TEKNOLOGI
Pendidikan dan latihan selalu cenderung lebih
tergantung pada penemuan dari pada terhadap disain, dan oleh karna itu di dalam
proses mengajar telah ditekankan pentingnya seni dan keterampilan. Nemun
demikian, waktu telah berubah dan sekarang dipandang penting suatu pendekatan
yang lebih sistematis untuk proses belajar dan mengajar. Dalam masa-masa
lampau, gagasan atau fikiran selalu hidup lebih lama dari orang , tetapi sekang
ini, orang hidup lebih lama dari kebanyakan gagasan. Seperti dikatakan Bono
(1964) “teknologi telah mempercepat banyak hal sehingga gagasan atau fikiran
mungkin harus diubah dalam satu generasi, dari pada antara beberapa generasi.
Namun,kebudayaan dan kependidikan kita senantiasa berkepentingan dengan
pembuatan gagasan-gagasan, dan bukan dengan usaha untuk mengubahnya”.
Sesungguhnya kita hidup dalam suatau abad yang ditandai dengan ketidak pastian
dan ketidaksinambungan (lihat Drucker, 1969), di mana keterampilan yang
didasarkan pada mekanisasi secara berangsur-angsur diganti dengan keterampilan
yang disarankan kepada teknologi informasi dan pengetahuan. Untuk menyiapkan
diri dalam menghadapi peranan baru, pendidikan dan latihan memerlukan suatu
kerangan konseptual yang baru atas mana keputusan-keputusan yang berhubungan
dengan perubahan dan inovasi dapat diambil.
Hakikat
teknologi pendidikan dan latihan
Dalam beberapa tahun saja, telah muncul
dan berkembang teknologi pendidikan dan latihan yang sebenarnya, yang
memberikan kerangka penting untuk merencanakan dan mengorganisasikan sumber-sumber
belajar, dalam rangka mewujudkan tujuan belajar atau tingkat pencapaian tingkah
laku tertentu. Argyris (1964) menyatakan bahwa efektivitas setiap jenis
organisasi tergantung pada kemempuannya untuk mencapai tiga maksud penting yaitu:
1. Untuk
mencapai tujuannya
2. Untuk
mempertahankan dirinya secara internal
3. Untuk
menyesuaikan diri terhadap lingkungan
Teknologi pendidikan berkepentingan dengan
masalah-masalah yang di jumpai dalam konteks pendidikan dan latihan, dengan
ciri digunakan pendekatan sistematik untuk organisasi sumber-sumber belajar.
Walaupun perkembangan teknologi pendidikan tidaj dalam seluruhnya dijelaskan
sebagai munculnyasuatu teori yang baru dalam ilmu pendidikan atau psikologi,
namun benih –benihnya terlihat dngan jelasdalam prinsip-prinsipperkembangan
belajar secara berprogama.
Ø Dua
macam teknologi pendidikan
Istilah “teknologi pendidikan”, yang juga meliputi
teknologi latihan, biasanya mempunyai dua arti yang amat berbeda, tergantung
pada siapa yang membahasnya dan bagai mana konteks perdebatannya. Karena itu
penting dibedaka kedua arti tersebut, yang mana masing-masing mempunyai
asosiasi dan konsekuensi yang berbeda. Lumsdaine (1964) menyarankan bahwa
keduanya dapat dibedakan sebagai teknologi pendidikan(1) dan teknologi
pendidikan(2) sebagai berikut:
1. Teknologi
pendidikan ini pada pokoknya adalah suatu pendekatan perangkat keras (hardware
approach), yang menekankan pentingnya alat bantu mengajar, dan asal-usulnya
terletak dalam aplikasi ilmu fisika kedalam system pendidikan dan latihan.
Konsep ini mendomonasikan ebanyakan leteratur tentang teknologi
pendidikan.
2. Teknologi
pendidikan ini pada dasarnya adalah suatu pendekatan perangkat lunak (software
approach), menunjukan kepada aplikasi prinsip-prinsip belajar untuk pembentukan
tingkah laku yang langsung dan disengaja.
Sistem
belajar
Guru
menggunaka pendekatan klasik ini memang peranannya sebagai seorang penjaga yang
berusaha mencapai tujuannya dengan jalan memberikan motivasi, mengawasi, dan
mengubah tingkah laku murid melalui beberapa teknik mengajar dan biasanya
menggunakan kapur dan percakapan. Pendekatnnya adalah terpusat pada tugas.
1. Teknologi
pendidikan adalah aplikasi prinsip-prinsip teknologi dewasa ini dalam teori dan
pelaksanakan pendidikan sehingga memungkinkan guru-guru untuk meningkatkan
efektivitasnya secara menyeluruh, dan membantu mereka untuk berhubungan dengan
murid yang menjadi semakin banyak jumlahnya.
2. Menunjuk
kepada aplikasi prinsip-prinsip ilmu tingkah laku saat ini terhadap teori dan
pelaksanaan pendidikan sehingga dapat menjamin bahwa bahan-bahan belajar adalah
menyenangkan, memberikan ganjaran dan hasil.
Teori
mengajar
Teknologi pendidikan yang mengkombinasikan
pendekatan perangkat keras dan perangkat lunak dari dua mecam teknologi
lainnya, merupakan suatu jembatan antara teori dan praktik pendidikan.
Akibatnya, terdapat suatupermulaan timbulnya suaru teori umum mengajar, suatu
pedoman untuk ilmu memdidik, sehingga kita tidak lagi menjadi terlalu
tergantung pada suatu teori belajar. Tentu setiap teori tingkah laku yang
memadahi harus sanggup digunakan untuk mengajar dan belajar, apa bila mengajar
dianggap sebagai “dependent variable” atau kondisi yang tidak dimanipulasikan.
Sebagai suatu
rangkaian startegi yang harus diambil dan dilaksanakan oleh guru dan
instruktur. Perubahan yang amat sederhana dan amat jelas dalam pendekatan
tersebut mungkin guru berhubungan dengan keseluruhan kelasyang sampai sekarang
diabaikan oleh para ahli teori belajar, dan juga memungkinkan adanya suatu ilmu
atau sains dan seni tentang mengajar dengan menggunakan prinsip-prinsip
teknologi.
Guru dilihat sebagai pengelola sumber belajar,
berperan untuk memilih atau memutuskan diantara berbagai stategi mengajar dan
belajar, teknologi pendidikan memberikan kerangka konseptual yang perlu untuk
pendekatan baru ini, dan membantu memecahkan masalah-masalah yang berasal dari
kebutuhan-kebutuhan system pendidikan dan latihan untuk mempertahankan,
menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan untuk menyesuaikan dan mengelola pengetahuan.
MEDIA
Pemilihan
media
Dalam metodologi mengajarkan ada dua aspek yang
paling menonjol yakni metode mengajar dan media pendidikan sebagai alat bantu
mengajar. Sedangkan penilaian adalan alat untuk mengakat atau menentukan tariff
tercapai tidaknya tujuan pelajaran.
Ada
beberapa jenis media pendidikan yang bias digunakan dalam proses pengajaran.
1. Media
grafis seperti gambar, foto, grafik, bagian atau diagram, poster dan kartun.
Yakni media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar.
2. Media
tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat (solid model) model
penampang, model susun dan model kerja.
3. Media
proyeksi seperi slide, film, dan penggunaan OHP.
4. Penggunaan
lingkungan sebagai media pendidikan.
Factor-faktor
yang perlu dipertimbangakn terhadap pemilihan media pendidikan
1. Relevansi
pengadaan media pendidikan edukatif
2. Kelayakan
pengadan media pendidikan edukatif
3. Kemudahan
pengadaan media pendidkan edukatif
Berdasarkan ketiga factor tersebut, maka dalam
memberikan prioritas pengadaan media pendidikan perlu diadakan pengukuran untuk
ketiga factor tersebutsesuai dengan jenis dan jenjang pendidikan di sekolah.
Pemilihan
sekaligus pemanfaatan media perlu memperbaiki kriteria sebagai berikur:
1. Tujuan
yaitu: media hendaknya menunjang tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.
2. Keterpaduan
yaitu: tepat dan berguna bagi pemahaman bahan yang dipelajari.
3. Keadaan
peserta didik yaitu: kemampuan daya piker dan daya tangkap peserta didik dan
besar kecilnya kelemanan peserta didik perlu dipertimbangkan.
4. Ketersediaan
yaitu: pemilihan perlu memperhatikan ada/ tidak media tersedia diperpustakanan/
disekolah serta mudah sulitnya diperoleh.
5. Mutu
teknis yaitu: media harus memiliki kejelasan dan kualitas yang baik.
6. Biaya,
hal ini merupakan pertimbangan bahwa biaya yang dikeluarkan apakah seimbang
dengan hasil yang dicapai serta ada kesesuaian atau tidak.
Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pendidikan
untuk mempertinggi kualitas pengajaran:
1. Guru
perlu memiliki pemahaman media pendidikan antara lain jenis dan manfaat media
pendidikan.
2. Siswa,
guru terampil membuat media pendidikan. Sederhana untuk keperluan pengajaran,
terutama media dan dimensi atau media.
3. Garfish,
dan beberapa media tiga dimensi, dan media proyeksi,pengetahuan dan
keterampilan dalam melalui keefektifan penggunaan media dalam proses
pengajaran.
Dalam
hubungannya dengan penggunaan media pada waktu berlangsung pelajaran
setidak-tidaknya digunakan guru pada situasi sebagai berikut:
1. Bahan
pengajaran yang dijelaskan guru kurang dipahami siswa.
2. Terbatasnya
sumber pengajaran.
3. Guru
tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pengajaran melalui penuturan kata-kata
(verbal) akibat terlalu lelah disebabkan telah mengajar cukup lama.
4. Perhatia
siswa terhadap pengajaran sedah berkurang akibat kebosanan mendengarkan uraian
guru.
Daftar
pustaka:
Harjianto.
2003. Perencanaan pengajaran.jakarta. Cv. Rineka cipta
Davies.
Ivor K. 1987. Pengelolaan belajar. Jakarta. Cv. Rajawali









0 komentar:
Posting Komentar