya dijelaskan sebagai munculnyasuatu teori yang baru dalam ilmu pendidikan atau psikologi, namun benih –benihnya terlihat dngan jelasdalam prinsip-prinsipperkembangan belajar secara berprogama.
Ø  Dua macam teknologi pendidikan
Istilah “teknologi pendidikan”, yang juga meliputi teknologi latihan, biasanya mempunyai dua arti yang amat berbeda, tergantung pada siapa yang membahasnya dan bagai mana konteks perdebatannya. Karena itu penting dibedaka kedua arti tersebut, yang mana masing-masing mempunyai asosiasi dan konsekuensi yang berbeda. Lumsdaine (1964) menyarankan bahwa keduanya dapat dibedakan sebagai teknologi pendidikan(1) dan teknologi pendidikan(2) sebagai berikut:
1.      Teknologi pendidikan ini pada pokoknya adalah suatu pendekatan perangkat keras (hardware approach), yang menekankan pentingnya alat bantu mengajar, dan asal-usulnya terletak dalam aplikasi ilmu fisika kedalam system pendidikan dan latihan. Konsep ini mendomonasikan ebanyakan leteratur tentang teknologi pendidikan. 
2.      Teknologi pendidikan ini pada dasarnya adalah suatu pendekatan perangkat lunak (software approach), menunjukan kepada aplikasi prinsip-prinsip belajar untuk pembentukan tingkah laku yang langsung dan disengaja.

 Sistem belajar
Guru menggunaka pendekatan klasik ini memang peranannya sebagai seorang penjaga yang berusaha mencapai tujuannya dengan jalan memberikan motivasi, mengawasi, dan mengubah tingkah laku murid melalui beberapa teknik mengajar dan biasanya menggunakan kapur dan percakapan. Pendekatnnya adalah terpusat pada tugas.
1.      Teknologi pendidikan adalah aplikasi prinsip-prinsip teknologi dewasa ini dalam teori dan pelaksanakan pendidikan sehingga memungkinkan guru-guru untuk meningkatkan efektivitasnya secara menyeluruh, dan membantu mereka untuk berhubungan dengan murid yang menjadi semakin banyak jumlahnya.
2.      Menunjuk kepada aplikasi prinsip-prinsip ilmu tingkah laku saat ini terhadap teori dan pelaksanaan pendidikan sehingga dapat menjamin bahwa bahan-bahan belajar adalah menyenangkan, memberikan ganjaran dan hasil.

 Teori mengajar
Teknologi pendidikan yang mengkombinasikan pendekatan perangkat keras dan perangkat lunak dari dua mecam teknologi lainnya, merupakan suatu jembatan antara teori dan praktik pendidikan. Akibatnya, terdapat suatupermulaan timbulnya suaru teori umum mengajar, suatu pedoman untuk ilmu memdidik, sehingga kita tidak lagi menjadi terlalu tergantung pada suatu teori belajar. Tentu setiap teori tingkah laku yang memadahi harus sanggup digunakan untuk mengajar dan belajar, apa bila mengajar dianggap sebagai “dependent variable” atau kondisi yang tidak dimanipulasikan.
 Sebagai suatu rangkaian startegi yang harus diambil dan dilaksanakan oleh guru dan instruktur. Perubahan yang amat sederhana dan amat jelas dalam pendekatan tersebut mungkin guru berhubungan dengan keseluruhan kelasyang sampai sekarang diabaikan oleh para ahli teori belajar, dan juga memungkinkan adanya suatu ilmu atau sains dan seni tentang mengajar dengan menggunakan prinsip-prinsip teknologi.
Guru dilihat sebagai pengelola sumber belajar, berperan untuk memilih atau memutuskan diantara berbagai stategi mengajar dan belajar, teknologi pendidikan memberikan kerangka konseptual yang perlu untuk pendekatan baru ini, dan membantu memecahkan masalah-masalah yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan system pendidikan dan latihan untuk mempertahankan, menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan untuk menyesuaikan dan mengelola pengetahuan.

MEDIA
 Pemilihan media
Dalam metodologi mengajarkan ada dua aspek yang paling menonjol yakni metode mengajar dan media pendidikan sebagai alat bantu mengajar. Sedangkan penilaian adalan alat untuk mengakat atau menentukan tariff tercapai tidaknya tujuan pelajaran.
Ada beberapa jenis media pendidikan yang bias digunakan dalam proses pengajaran.
1. Media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagian atau diagram, poster dan kartun. Yakni media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar.
2. Media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat (solid model) model penampang, model susun dan model kerja.
3.    Media proyeksi seperi slide, film, dan penggunaan OHP.
4.   Penggunaan lingkungan sebagai media pendidikan.

 Factor-faktor yang perlu dipertimbangakn terhadap pemilihan media pendidikan
1.      Relevansi pengadaan media pendidikan edukatif
2.      Kelayakan pengadan media pendidikan edukatif
3.      Kemudahan pengadaan media pendidkan edukatif
Berdasarkan ketiga factor tersebut, maka dalam memberikan prioritas pengadaan media pendidikan perlu diadakan pengukuran untuk ketiga factor tersebutsesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan di sekolah.
Pemilihan sekaligus pemanfaatan media perlu memperbaiki kriteria sebagai berikur:
1.      Tujuan yaitu: media hendaknya menunjang tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.
2.      Keterpaduan yaitu: tepat dan berguna bagi pemahaman bahan yang dipelajari.
3.      Keadaan peserta didik yaitu: kemampuan daya piker dan daya tangkap peserta didik dan besar kecilnya kelemanan peserta didik perlu dipertimbangkan.
4.      Ketersediaan yaitu: pemilihan perlu memperhatikan ada/ tidak media tersedia diperpustakanan/ disekolah serta mudah sulitnya diperoleh.
5.      Mutu teknis yaitu: media harus memiliki kejelasan dan kualitas yang baik.
6.      Biaya, hal ini merupakan pertimbangan bahwa biaya yang dikeluarkan apakah seimbang dengan hasil yang dicapai serta ada kesesuaian atau tidak.

 Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pendidikan untuk mempertinggi kualitas pengajaran:
1. Guru perlu memiliki pemahaman media pendidikan antara lain jenis dan manfaat media pendidikan.
2.  Siswa, guru terampil membuat media pendidikan. Sederhana untuk keperluan pengajaran, terutama media dan dimensi atau media.
3. Garfish, dan beberapa media tiga dimensi, dan media proyeksi,pengetahuan dan keterampilan dalam melalui keefektifan penggunaan media dalam proses pengajaran.

 Dalam hubungannya dengan penggunaan media pada waktu berlangsung pelajaran setidak-tidaknya digunakan guru pada situasi sebagai berikut:
1.   Bahan pengajaran yang dijelaskan guru kurang dipahami siswa.
2.   Terbatasnya sumber pengajaran.
3. Guru tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pengajaran melalui penuturan kata-kata (verbal) akibat terlalu lelah disebabkan telah mengajar cukup lama.
4.      Perhatia siswa terhadap pengajaran sedah berkurang akibat kebosanan mendengarkan uraian guru.


Daftar pustaka:
Harjianto. 2003. Perencanaan pengajaran.jakarta. Cv. Rineka cipta
 Davies. Ivor K. 1987. Pengelolaan belajar. Jakarta. Cv. Rajawali

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

SCIENTIFIC LEARNING

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sejalan dengan rencana pergantian kurikulum 2013, istilah pendekatan ilmiah atau scientific approach pada pelaksanaan pembelajaran menjadi bahan pembahasan yang menarik perhatianpara pendidik akhir-akhir ini.Yang menjadi latang belakang pentingnya materi ini karena produk pendidikan dasar dan menengah belum menghasilkan lulusan yang mampu berpikir kritis setara dengan kemampuan anak-anak bangsa lain.Didasari bahwa guru-guru perlu memperkuat kemampuannya dalam memfasilitasi siswa agar terlatih berpikir logis, sistematis, dan ilmiah.Tantangan ini memerlukan peningkatan keterampilan guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ilmiah.Scenario untuk memacu keterampilan guru menerapkan stategi ini di Indonesia telah melalui sejarah yang panjang, namun hingga saat ini harapan baik ini belum terwujudkan juga. Balitbang Depdiknas sejak tahun 1979 telah merintis pengenbangan program prestisius ini dalam Proyek Supervisi dan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktiv) di Cianjur, Jawa Barat. Hasil-hasil proyek ini kemudian direplikasikan di sejumlah daerah dan dikembangkan melalui penataran guru ke seluruh Indonesia.Upaya yang dimulai pada tingkat sekolah dasar ini kemudian mendorong penerapan pendekatan belajar aktif di tingkat sekolah menengah. Hasil-hasil upaya ini secara bertahap kemudian diintegrasikan ke dalam Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Kurikulim Berbasis Kompetensi tahun 2004, yang dilanjutkan dengan Standar Isi yang leabih dikenal dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006.Dalam perancangan kurukulum baru, Kemendikbud masih menggunakan latang pemikiran yang menyatakan bahwa secara factual guru-guru belum melaksanakan cara belajar siswa aktif. Kondisi ideal yang diharapkan masih lebih sering menjadi slogan dari pada fakta dalam kelas. Produktivitas pembelajaran untuk menghasilkan siswa yang terampil berpikir pada level tinggi dalam kondisi madek alias kolep. Deskripsi ini merujuk pada hasil tes anak bangsa kita yang dikompetisikan pada tingkat internasional dinyatakan tidak berkembang sejak tujuh tahun lalu.Memang ini kondisi yang sangat memperihatinkan.Ketika kita membicarakan tentang pendidikan, kitaa merasa bahwa kita sedang membicarakan permasalahan yang kompleks dan sangat luas. Mulai dari masalah peserta didik, pendidik/guru, manajemen pendidikan, kurikulum, fasilitas, proses belajat mengajar, dan lain sebaginya. Salah satu masalah yang  banyak dihadapi dalam dunia pendidkan kita adalah lemahnya kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan guru di sekolah. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas hanya diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya denagn kehidupan sehari-hari. Akibatnya banyak peserta didik yang ketika lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi.Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dijelaskan bahwa pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Sisdiknas,2003).


B.     RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan pendekatan scientific learning (pendekatan ilmiah) ?
2. Apa sajakah kriteria pendekatan scientific learning (pendekatan ilmiah)?
3. Apa sajakah langkah-langkah dalam pembelajaran scientific (pendekatan ilmiah)?
 C.    TUJUAN DAN MANFAAT
1.      Tujuan
Tujuan utama pembuatan makalah ini untuk memenuhi nilai mata kuliah Metodologi Pembelajaran PAI, selanjutnya untuk nemaparkan tentang pendekatan scientific serta menjelaskan langkah-langkah proses pembelajaran pendekatan scientific.2.      Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini adalah penullis dan pembaca lebih memahami mengenai arti pendekatan scientific dalam proses pembelajaran. 

BAB II

PEMBAHASAAN

A. PENEGRTIAN PENDEKATAN SCIENTIFIC LEARNING
Pendekatan adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari pemikiran tentang bagaimana metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori tertentu. Oleh karena itu banyak pandangan yang menyatakan bahwa pendekatan sama artinya dengan metode. Pendekatan ilmiah berarti dasar yang menginspirasi atau melatar belakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan karakteristik yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah (scientific teaching) merupakan bagian dari pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas yang melandasi penerapan metode ilmiah.

Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya focus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen. Namun bagaimana mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas kreatif dalam berinivasi atau berkarya.Menurut majalah Forum Keijakan Ilmiah yang terbit di Amerika pada tahun 2004 sebagaimana dikutip Wikipedia menyatakan bahwa pembelajaran ilmiah mencangkup strategi pembelajaran siswa aktif yang mengintegrasikan siswa dalam proses berpikir dan penggunaan metode yang teruji secara ilmiah sehingga dapat membedakan kemampuan siswa yang bervariasi, penerapan metode ilmiah dapat membantu guru mengidentifikasi perbedaan kemampuan siswa. Pada penerbitan berikutnya pada tahun 2007 dinyatakan bahwa penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran harus meliputi tiga prinsip utama, yaitu:1.    belajar siswa aktif, dalam hal ini termasuk inquairy-based learning atau belajar berbasis penelitian, cooperative learning atau belajar kelompok dan belajar berpusat pada siswa.

2.Assessment berarti pengukuran kemajuan belajar siswa yang dibandingkan dengan target pencapaian tujuan belajar.
3.   Keberagaman mengandung makna bahwa dalam pendekatan ilmiah mengembangkan pendekatan kerahgaman.pendekatan ini membawa konsekuensi siswa unik. Kelompok siswa unik termasuk keunikan dari kompetensi materi, instruktur, pendekatan dan metode mengajar serta konteks.
Metode Ilmiah merupakan teknik merumuskan pertanyaan dan menjawabnya melalui kegiatan observasi dan meleksanakan percobaan. Dalam penerapan metode ilmiah terdapat aktivitas yang dapat diobservasi seperti mengamati, menanya,mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Pelaksanaan metode ilmiah disusun dalam tujuh langkah berikut:1.      Merumuskan pertanyaan
2. Merumuskan latar belakang penelitian
3.      Merumuskan hipotesis
4. Menguji hipotesis melalui percobaan
5.      Menganalisis hasil penelitian dan merumuskan kesimpulan
6.      Jika hopotisis terbukti benar maka dapat dilanjutkan dengan laporan
7.      Jika hipotesis terbukti tidak benar sebagian maka lakukan pengujian kembal
Penerpan metode ilmiah merupakan proses berpikir logis berdasarkan fakta dan teori.Pertanyaan muncul dari pengetahuan yang telah dikuasai, karena itu kemampuan bertanya merupakan kemampuan dasar dalam mengeembangkan berpikir ilmiah.Informasi baru digali untuk menjawab pertanyaan.Oleh karena itu penguasaan teori dalam sebagi besar untuk menerapkan metode ilmiah.Dengan menguasai teori maka siswa dapat menyederhanakan penjelasan tentang suatu gejala, memprediksi, memandu perumusan kerangka pemikiran untuk memahami masalah.Bersamaan dengan itu, teori menyediakan konsep yang relevan sehingga teori menjadi dasar dan mengarah perumusan pertannyaanpenelitian.          
 B.     KRITERIA PENDEKATAN SCIENTIFIC (PENDEKATAN ILMIAH)

Lalu bagaimana kriteria sebuah pendekatan pembelajaran sehingga dapat dikatakan sebagian pendekatan ilmiah atau pendekatan scientific? Berikut ini tujuh (7) kriteria sebuah pendekatan pembelajaran dapat dikatakan sebagai pembelajaran scientific yaitu:

1.  Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kita-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

2. Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa berbasis dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alaur berpikir logis.
3. Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analisis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.
4. Mendorong dan menginspirasi siswa maupun berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.
5.  Mendorong dan menginspirasi siswa maupun memahami, memerapkan, dan mengembangkan pola piker yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
6.   Berbasis pada konsep, teori dan fakta empiris yang dapat di pertanggung jawabkan.
7.   Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik system penyajiannya
Proses pembelajaran yang mengimplementasikan pendekatan scientificakanmenyentuh tiga ranah, yaitu: sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor). Dengan proses pembelajaran yang demikian maka diharapkan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. 
Adapun penjelasan dari diagram pendekatan pembelajaran scientific (pendekatan ilmiah dengan menyentuh ketiga ranah dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Ranah sikap menggamit transformasi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa”.
2.      Ranah keterampilan menggamit transformasi subtansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
3.      Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa”.
Hasil akhirnya adalah peningkatan dan kesimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusian yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek  kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogic modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran dimaksud meliputu, mengamati, menanya, menalar, emcoba, membentuk jejaring untuk semua mata pelajaran.


C.    LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN SCEINTIFIC
Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (scientific). Langkah-langkah pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam peroses pembelajaran meliputi: menggali informasi, melalui informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar kemudian menyimpulkan, dan mencipta. Untuk pembelajaran, materi atau sitiuasi tertentu, sangat mungkin pendektan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara procedural.Pada kondisi seperti ini, tentu saja peroses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat non ilmiah. Pendekatan scientific dalam pembelajaran disajikan sebagai berikut:
1.      Mengamati (observasi)Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan media objek secara nyata.Peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanannya. Metode mengamati sanagat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Sehingga mengamati dalam pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81A/2013, hendaklah guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melaui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek. Ada pun kompetensi yang diharapkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, dan mencari informasi.2.      Menanya
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentanghasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang bersifat factual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik. Dari situasi dimana peserta didik dilatih menggunakan pertannyaan dari guru, masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan  sampai ketingkat di mana peserta didik mampu mengajukan pertannyaan secara mandiri. Dari kegiatan kedua dihasilkan sejumlah pertannyaan, melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa ingin tahu peserta didik.Semakin terlatih dalam bertanya maka rasa ingin tahu semakin dapat dikembangkan.Pertannyaan tersebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai yang ditentukan peserta didik, dari sumber yang beragam.Kegiatan “menanya” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomer 81A Tahun 2013, adalah menjangkau pertannyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertannyaan factual sampai ke pertannyaan yang bersifat hipotetik). Adapun kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertannyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.
3.  Mengumpulkan informasi
Kegiatan “mengumpulkan informasi” merupakan tindak lanjut dari bertanya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek yang lebih teliti, atau melakukan eksperimen.Dari kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi. Dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013, aktivitas mengumpulkan informasi dilakukan melalui eksperimen, membaca buku sumber lain selain buku teks, mengamati objek/ kejadian/ aktivitas wawancara dengan nara sumber dan sebagainya. Adapun kompetensi yang diharapkan adalah mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lian, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.4.      Mengasosiasikan/ Mengolah Informasi/ Menalar
Kegiatan “ mengasosiasikan/ mengolah informasi/ menalar” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013, adalah memproses informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/ eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai pada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagau sumber yang dimiliki pendapat yang berbeda sampai pada yang bertentangan.Kegiatan ini dilakukan untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya,menemukan pola dari keterkaitan informasi tersebut.Adapun kompetensi yang diharapkan adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerpakan prosedur dan kemampuan berpikir indukatif serta dedukatif dalam menyimpulkan.
Aktivitas ini juga diistilahkan sebagai kegiatan menalar, yaitu proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untukmemperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. Aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau membelajaran asosiatif.Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemampuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-oeristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan pristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia.
5.  Menarik kesimpulan
Kegiatan menyimpulkan dalam pembelajaran dengan pendekatan scientific merupakan kelanjutan dari kegiatan mengolah data atau informasi.Setelah menemukan keterkaitan antara informasi dan menemukan berbagai pola dari keterkaitan tersebut, selanjutnya secra bersama-sama dalam satu kesatuan kelompok, atau secara individual membuat kesimpulan.
6.   Mengkomunikasikan
Pada pendekatan scientific guru diharapkan memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui penulisan ataupun menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampaikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut. Kegiatan “mengkomunikasikan” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013, adalah menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya.
            Adapun kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembngkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.  KelebihanØ  Membiasakan siswa  untuk belajar mandiri dalam memecahkan sesuatu masalahØ  Menciptakan kreativitas siswa untuk belajar sehingga tercipta suasana kelas yang lebih nyaman dan kreatifØ  Kerjasama sesama siswa dan siswa terlibat langsung dalam melakukan kegiatanØ  Menciptakan belajar yang lebih bermakna karena timbulnya kebanggaan siswa menemukan sendiri konsep ilmiah yang dipelajariØ  Guru mengajar lebih efektif karena dapat menciptakan suasana belajar yang aktifKekuranganØ  Sarana prasarana harus lengkapSiswa yang belum terbiasa belajar mandiri atau kelompok akan merasa asing dan sulit untuk menguasai konsep
 
BAB III

PENUTUP
A.    KESIMPULAN
1. Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendektan scientific. Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikapmenggamit transformasi substansi atau materi ajar mengajar peserta didik tahu tentang “mengapa”. Ranah keterampilan mengamit transformasi subtansi atau materi ajar agar peserta didk tahu tentang “bagaimana”. Ranah pengetahuan mengamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu “apa”. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.2.      Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah scientific approach dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputimenggali informasi melalui pengamatan, bertanya, mencoba, kemudian mengelola data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, emudian menyimpulkan, dan mencipta. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara procedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat non ilmiah...
B.     SARAN
Dalam pembuatan makalah ini mungkin masih terdapat beberapa kesalahan baik dari isi dan cara penulisan. Kritik beserta saran kami harapkan agar dapat menambah wawasan untuk memperbaiki penulisan makalah kami. 
DAFTAR PUSTAKA 
http://solikhaton.blogspot.com/2014/06/contoh-makalah-pendekatan-scientific.html
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/07/pendekatan-scientific-dalam-implementasi-kurikulum-2013.html
http://ruangkreasikita.blogspot.com/2014/03/kurikulum-2013-langkah-langkah-umum.html
Badan pengembangan sumber daya manusia pendidikan dan kebudayaan dan penjaminan mutu pendidikan-kementrian pendidikan dan kebudayaan.

                

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Design Downloaded from Ratna Nurjannah | Ratna Nurjannah | Kicenks | Haitami.