JUDUL:
PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW UNTUK
PENINGKATAN
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA SMP
PENULIS:
M.
A. Hertiavi , H. Langlang , S. Khanafiyah
PENDAHULUAN:
Dalam
pendidikan terdapat paradigma lama yaitu proses pembelajaran berjalan satu arah
saja dan didominasi oleh guru. Kesalahan guru dalam memilih strategi
pembelajaran dapat menyebabkan siswa kurang tertarik pada pembelajaran sehingga
berdampak pada berkurangnya motivasi dan keaktifan siswa selama proses belajar
mengajar. Hal tersebut juga akan menyebabkan hasil belajar siswa yang tidak
maksimal. Hasil wawancara dengan salah seorang guru fisika menyatakan bahwa
nilai rata-rata ulangan harian siswa hasilnya kurang memuaskan. Tidak
maksimalnya hasil belajar siswa tersebut disebabkan oleh rendahnya kemampuan
pemecahan masalah siswa. Kemampuan pemecahan masalah berarti kecakapan
menerapkan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya ke dalam situasi yang belum
dikenal. Kemampuan memecahkan masalah sangat dibutuhkan oleh siswa. Karena pada
dasarnya siswa dituntut untuk berusaha sendiri mencari pemecahan masalah serta pengetahuan
yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Konsekuensinya
adalah siswa akan mampu menyelesaikan masalah-masalah serupa ataupun berbeda
dengan baik karena siswa mendapat pengalaman konkret dari masalah yang
terdahulu (Trianto, 2007). Memecahkan suatu masalah merupakan aktivitas dasar
bagi manusia karena dalam menjalani kehidupan manusia pasti akan berhadapan
dengan masalah. Apabila suatu cara atau strategi gagal untuk menyelesaikan
sebuah masalah maka hendaknya dicoba dengan cara yang lain untuk
menyelesaikannya. Suatu pertanyaan merupakan masalah apabila seseorang tidak
mempunyai aturan atau hukum tertentu yang dengan segera dapat digunakan untuk
menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut. Mengajar siswa untuk menyelesaikan
masalah memungkinkan siswa untuk menjadi lebih analitis dalam mengambil
keputusan di dalam kehidupan. Dengan kata lain bila seorang siswa dilatih untuk
menyelesaikan masalah siswa itu mampu mengambil keputusan sebab siswa itu
menjadi
mempunyai
keterampilan tentang untuk mengumpulkan informasi yang relevan, menganalisis
informasi, dan menyadari betapa perlunya meneliti kembali hasil yang telah
diperoleh. Menurut teori belajar yang dikemukakan Gagne dalam Suyitno (2004: 8)
menyebutkan bahwa keterampilan intelektual yang tinggi yang termasuk didalamnya
yaitu penalaran matematis dapat dilatih dan dikembangkan melalui pemecahan
masalah atau problem solving. Menurut Suyitno (2004: 8) pertanyaan disebut
sebagai problem bagi siswa jika memenuhi syarat-syarat adalah siswa memiliki
pengetahuan
TUJUAN:
Agar
para pembaca mengetahui atau menguasai materi yang penulis sampaikan.
Penelitian
ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian yaitu siswa kelas
VII A SMP Negeri 38 Semarang tahun ajaran 2008/2009 yang berjumlah 38 siswa.
Penelitian ini difokuskan pada proses penerapan model pembelajaran kooperatif
tipe Jigsaw, kinerja guru, aktivitas siswa, dan peningkatan kemampuan pemecahan
masalah siswa dalam menyelesaikan soal. Penelitian tindakan kelas tersebut
terlaksana dalam tiga siklus dengan tiga kali pertemuan dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Masing-masing siklus terdiri dari empat
tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi (Zainal, 2007).
Perencanaan siklus pertama disusun berdasarkan hasil observasi awal yang
menunjukkan kemampuan pemecahan masalah siswa masih rendah. Palaksanaan
kegiatan pada siklus selanjutnya bias dikatakan hampir sama dengan siklus
pertama, tetapi sub pokok bahasannya berbeda. Materi pada siklus I adalah zat
dan wujudnya. Materi pada siklus II adalah adhesi, kohesi, kapilaritas, dan
massa jenis zat. Materi pada siklus III adalah pemuaian Sebelum tahap
perencanaan perlu dilakukan identifikasi permasalahan. Hasil observasi awal di kelas
VII A SMP Negeri 38 Semarang dan wawancara dengan guru mata pelajaran IPA
Fisika menunjukkan kemampuan pemecahan masalah pada kelas tersebut masih
rendah. Setelah merumuskan permasalah yang ada kemudian peneliti merencanakan
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Hal yang perlu dipersiapkan
untuk mengatasi masalah tersebut adalah pembuatan instrumen pembelajaran.
Intrumen tersebut berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
tugas
membaca, soal untuk lembar ahli, lembar observasi dan soal evaluasi akhir
siklus. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan sesuai dengan rencana pelaksanaan
pembelajaran yang telah disusun sebelumnya. Materi yang dipelajari berbeda pada
setiap siklusnya. Kegiatan evaluasi dilakukan oleh peneliti dan observer yang
merupakan guru IPA Fisika. Setiap akhir siklus dilaksanakan refleksi dan
evaluasi. Refleksi adalah mengkaji kembali semua kegiatan yang telah dilakukan
pada pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw. Hasil refleksi kemudian digunakan
untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan mencapai sasaran. Hasil
evaluasi digunakan untuk merencanakan perbaikan pada siklus berikutnya. Secara
sistematis penelitian tindakan kelas yang dilakukan seperti pada Gambar 1. Instrumen
penelitian yang digunakan terdiri dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP),
lembar ahli berisi permasalahan-permaalahan yang akan didiskusikan oleh
kelompok ahli, tugas membaca, tes evaluasi akhir siklus, dan lembar observasi.
Instrumen yang diberikan berisi masalah yang kerap dihadapi para siswa.
Soal-soal tersebut berupa soal uraian. Sebelum alat evaluasi digunakan,
dilakukan uji coba terlebih dahulu untuk memperoleh butir soal yang baik dan
data yang akurat. Dari hasil tes uji coba, dihitung validitas, reliabilitas,
tingkat kesukaran, dan daya pembeda dari
masing-masing
soal, kemudian digunakan untuk mengambil data.










0 komentar:
Posting Komentar