BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sejalan dengan rencana pergantian kurikulum 2013, istilah pendekatan ilmiah atau scientific approach pada pelaksanaan pembelajaran menjadi bahan pembahasan yang menarik perhatianpara pendidik akhir-akhir ini.Yang menjadi latang belakang pentingnya materi ini karena produk pendidikan dasar dan menengah belum menghasilkan lulusan yang mampu berpikir kritis setara dengan kemampuan anak-anak bangsa lain.Didasari bahwa guru-guru perlu memperkuat kemampuannya dalam memfasilitasi siswa agar terlatih berpikir logis, sistematis, dan ilmiah.Tantangan ini memerlukan peningkatan keterampilan guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ilmiah.Scenario untuk memacu keterampilan guru menerapkan stategi ini di Indonesia telah melalui sejarah yang panjang, namun hingga saat ini harapan baik ini belum terwujudkan juga. Balitbang Depdiknas sejak tahun 1979 telah merintis pengenbangan program prestisius ini dalam Proyek Supervisi dan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktiv) di Cianjur, Jawa Barat. Hasil-hasil proyek ini kemudian direplikasikan di sejumlah daerah dan dikembangkan melalui penataran guru ke seluruh Indonesia.Upaya yang dimulai pada tingkat sekolah dasar ini kemudian mendorong penerapan pendekatan belajar aktif di tingkat sekolah menengah. Hasil-hasil upaya ini secara bertahap kemudian diintegrasikan ke dalam Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Kurikulim Berbasis Kompetensi tahun 2004, yang dilanjutkan dengan Standar Isi yang leabih dikenal dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006.Dalam perancangan kurukulum baru, Kemendikbud masih menggunakan latang pemikiran yang menyatakan bahwa secara factual guru-guru belum melaksanakan cara belajar siswa aktif. Kondisi ideal yang diharapkan masih lebih sering menjadi slogan dari pada fakta dalam kelas. Produktivitas pembelajaran untuk menghasilkan siswa yang terampil berpikir pada level tinggi dalam kondisi madek alias kolep. Deskripsi ini merujuk pada hasil tes anak bangsa kita yang dikompetisikan pada tingkat internasional dinyatakan tidak berkembang sejak tujuh tahun lalu.Memang ini kondisi yang sangat memperihatinkan.Ketika kita membicarakan tentang pendidikan, kitaa merasa bahwa kita sedang membicarakan permasalahan yang kompleks dan sangat luas. Mulai dari masalah peserta didik, pendidik/guru, manajemen pendidikan, kurikulum, fasilitas, proses belajat mengajar, dan lain sebaginya. Salah satu masalah yang banyak dihadapi dalam dunia pendidkan kita adalah lemahnya kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan guru di sekolah. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas hanya diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya denagn kehidupan sehari-hari. Akibatnya banyak peserta didik yang ketika lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi.Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dijelaskan bahwa pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Sisdiknas,2003).
Sejalan dengan rencana pergantian kurikulum 2013, istilah pendekatan ilmiah atau scientific approach pada pelaksanaan pembelajaran menjadi bahan pembahasan yang menarik perhatianpara pendidik akhir-akhir ini.Yang menjadi latang belakang pentingnya materi ini karena produk pendidikan dasar dan menengah belum menghasilkan lulusan yang mampu berpikir kritis setara dengan kemampuan anak-anak bangsa lain.Didasari bahwa guru-guru perlu memperkuat kemampuannya dalam memfasilitasi siswa agar terlatih berpikir logis, sistematis, dan ilmiah.Tantangan ini memerlukan peningkatan keterampilan guru melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan ilmiah.Scenario untuk memacu keterampilan guru menerapkan stategi ini di Indonesia telah melalui sejarah yang panjang, namun hingga saat ini harapan baik ini belum terwujudkan juga. Balitbang Depdiknas sejak tahun 1979 telah merintis pengenbangan program prestisius ini dalam Proyek Supervisi dan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktiv) di Cianjur, Jawa Barat. Hasil-hasil proyek ini kemudian direplikasikan di sejumlah daerah dan dikembangkan melalui penataran guru ke seluruh Indonesia.Upaya yang dimulai pada tingkat sekolah dasar ini kemudian mendorong penerapan pendekatan belajar aktif di tingkat sekolah menengah. Hasil-hasil upaya ini secara bertahap kemudian diintegrasikan ke dalam Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Kurikulim Berbasis Kompetensi tahun 2004, yang dilanjutkan dengan Standar Isi yang leabih dikenal dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006.Dalam perancangan kurukulum baru, Kemendikbud masih menggunakan latang pemikiran yang menyatakan bahwa secara factual guru-guru belum melaksanakan cara belajar siswa aktif. Kondisi ideal yang diharapkan masih lebih sering menjadi slogan dari pada fakta dalam kelas. Produktivitas pembelajaran untuk menghasilkan siswa yang terampil berpikir pada level tinggi dalam kondisi madek alias kolep. Deskripsi ini merujuk pada hasil tes anak bangsa kita yang dikompetisikan pada tingkat internasional dinyatakan tidak berkembang sejak tujuh tahun lalu.Memang ini kondisi yang sangat memperihatinkan.Ketika kita membicarakan tentang pendidikan, kitaa merasa bahwa kita sedang membicarakan permasalahan yang kompleks dan sangat luas. Mulai dari masalah peserta didik, pendidik/guru, manajemen pendidikan, kurikulum, fasilitas, proses belajat mengajar, dan lain sebaginya. Salah satu masalah yang banyak dihadapi dalam dunia pendidkan kita adalah lemahnya kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan guru di sekolah. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas hanya diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya denagn kehidupan sehari-hari. Akibatnya banyak peserta didik yang ketika lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi.Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dijelaskan bahwa pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (UU Sisdiknas,2003).
B. RUMUSAN MASALAH
BAB II
PEMBAHASAAN
A. PENEGRTIAN PENDEKATAN SCIENTIFIC LEARNING
Pendekatan
adalah konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari
pemikiran tentang bagaimana metode pembelajaran diterapkan berdasarkan teori
tertentu. Oleh karena itu banyak pandangan yang menyatakan bahwa pendekatan
sama artinya dengan metode. Pendekatan ilmiah berarti dasar yang menginspirasi
atau melatar belakangi perumusan metode mengajar dengan menerapkan
karakteristik yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran ilmiah (scientific teaching) merupakan bagian dari
pendekatan pedagogis pada pelaksanaan pembelajaran dalam kelas yang melandasi
penerapan metode ilmiah.
Pengertian
penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya focus pada bagaimana
mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen. Namun
bagaimana mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat
mendukung aktivitas kreatif dalam berinivasi atau berkarya.Menurut
majalah Forum Keijakan Ilmiah yang terbit di Amerika pada tahun 2004
sebagaimana dikutip Wikipedia menyatakan bahwa pembelajaran ilmiah mencangkup
strategi pembelajaran siswa aktif yang mengintegrasikan siswa dalam proses
berpikir dan penggunaan metode yang teruji secara ilmiah sehingga dapat
membedakan kemampuan siswa yang bervariasi, penerapan metode ilmiah dapat
membantu guru mengidentifikasi perbedaan kemampuan siswa. Pada penerbitan
berikutnya pada tahun 2007 dinyatakan bahwa penerapan pendekatan scientific
dalam pembelajaran harus meliputi tiga prinsip utama, yaitu:1. belajar siswa aktif, dalam hal ini termasuk inquairy-based learning atau
belajar berbasis penelitian, cooperative learning atau belajar kelompok dan
belajar berpusat pada siswa.
2.Assessment berarti pengukuran kemajuan belajar siswa yang dibandingkan
dengan target pencapaian tujuan belajar.
3. Keberagaman mengandung makna bahwa dalam pendekatan ilmiah mengembangkan
pendekatan kerahgaman.pendekatan ini membawa konsekuensi siswa unik. Kelompok
siswa unik termasuk keunikan dari kompetensi materi, instruktur, pendekatan dan
metode mengajar serta konteks.
Metode
Ilmiah merupakan teknik merumuskan pertanyaan dan menjawabnya melalui kegiatan
observasi dan meleksanakan percobaan. Dalam penerapan metode ilmiah terdapat
aktivitas yang dapat diobservasi seperti mengamati, menanya,mengolah, menalar,
menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Pelaksanaan metode ilmiah disusun dalam
tujuh langkah berikut:1.
Merumuskan pertanyaan
2. Merumuskan latar belakang penelitian
3.
Merumuskan hipotesis
4. Menguji hipotesis melalui percobaan
5.
Menganalisis hasil penelitian dan merumuskan kesimpulan
6.
Jika hopotisis terbukti benar maka dapat dilanjutkan dengan laporan
7.
Jika hipotesis terbukti tidak benar sebagian maka lakukan pengujian
kembal
Penerpan
metode ilmiah merupakan proses berpikir logis berdasarkan fakta dan teori.Pertanyaan
muncul dari pengetahuan yang telah dikuasai, karena itu kemampuan bertanya
merupakan kemampuan dasar dalam mengeembangkan berpikir ilmiah.Informasi baru
digali untuk menjawab pertanyaan.Oleh karena itu penguasaan teori dalam sebagi
besar untuk menerapkan metode ilmiah.Dengan menguasai teori maka siswa dapat
menyederhanakan penjelasan tentang suatu gejala, memprediksi, memandu perumusan
kerangka pemikiran untuk memahami masalah.Bersamaan dengan itu, teori
menyediakan konsep yang relevan sehingga teori menjadi dasar dan mengarah
perumusan pertannyaanpenelitian.
B. KRITERIA PENDEKATAN SCIENTIFIC (PENDEKATAN ILMIAH)
B. KRITERIA PENDEKATAN SCIENTIFIC (PENDEKATAN ILMIAH)
Lalu
bagaimana kriteria sebuah pendekatan pembelajaran sehingga dapat dikatakan
sebagian pendekatan ilmiah atau pendekatan scientific? Berikut ini tujuh (7) kriteria sebuah pendekatan
pembelajaran dapat dikatakan sebagai pembelajaran scientific yaitu:
1. Materi pembelajaran
berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau
penalaran tertentu; bukan sebatas kita-kira, khayalan, legenda, atau dongeng
semata.
2. Penjelasan guru, respon
siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa berbasis dari prasangka yang
serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alaur
berpikir logis.
3. Mendorong dan
menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analisis, dan tepat dalam
mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi
pembelajaran.
4. Mendorong dan menginspirasi siswa maupun berpikir hipotetik
dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi
pembelajaran.
5. Mendorong dan
menginspirasi siswa maupun memahami, memerapkan, dan mengembangkan pola piker
yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
6. Berbasis pada konsep,
teori dan fakta empiris yang dapat di pertanggung jawabkan.
7. Tujuan pembelajaran
dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik system penyajiannya
Proses pembelajaran yang
mengimplementasikan pendekatan scientificakanmenyentuh
tiga ranah, yaitu: sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan
(psikomotor). Dengan proses pembelajaran yang demikian maka diharapkan hasil
belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif
melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi.
Adapun
penjelasan dari diagram pendekatan pembelajaran scientific (pendekatan ilmiah dengan menyentuh ketiga ranah
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.
Ranah sikap menggamit
transformasi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa”.
2.
Ranah keterampilan
menggamit transformasi subtansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu
bagaimana”.
3.
Ranah pengetahuan
menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu
apa”.
Hasil akhirnya adalah peningkatan dan
kesimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusian yang baik (soft skills) dan
manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard
skills) dari peserta didik yang meliputi aspek
kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kurikulum 2013
menekankan pada dimensi pedagogic modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan
pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran dimaksud meliputu,
mengamati, menanya, menalar, emcoba, membentuk jejaring untuk semua mata
pelajaran.
C. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN SCEINTIFIC
Proses pembelajaran pada
Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan
ilmiah (scientific). Langkah-langkah
pendekatan ilmiah (scientific approach)
dalam peroses pembelajaran meliputi: menggali informasi, melalui informasi,
menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar
kemudian menyimpulkan, dan mencipta. Untuk pembelajaran, materi atau sitiuasi
tertentu, sangat mungkin pendektan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan
secara procedural.Pada kondisi seperti ini, tentu saja peroses pembelajaran
harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari
nilai-nilai atau sifat-sifat non ilmiah. Pendekatan scientific dalam
pembelajaran disajikan sebagai berikut:
1.
Mengamati (observasi)Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses
pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan tertentu,
seperti menyajikan media objek secara nyata.Peserta didik senang dan
tertantang, dan mudah pelaksanannya. Metode mengamati sanagat bermanfaat bagi
pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik sehingga proses pembelajaran memiliki
kebermaknaan yang tinggi. Sehingga mengamati dalam pembelajaran sebagaimana
disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81A/2013, hendaklah guru membuka secara
luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melaui
kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi peserta
didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat,
membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek. Ada pun
kompetensi yang diharapkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, dan mencari
informasi.2.
Menanya
Dalam kegiatan mengamati,
guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya
mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu
membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaan: pertanyaan
tentanghasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak berkenaan
dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan
yang bersifat factual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik. Dari
situasi dimana peserta didik dilatih menggunakan pertannyaan dari guru, masih
memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai ketingkat di mana peserta didik mampu
mengajukan pertannyaan secara mandiri. Dari kegiatan kedua dihasilkan sejumlah
pertannyaan, melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa ingin tahu peserta
didik.Semakin terlatih dalam bertanya maka rasa ingin tahu semakin dapat
dikembangkan.Pertannyaan tersebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang
lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai yang
ditentukan peserta didik, dari sumber yang beragam.Kegiatan “menanya” dalam
kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomer 81A
Tahun 2013, adalah menjangkau pertannyaan tentang informasi yang tidak dipahami
dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan
tentang apa yang diamati (dimulai dari pertannyaan factual sampai ke
pertannyaan yang bersifat hipotetik). Adapun kompetensi yang diharapkan dalam
kegiatan ini adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan
merumuskan pertannyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup
cerdas dan belajar sepanjang hayat.
3. Mengumpulkan informasi
Kegiatan “mengumpulkan
informasi” merupakan tindak lanjut dari bertanya. Kegiatan ini dilakukan dengan
menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara.
Untuk itu peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan
fenomena atau objek yang lebih teliti, atau melakukan eksperimen.Dari kegiatan
tersebut terkumpul sejumlah informasi. Dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013,
aktivitas mengumpulkan informasi dilakukan melalui eksperimen, membaca buku
sumber lain selain buku teks, mengamati objek/ kejadian/ aktivitas wawancara
dengan nara sumber dan sebagainya. Adapun kompetensi yang diharapkan adalah
mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lian,
kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui
berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar
sepanjang hayat.4.
Mengasosiasikan/ Mengolah Informasi/ Menalar
Kegiatan “ mengasosiasikan/
mengolah informasi/ menalar” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana
disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013, adalah memproses informasi
yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/
eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.Pengolahan
informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman
sampai pada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagau
sumber yang dimiliki pendapat yang berbeda sampai pada yang bertentangan.Kegiatan
ini dilakukan untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi
lainnya,menemukan pola dari
keterkaitan informasi tersebut.Adapun kompetensi yang diharapkan adalah
mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras,
kemampuan menerpakan prosedur dan kemampuan berpikir indukatif serta dedukatif
dalam menyimpulkan.
Aktivitas ini juga diistilahkan sebagai kegiatan menalar, yaitu proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untukmemperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. Aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau membelajaran asosiatif.Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemampuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-oeristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan pristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia.
5. Menarik kesimpulan
Kegiatan menyimpulkan dalam
pembelajaran dengan pendekatan scientific merupakan
kelanjutan dari kegiatan mengolah data atau informasi.Setelah menemukan
keterkaitan antara informasi dan menemukan berbagai pola dari keterkaitan
tersebut, selanjutnya secra bersama-sama dalam satu kesatuan kelompok, atau
secara individual membuat kesimpulan.
6. Mengkomunikasikan
Pada pendekatan scientific guru diharapkan memberi kesempatan kepada
peserta didik untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. Kegiatan
ini dapat dilakukan melalui penulisan ataupun menceritakan apa yang ditemukan
dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil
tersebut disampaikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar
peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut. Kegiatan
“mengkomunikasikan” dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam
Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013, adalah menyampaikan hasil pengamatan,
kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media
lainnya.
Adapun kompetensi yang diharapkan
dalam kegiatan ini adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan
berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan
mengembngkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar. KelebihanØ Membiasakan siswa untuk belajar mandiri dalam memecahkan
sesuatu masalahØ Menciptakan kreativitas
siswa untuk belajar sehingga tercipta suasana kelas yang lebih nyaman dan
kreatifØ Kerjasama sesama siswa dan
siswa terlibat langsung dalam melakukan kegiatanØ Menciptakan belajar yang
lebih bermakna karena timbulnya kebanggaan siswa menemukan sendiri konsep
ilmiah yang dipelajariØ Guru mengajar lebih efektif
karena dapat menciptakan suasana belajar yang aktifKekuranganØ Sarana prasarana harus lengkapSiswa yang belum terbiasa belajar mandiri atau
kelompok akan merasa asing dan sulit untuk menguasai konsep
3. Mengumpulkan informasi
Aktivitas ini juga diistilahkan sebagai kegiatan menalar, yaitu proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untukmemperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. Aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau membelajaran asosiatif.Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemampuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-oeristiwa khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan pristiwa lain. Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia.
5. Menarik kesimpulan
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
1. Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan
dengan menggunakan pendektan scientific. Proses
pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap, pengetahuan, dan
keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah
sikapmenggamit transformasi substansi atau materi ajar mengajar peserta didik
tahu tentang “mengapa”. Ranah keterampilan mengamit transformasi subtansi atau
materi ajar agar peserta didk tahu tentang “bagaimana”. Ranah pengetahuan
mengamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu “apa”.
Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk
menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan
pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang
meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan.2.
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi modern dalam pembelajaran, yaitu
menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah scientific
approach dalam pembelajaran semua mata pelajaran meliputimenggali informasi
melalui pengamatan, bertanya, mencoba, kemudian mengelola data atau informasi,
menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar,
emudian menyimpulkan, dan mencipta. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi
tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan
secara procedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran
harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari
nilai-nilai atau sifat-sifat non ilmiah...
B. SARAN
B. SARAN
Dalam
pembuatan makalah ini mungkin masih terdapat beberapa kesalahan baik dari isi
dan cara penulisan. Kritik beserta saran kami harapkan agar dapat menambah
wawasan untuk memperbaiki penulisan makalah kami.
DAFTAR PUSTAKA
http://solikhaton.blogspot.com/2014/06/contoh-makalah-pendekatan-scientific.html
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/07/pendekatan-scientific-dalam-implementasi-kurikulum-2013.html
http://ruangkreasikita.blogspot.com/2014/03/kurikulum-2013-langkah-langkah-umum.html
Badan pengembangan sumber daya manusia pendidikan dan kebudayaan dan penjaminan mutu pendidikan-kementrian pendidikan dan kebudayaan.
DAFTAR PUSTAKA
http://solikhaton.blogspot.com/2014/06/contoh-makalah-pendekatan-scientific.html
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2013/07/pendekatan-scientific-dalam-implementasi-kurikulum-2013.html
http://ruangkreasikita.blogspot.com/2014/03/kurikulum-2013-langkah-langkah-umum.html
Badan pengembangan sumber daya manusia pendidikan dan kebudayaan dan penjaminan mutu pendidikan-kementrian pendidikan dan kebudayaan.









0 komentar:
Posting Komentar