TEKNIK PENGELOLAHAN DAN PENGUBAHAN (KOMVERSI) SKOR HASIL TES HASIL BELAJAR MENJADI NILAI
1. Perbedaan antara Skor dan Nilai
Sebelum sampai pada pembicaraan tentang teknik pengelolaan dan pengubahan (konversi) skor mentah hasil tes hasil belajar menjadi nilai standar, perlu dijelaskan terlebih dahulu tentang perbedaan antara skor dan nilai. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa kadang-kadang orang menganggap bahwa hasil skor itu mempunyai pengertian yang sama dengan nilai; padahal pengertian seperti itu belum tentu benar.
Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (=memberikan angka) yang diperoleh dengan jalan menjumlahkan angka-angka bagi setiap butir item yang oleh testee telah dijawab dengan betulnya. Contoh berikut ini kiranya akan memperjelas pernyataan diatas.
Misalkan tes hasil belajar dalam bidang studi bahasa inggris menyajikan lima butir soal tes uraian dimana untuk setiap butir soal yang dijawab dengan betul diberikan bonot 10. Siswa bernama Fatimah, untuk kelima butir soal tes uraian tersebut memberikan jawaban sebagai berikut:
-Untuk butir soal nomor 1 dapat dijawab dengan sempurna, sehingga kepadanya diberikan skor 10.
-Untuk butir soal nomer 2 dapat dijawab betul separohnya, sehingga skor yang diberikan kepada siswa tersebut adalah 5.
-untuk butir soal nomer 3, hanya sekitar seperempat bagiannya saja yang dapat dijawab dengan betul, sehingga diberikan skor 2,5.
-Untuk butir soal nomer 4 dijawabbetul sekitar separohnya, sehingga diberikan skor 5.
-Untuk butir soal nomer 5 dijawab betul sekitar tiga seperempatnya, sehingga diberikan skor 7,5.
dengan demikian untuk kelima butir soal tes uraian tersebut, siswa bernama fatimah tersebut mendapatkan skor sebesar = 10 + 5 + 2,5 + 5 + 7,5 = 30. Angka 30 disini belum dapat disebut nilai, sebab angka 30 itu masih merupakan skor mentah (raw score), yang untuk dapat disebut nilai masih memerlukan pengelolahan atau pengubahan (= konversi).
Contoh lainnya:
misalkam tes hasil belajar dalam bidang studi Ushul Fiqh menyajikan 40 bitir soal tes obyektif dengan ketentuan bahwa untuk setiap butir soal yanh dijawab dengan betul diberikan bobot 2. Dengan demikian secara ideal atau secara teoritik apabila seorang testee dapat menjawab dengan betul 40 butir soal tersebut, maka testee yersebut akan memperoleh skor sebesar 40 × 2 = 80 ini disebut Skor Maksimum Ideal (SMI).
Adapunn yang dimaksud dengan nilai adalah angka (bisa juga huruf), yang merupakan hasil ubahan dari skor yang sudah dijadikan satu dengan skor-skor yang lainnya,
2. Pengelolaan dan Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Hasil Belajar Menjadi Nilai Standar (Standard Score)
Ada dua hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi skor standar atau nilai, yaitu :
1. Bahwa dalam pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu ada dua cara yang dapat ditempuh, yaitu :
a. Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dilakukan dengan mengacu atau mendasarkan diri pada kriterium atau criterion (=Patokan). Cara ini dikenal dengan istilah criterion refrenced evaluation, yang dalam dunia pendidikan di tanah air kita sering fi kenal dengan istilah pernilaian ber-Acuan Patokan (disingkat PAP).
b. Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dilakukan dengan mengacu atau mendasarkan diri pada norma atau kelompok. Cara ini dikenal dengan istilah norm referenced evaluation, dalam dunia pendidikan dikenal dengan istilah penilaian ber-Acuan Normaa (disingkat PAN), atau penilaian ber-Acuan Kelompok (disingkat PAK).
2. Bahwa pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai itu dapat memggunakan berbagai macam skala, seperti : skala lima (stanfive), yaitu nilai standar bersekala lima atau yang sering dikenal dengan istilah nilai huruf A, B, C, D, dan F., Skala sembilan (stanine), yaitu nilai standar bersekala sembilan dimana rentangan nilainya mulai dari 1 sampai dengan 9 (tidak ada nilai 0 dan tidak ada nilai 10), Skala sebelas (stanel = standard eleven = eleven points scale, yaitu rentangan nilai mulai dari 0 sampao dengan 10), z score (nilai standar z), dan T score (nilai standar T).
a. Pengolahan dan Pengubahan Skor Mentah Hasil Tes Hasil Belajar Menjadi Nilai Standar dengan Mendasarkan Diri atau Mengacu pada Kriterium (Criterion Referenced Evaluation)
1) Hal-hal yang harus dipelajari oleh testee (murid, siswa, mahasiswa) adalah mempunyai struktur hierarkis tertentu, dan bahwa masing-masing taraf dikuasai secara baik sebelum testee tadu maju atau sampai pada taraf selanjutnya.
Contoh:
Dalam mempelajari mata kuliah Statistik pendisikan, untuk sampai pada pemahaman tentang "t" test", mahasiswa terlebih dahulu harus memahami konsep dasar tentang Standard Error of Mean (SE M). Konsep dasar tentang standard error of mean itu tidak mungkin dapat dipahami secara baik sebelum mahasiswa mempelajari konsep dasar tentang deviasi standar (standard deviation).
2) Evaluator atau tester (dalam hal ini guru, dosen dan lain-lain) dapat mengidentifikasikan masing-masing taraf itu sampai tuntas, atau setidak-tidaknya mendekati tuntas, sehingga dapat disusun alat pengukurnya.
Contoh :
Dalam mencari (menghitung) nilai rata-rata hitung (arithmetic mean), dapat dilakukan identifikasi sebagai berikut :
a. Apakah pembuatan tabel disteribusi frekuensi dari data kuantitatif yang akan dihitung rata-rata hitungnya itu sudah betul?
b. jika tabel distribusi frekuensi sudah betul, apakag tidak terdapat kekeliruan dalam menetapkan midpoint bagi setiap interval nilainya?
Demikianlah seterusnya......
Apabila dalam penentuan nilai hasil tes hasil belajar itu digunakan acuan kriterium (menggunakan PAP), maka hal ini mengandung arti bahwa nilai yang digunakan akan diberika kepada testee itu harus didasarkan pada standar mutlak (standard absolut). artinya, pemberian nilai kepada testee itu dilaksanakan dengan jalan membandingkan antara skor mentah hasil tes yang dimiliki oleh masing-masing individu testee, dengan skor maksimum ideal (SMI) yang mungkin dapat dicapai oleh testee, kalau saja seluruh soal tes dapat dijawab dengan betul.
3) Evaluator atau tester (dalam hal ini guru, disen dan lain-lain) dapat mengidentifikasikan masing-masing taraf itu sampai tuntas, atau setidak-tidaknya mendekati tuntas, sehingga dapat disusun alat pengukurnya.
Contoh:
Dalam mencari (menghitung) nilai rata-rata hitung (artihmetic mean), dapat dilakukan identifikasi sebagai berikut:
a) Apakah pembuatan tabel disteribusi frekuensi dari data kuantitatif yang akan dihitung rata-rata hitungnya itu sudah betul?
b) jika tabel distribusi frekuensi sudah betul, apakah tidak terdapat kekeliruan dalam menetapkan midpoint bagi setiap interval nilainya?
Demikianlah seterusnya......
Apabila dalam penentuan nilai hasil tes hasil belajar itu digunakan acuan kriterium (menggunakan PAP), maka hal ini mengandung arti bahwa nilai yang digunakan akan diberika kepada testee itu harus didasarkan pada standar mutlak (standard absolut). artinya, pemberian nilai kepada testee itu dilaksanakan dengan jalan membandingkan antara skor mentah hasil tes yang dimiliki oleh masing-masing individu testee, dengan skor maksimum ideal (SMI) yang mungkin dapat dicapai oleh testee, kalau saja seluruh soal tes dapat dijawab dengan betul.
Disamping itu, karena penentuan nilai seorang testee dilakukan dengan jalan membandingkan skor mentah hasil tes dengan skor maksimum idealnya, maka penentukan nilai yang beracuan pada kriterium ini juga sering dikenal dengan istilah penentuan nilai secara ideal, atau penentuan nilai secara teoritik, atau penentuan nilai secara das sollen. Dengan istilah "teoritik" dimaksudkan disini, bahwa: secara teoritik seorang siswa berhak atas nilai 100-misalnya- apabila kwseluruhan butir soal tes dapat dijawab dengan betul oleh siswa tersebut. Atau : seorang peserta tes hanya dapat diberikan nilai 50, sebab hanya 50% saja dari keseluruhan butir item tes hasil belajar yang dapat dijawab dengan betul. Dengan demikian maka dalam penentuan nilai yang beracuan pada kriterium, sebelum tes hasil belajae dilaksanakan, patokan itu sudah dapat disusun (tanpa menunggu selesainya pelaksanaan).
Contoh:
Seoranf dosen merencanakan tes hasil belajar dalam bidang studi Nahwu Sharif. Soal-soal yang dikeluarkan dalam tes tersebut terdiri atas 75 butir soal tes obyektif dan 1 butir soal tes uraian dengan rincian sebagai berikut:
Berdasarkan rincian butir-butir soal tersebut diatas dapatlah kita ketahui bahwa Skor Maksimum Ideal (SMI) dari tes hasil belajar tersebut adalah =120.
Misalkan tes hasil belajar bidang stufi Nahwu Sharaf itu diikuti oleh 80 orang siswa dan dalam test tersebut ke-80 orang siswa itu berhasil meraih skor-skor hasil tes sebagai berikut :
Apabila skor-skor mentah hasil tes obyektif yang dicapai oleh 80 orang siswa Madrasah 'Aliyah tersebut dalam penentuan nilai standarnya digunakan standar mutlak, maka rumus yang digunakan adalah :
Nilai = Skor Mentah × 100
-
Skor Maksimum Ideal
Di atas telah dikemukakan bahwa skor maksimum ideal dari tes hasil belajar bidang studi Nahwu Sharaf itu adalah 120. Dengan demikian, apabila skor-skor mentah yang tertera pada Daftar 7.1 diatas kita olah dan kita ubah atau kita konversikan menjadi nilai standar, maka nilai-nilai standar yang berhasil dicapai oleh masing-masing individu/ siswa adalah seperti dapat diperiksa pada Daftar 7.2.
Seperti dapat diamati pada Daftar 7.2 diatas, maka dengan menggunakan standar mutlak, maka "nasib" seorang siswa mutlak ditentukan oleah dirinya sendiri secara individual, tanpa melibatkan atau mempertimbangkan sama sekali skor-skor yang dicapai oleh siswa lain-lainnya. Tinggi dan rendahnya nilai yang dicapai oleh masing-masing individual siswa mutlak ditentukan oleh standar yang sudah ditentukan.
Kalau saja nilai-nilai yang berhasil dicapai oleh 80 orang siswa MAN tersebut ditransfer atau "duterjemahkan" menjadi nilai huruf dengan patokan : Nilai 80 ke atas = A; 66-79=B; 56-65= C; 46-55 = D dan 45 kebawah = E, maka dari 80 orang siswa yang mengikuti tes hasil belajar tersebut tidak ada seorang pun yang mendapat nilai A, yang mendapat nilai B bahwa 2 orang (2,5%), nilai C dicapai oleh 8 orang siswa (10,0%), sedang sisanya, yaitu 70 orang (87,5%) nilainya adalah D dan E (D = 33 orang atau 41,25% dan E = 37 orang atau 46,25%). Dari kenyataan seperti inilah maka orang sering menyatakan bahwa penentuan nilai dengan menggunakan standar absolut itu "terlalu kejam" dan "tidak manusia









0 komentar:
Posting Komentar